Sumber gambar, Getty Images
Waktu membaca: 7 menit
“Sepak bola Korea Selatan sudah mati.” Kalimat yang terpampang di sebuah spanduk yang melayang di atas kerumunan massa yang marah itu seolah merangkum segalanya.
Para suporter berkumpul di luar Bandara Incheon, Seoul, untuk mengadang tim nasional setibanya mereka di tanah air setelah tersingkir dari Piala Dunia 2026 pada fase grup.
Kemarahan mereka terutama ditujukan kepada satu sosok: pelatih Hong Myung-bo, mantan kapten sekaligus pahlawan sepak bola Korea Selatan. Dia kini dianggap bertanggung jawab atas penampilan tim yang mengecewakan di panggung olahraga terbesar dunia.
Para pendukung Timnas Korea Selatan tidak menyembunyikan kekecewaan itu. Mereka menabuh drum dan meneriakkan slogan, “Hong mundur!”
Sebagian dari mereka bahkan mengikuti Hong hingga ke mobilnya, sementara pendukung lain memberi sambutan hangat kepada para pemain yang berjalan di belakang sang pelatih.
Seorang penggemar sepak bola mengatakan kepada BBC bahwa menjelang Piala Dunia 2026, perhatian publik lebih banyak tertuju pada Hong daripada tim itu sendiri.
Menurutnya, orang-orang terus mengatakan bahwa Hong seharusnya mengundurkan diri.
Penunjukan Hong memang memicu penolakan sejak awal dan menyeret Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) ke dalam kontroversi yang berkepanjangan.
Para pengkritik telah lama menuduh KFA kurang transparan dan tidak adil.
Mereka menilai pelatih dan sosok yang dianggap tokoh penting kerap dipilih karena kedekatan pribadi, bukan melalui proses yang berbasis pada kemampuan. Tuduhan tersebut telah dibantah oleh KFA.
“Inti persoalannya adalah ketidakmampuan KFA,” kata pengamat olahraga, Choi Dong-ho.
Tuduhan dan pertanyaan mengenai tata kelola organisasi itu kembali mencuat setelah Korea Selatan tersingkir lebih cepat dari perkiraan di Piala Dunia kali ini.
Bagi sebagian pihak, momen tersebut menjadi titik evaluasi yang sudah lama tertunda bagi sepak bola Korea Selatan.
Usai kegagalan di Piala Dunia 2026, Hong menyampaikan permintaan maaf dan mengundurkan diri.
Dia mengatakan bahwa tanggung jawab atas kegagalan tersebut “sepenuhnya berada di pundaknya”.
Sementara itu, Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, menyerukan investigasi terhadap persoalan yang terjadi.
“Ketika favoritisme dan kroniisme lebih diutamakan daripada kompetensi dalam memilih seorang pemimpin, hasilnya sudah sangat jelas,” tulis Lee di platform X.
Dia menambahkan bahwa situasi tersebut “tampaknya merupakan akibat dari kegagalan organisasi dan manajemen sumber daya manusia”.
Sumber gambar, Reuters
Hong, saat masih berstatus pemain, berhasil memimpin tim nasional Korea Selatan meraih pencapaian bersejarah, yaitu menempati posisi keempat pada Piala Dunia 2002. Dia lantas menjadi salah satu pesepak bola paling dihormati di negara itu.
Karier kepelatihannya juga diawali dengan catatan yang menjanjikan.
Di bawah asuhannya, Korea Selatan mencapai perempat final Piala Dunia U-20 FIFA pada 2009, sebelum meraih medali perunggu di Olimpiade London 2012.
Namun, ketika dia ditunjuk sebagai pelatih kepala tim nasional pada 2024, gelombang penolakan segera bermunculan.
Ini merupakan periode keduanya memimpin tim nasional, dan banyak suporter masih menyalahkannya atas kegagalan Korea Selatan di Piala Dunia 2014.
Saat itu, Korea Selatan kalah telak 4-2 dari Aljazair dalam pertandingan yang dikenang banyak penggemar sebagai salah satu penampilan terburuk tim di ajang Piala Dunia—setidaknya hingga kekalahan 1-0 dari Afrika Selatan pada turnamen tahun ini.
Hong sebenarnya tidak diproyeksikan untuk kembali memimpin Korea Selatan kali ini.
Pendahulunya, Jurgen Klinsmann, yang menjabat kurang dari setahun, dipecat setelah tim menorehkan hasil mengecewakan dengan hanya mencapai semifinal Piala Asia 2023.
Sejumlah nama besar dilaporkan masuk dalam daftar pertimbangan, termasuk Jesse Marsch, yang kini melatih tim nasional Kanada dan saat itu dipandang luas sebagai kandidat kuat.
Namun, Hong akhirnya terpilih. Pada saat itu muncul tuduhan bahwa sejumlah petinggi KFA, termasuk ketuanya Chung Mong-gyu—pengusaha Korea Selatan dari keluarga Hyundai—secara pribadi lebih menginginkan Hong.
Bahkan, ada yang menduga salah satu alasannya adalah karena mereka merupakan alumni universitas yang sama.
Kontroversi semakin memanas setelah Park Joo-ho, mantan pemain tim nasional sekaligus anggota komite KFA yang bertugas merekomendasikan pelatih, menuduh proses penunjukan Hong tidak dilakukan sesuai prosedur.
“Tidak ada satu pun yang dijalankan sesuai proses,” kata Park dalam sebuah video di YouTube.
Dia mengklaim para kandidat tidak memperoleh kesempatan yang adil dalam proses seleksi.
KFA membantah tuduhan tersebut. Organisasi itu menegaskan bahwa penunjukan Hong telah dilakukan sesuai prosedur yang berlaku dan memperingatkan bahwa mereka sedang mempertimbangkan langkah hukum terhadap Park.
Meski demikian, tuduhan Park mendapat dukungan dari sebagian suporter dan sejumlah figur ternama sepak bola Korea Selatan.
Salah satu yang menyatakan dukungannya adalah Park Ji-sung, legenda tim nasional Korea Selatan sekaligus mantan gelandang Manchester United.
“Saya rasa masyarakat telah kehilangan kepercayaan terhadap KFA, dan dibutuhkan waktu yang lama bagi asosiasi ini untuk mendapatkan kembali kepercayaan tersebut,” ujarnya kepada media lokal.
“Saya tidak berharap banyak yang akan berubah setelah wawancara ini. Namun, saya merasa setidaknya perlu menyampaikan pandangan saya.”
Sumber gambar, Getty Images
Kemudian, pada akhir 2024, sebuah audit pemerintah menyimpulkan bahwa proses pemecatan Klinsmann dan pengangkatan Hong sama-sama tidak dilakukan secara transparan.
Audit tersebut menemukan bahwa “Direktur Teknik KFA, yang tidak memiliki kewenangan untuk melakukannya, mewawancarai Hong atas instruksi presiden KFA (Chung) tanpa proses yang adil dan transparan.”
Audit itu juga menyebut bahwa Hong “pada praktiknya telah dipilih sebelum usulan pengangkatannya diajukan kepada dewan,” yang kemudian hanya diminta memberikan persetujuan secara tertulis, sehingga peran mereka tidak lebih dari sekadar formalitas.
Parlemen Korea Selatan memanggil Chung untuk dimintai keterangan sebanyak dua kali pada 2024.
Dalam salah satu sidang, Bae Hyun-jin, anggota parlemen dari partai yang berkuasa saat itu, menanyakan kepada Chung mengenai “rumor” bahwa di dalam KFA terdapat “kartel yang dibangun berdasarkan jaringan alumni dari universitas tertentu.”
Pemerintah kemudian merekomendasikan tindakan disipliner terhadap tiga eksekutif KFA, termasuk Chung, serta mendesak organisasi tersebut menindaklanjuti temuan audit.
Langkah itu bisa mencakup pengulangan proses pencarian dan penunjukan pelatih kepala tim nasional.
Namun, KFA menentang keputusan tersebut dan berhasil memperoleh penangguhan pelaksanaannya melalui jalur hukum.
Dengan demikian, Chung tetap dapat mempertahankan posisinya sebagai ketua KFA.
Tahun berikutnya, Chung memulai masa jabatan keempatnya secara beruntun.
Sementara itu, Hong tetap memimpin tim di tengah keraguan dan kritik yang terus membayangi menjelang Piala Dunia.
Para pendukung sempat larut dalam euforia ketika Korea Selatan memenangkan pertandingan pembuka mereka untuk pertama kalinya dalam empat edisi Piala Dunia terakhir.
Tim berhasil bangkit dari ketertinggalan untuk mengalahkan Republik Ceko dengan skor 2-1.
Namun setelah itu, hasil mengecewakan mulai berdatangan. Korea Selatan kalah dengan penampilan yang kurang meyakinkan saat menghadapi Meksiko, lalu kembali tumbang dari Afrika Selatan.
Dalam pertandingan melawan Afrika Selatan, tim dinilai terlalu bertahan sepanjang laga, bahkan setelah kebobolan.
Para pengamat dan suporter menilai kekalahan tersebut disebabkan oleh minimnya strategi taktis.
Yang paling mengejutkan adalah keputusan untuk tidak menurunkan kapten sekaligus bintang terbesar tim, Son Heung-min, dalam susunan pemain inti.
Keputusan itu memicu spekulasi mengenai penilaian taktis Hong, bahkan tentang hubungannya dengan pemain yang sangat dicintai publik Korea Selatan tersebut.
Hong kerap dianggap menjaga jarak dengan Son, yang merupakan pemain Asia pertama yang meraih Sepatu Emas Liga Primer Inggris, sehingga membuat para penggemar sang penyerang frustrasi.
Ia pernah mencoret Son dari skuad Olimpiade 2012 sebelum kemudian membawanya ke Piala Dunia 2014. Menjelang Piala Dunia kali ini, Hong juga memicu kontroversi setelah mengisyaratkan kemungkinan menunjuk kapten baru.
“Hong tidak tahu bagaimana memaksimalkan kemampuan Son,” kata Choi.
Ia menambahkan bahwa sang kapten sering dibiarkan sendirian di lini depan dengan dukungan yang terlalu minim untuk memberikan pengaruh besar dalam permainan.
“Alih-alih mengubah taktik atau gaya bermain tim, Hong hanya berusaha menyelesaikan masalah dengan mengganti pemain.”
Ketika Korea Selatan tersingkir dari turnamen, gelombang kritik terhadap Hong dan Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA) pun kembali menguat.
Sumber gambar, Getty Images
Bagi banyak pendukung, hasil tersebut terasa semakin menyakitkan mengingat kualitas skuad Korea Selatan yang sebenarnya sangat mumpuni.
Tim ini diperkuat oleh Son Heung-min, mantan kapten Tottenham Hotspur, gelandang Paris Saint-Germain Lee Kang-in, dan bek Bayern Munich Kim Min-jae, serta sejumlah pemain lain yang berkarier di liga-liga top dunia.
“Saya tidak tahu harus mulai dari mana,” tulis Son melalui Instagram pada Selasa, seraya meminta maaf kepada para pendukung.
“Sejujurnya, sulit menerima kenyataan ini… Saya yakin apa yang dirasakan para penggemar tidak jauh berbeda dengan apa yang saya rasakan.”
Kecintaan Korea Selatan terhadap sepak bola mencapai puncaknya pada 2002, ketika negara itu menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia dengan Jepang.
Perjalanan luar biasa tim hingga mencapai semifinal memukau jutaan orang, yang turun ke jalan untuk memberikan dukungan dan mengangkat semangat bangsa yang saat itu masih berupaya bangkit dari krisis keuangan Asia.
Namun, sejak saat itu Jepang melaju jauh lebih cepat.
Setelah tersingkir dari Piala Dunia, Korea Selatan turun ke peringkat ke-32 dalam ranking FIFA—posisi terendahnya dalam empat tahun terakhir.
Sebaliknya, Jepang naik ke peringkat ke-17 dan menjadi tim Asia dengan peringkat tertinggi.
Kedua negara telah lama menjadi rival. Namun kali ini, banyak pendukung Korea Selatan justru tidak begitu yakin tim mereka mampu bersaing dengan Jepang.
Sebagian suporter bahkan menyindir tim nasional mereka sendiri saat Jepang memiliki peluang besar mencapai perempat final jika bertemu Korea Selatan di babak 16 besar.
“Itu baik sekali dari mereka karena menganggap Korea Selatan akan lolos ke fase gugur,” tulis seorang penggemar di media sosial.
“Tim nasional Jepang tampaknya telah menemukan jawaban yang jelas mengenai tujuan mendasar yang ingin dicapai,” ujar pengamat olahraga Choi.
Menurutnya, Jepang berhasil membangun kerja sama tim yang kuat melalui proses panjang dan berkesinambungan.
“Sebaliknya, Korea Selatan terasa seperti selalu memulai dari nol setiap empat tahun sekali,” tambahnya, seraya menyoroti lebih dari 10 pelatih yang silih berganti menangani tim sejak 2002.
Menurut Choi, kondisi tersebut membuat tim nasional kesulitan membangun pengalaman dan mengembangkan strategi jangka panjang yang konsisten.
“Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA) gagal membangun identitas sepak bola yang jelas dan berakar pada filosofi jangka panjang,” katanya.
Banyak penggemar, termasuk Presiden Lee, tampaknya sepakat bahwa KFA membutuhkan reformasi besar-besaran.
Seorang suporter yang enggan disebutkan namanya mengatakan dia berharap gelombang kritik saat ini dapat menjadi pemicu perubahan tersebut, karena itulah yang diinginkan para pendukung: transparansi yang lebih besar dan fokus yang lebih kuat pada strategi jangka panjang.
Menurutnya, generasi muda semakin peka terhadap ketidakadilan karena mereka harus bersaing semakin keras dalam kehidupan sehari-hari.
“Namun sekarang, bahkan di olahraga—tempat prinsip keadilan seharusnya menjadi hal yang paling utama—kita melihat para administrator sepak bola mengabaikan prinsip itu. Masyarakat tidak bisa lagi menerimanya.”
No Comments