Tuesday, 09 Jun 2026

Rupiah: Harga obat-obatan melonjak akibat rupiah melemah, sebagian masyarakat ‘hanya bisa pasrah’

10 minutes reading
Tuesday, 9 Jun 2026 01:09 6 german11


Pasien COVID-19 yang sembuh menyumbangkan plasma pemulihan di Palang Merah Indonesia di Yogyakarta

Sumber gambar, Universal Images Group via Getty Image

Keterangan gambar, Ilustrasi. Pasien COVID-19 yang sembuh menyumbangkan plasma pemulihan di Palang Merah Indonesia di Yogyakarta

Harga obat-obatan dan produk farmasi naik seiring pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Para pengamat memprediksi melambungnya harga obat ini berdampak efek bola salju pada penanganan dan pelayanan kesehatan masyarakat, termasuk BPJS Kesehatan. Imbasnya pun terasa pada pasien penyakit kronis dengan konsumsi obat rutin.

Tanti, warga Yogyakarta, merasakan kenaikan harga obat saat ini ketika menebus obat jantung dan asma milik ibunya beberapa hari lalu. Ketika memeriksa nota pembayarannya, ia melihat ada perbedaan harga dari pembelian bulan-bulan sebelumnya.

“Cukup terasa. Sebelumnya memang yakin akan ada kenaikan, tapi kaget karena ternyata meleset. Dari yang biasanya Rp4 juta, bulan ini jadi Rp5,1 juta. Ini obat-obatan, periksa, dan juga EKG. Tapi biaya periksanya untuk dua dokter masih sama, obatnya yang naik harganya sampai 20%,” ucap Tanti ketika dihubungi, Minggu (07/06).

Pada awal Juni lalu, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, menyebut potensi kenaikan harga obat-obatan di Indonesia dipengaruhi nilai tukar rupiah yang melemah beberapa waktu terakhir. Untuk itu, kata dia, industri farmasi melakukan penyesuaian harga untuk bisa bertahan.

“Tentu industri farmasi, supaya bisa survive, akan menaikkan harga. Tapi pemerintah berharap kenaikannya jangan terlalu tinggi,” ucap Taruna di hadapan sejumlah wartawan di Jakarta, 2 Juni lalu.



Source link

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA