Sumber gambar, Getty Images
Telah diterbitkan
Waktu membaca: 4 menit
Iran dan Oman menyatakan negosiasi soal pengelolaan lalu lintas Selat Hormuz berjalan ‘positif’ dan memasuki tahap lanjutan. Sejumlah pihak menyebut situasi tersebut menunjukkan harapan pengiriman barang melalui Selat Hormuz dapat lancar kembali.
Dalam beberapa hari terakhir, negosiasi berfokus pada kemungkinan rute baru melalui selat tersebut, yang tanggung jawabnya akan dibagi antara Iran dan Oman.
Namun Iran secara terbuka mencantumkan serangkaian tuntutan, yang menurut mereka, harus dipenuhi Amerika Serikat sebelum pembukaan Selat Hormuz dibuka kembali.
Banyak di antara tuntutan tersebut melampaui sebagian isi Nota Kesepahaman (MoU) antara AS dan Iran, yang disepakati dua negara tersebut 17 Juni lalu.
Apa saja syarat tersebut? Apakah AS mampu memenuhinya?
Sumber gambar, Getty Images
Dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan media massa milik pemerintah Iran, IRIB, negara itu mendesak AS untuk “memperbaiki” perilaku dan memenuhi berbagai tuntutan dari Iran.
Keterangan tersebut dikatakan oleh mantan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran sekaligus penasihat Pemimpin Tertinggi saat ini, Mohammad Bagher Zolghadr,
‘Perbaikan perilaku’ AS yang dimaksud Iran mencakup:
Iran menyebut AS harus berhenti mengancam mereka dan memberikan jaminan bahwa ancaman tersebut tidak akan terulang. Tuntutan ini merupakan tuntutan politik dan keamanan.
Meski gencatan senjata secara implisit mengasumsikan Iran dan AS harus menahan diri, menuntut jaminan tidak ada ancaman di masa depan tampaknya merupakan syarat strategis yang lebih luas ketimbang yang tercantum dalam kesepakatan Juni lalu.
Iran berkeras agar AS menghentikan operasi militer, tidak hanya terhadap Iran tapi juga terhadap sekutu dan kelompok mitra mereka di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak.
Dalam konteks yang sama, MoU antara Iran-AS pada Juni lalu menyebut isu dengan kalimat “Semua front termasuk Lebanon”.
Syarat ini secara spesifik menyebutkan sejumlah negara lain dan secara efektif mengupayakan jaminan keamanan regional yang lebih luas.
Berdasarkan kesepakatan Juni lalu, AS seharusnya mengakhiri blokade dalam waktu 30 hari. Sebagai catatan, syarat tersebut tidak secara langsung terkait dengan keputusan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Syarat ini merujuk pada perang selama 12 hari pada 2025 serta perang terbaru.
Mekanisme kompensasi yang diharapkan Iran akan dibahas sebagai bagian dari kesepakatan akhir setelah kesepakatan Juni lalu. Namun, sekarang Iran secara terbuka mengaitkan kompensasi secara langsung dengan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Jadwal pencabutan sanksi memang sudah diperkirakan akan menjadi bagian dari negosiasi menuju penyelesaian akhir. Oleh karena itu, Iran tidak menyebut hal yang benar-benar baru dalam tuntutan mereka kali ini.
Yang baru, sekali lagi, adalah penegasan bahwa pencabutan sanksi secara eksplisit dikaitkan dengan pembukaan kembali selat tersebut.
Sekali lagi, tuntutan ini bukanl hal baru. Iran sebelumnya telah mengajukan tuntutan terkait pelepasan aset luar negeri yang diblokir oleh AS.
Sumber gambar, Elke Scholiers/Getty Images
Enam syarat tersebut memperluas persyaratan yang harus dipenuhi agar Selat Hormuz dapat dibuka kembali.
Analis Timur Tengah BBC, Sebastian Usher, mengatakan ini menandai pengerasan sikap Iran.
“Ini adalah kondisi yang telah ada sebagai bagian dari kerangka perjanjian MoU, tapi waktu dan mekanisme pelaksanaannya tampak sangat berbeda,” ujarnya.
Usher mengatakan, Iran mungkin merasa memiliki posisi tawar yang lebih kuat karena Selat Hormuz “pada dasarnya masih tertutup”.
Namun, dalam wawancara dengan program Weekend di BBC World Service, Trita Parsi, wakil presiden eksekutif dari Quincy Institute, sebuah lembaga kajian kebijakan luar negeri AS, menyebut dirinya yakin Irantahu bahwa berbagai syarat ini “dilebih-lebihkan”.
Menurut Parsi, kemungkinan besar Iran akan menarik kembali berbagai tuntutan tersebut.
“Apa yang telah dikemukakan di tingkat publik belum tentu tercermin di meja perundingan,” katanya.
Sumber gambar, US Central Command / X
Parsi juga berpendapat bahwa pengajuan berbagai syarat tersebut merupakan taktik negosiasi.
“Bisa jadi mereka hanya mencoba memperpanjang proses ini,” ujarnya.
Parsi berkata, terdapat keyakinan di antara banyak elemen garis keras di Iran bahwa pemerintah mereka menyetujui kesepakatan dengan AS terlalu cepat, Juni lalu.
Kemudian, kesepakatan itu hanya bertahan beberapa hari sebelum serangan balasan kembali terjadi hanya beberapa hari setelah ditandatangani.
Parsi mengatakan, beberapa orang di Iran berpendapat jika negosiasi tersebut diperpanjang—yang selanjutnya akan menaikkan harga minyak dan menyebabkan lebih banyak kesulitan ekonomi global—Presiden AS, Donald Trump mungkin tidak akan begitu cepat memerintahkan serangan terhadap Iran.
Menurut Parsi, ini bukan ‘kesalahan’ yang ingin diulangi Iran lagi.
Namun Parsi tetap memperkirakan bahwa kesepakatan mengenai Selat Hormuz bisa tercapai hanya dalam beberapa hari lagi.
Mereka yang menunggu di kapal di tepi Selat Hormuz atau orang-orang yang mengamati harga minyak dunia pasti berharap analisis Parsi benar.
No Comments