Friday, 17 Jul 2026

Persekusi transpuan di Bogor – Apa yang sebenarnya terjadi?

5 minutes reading
Friday, 17 Jul 2026 14:04 1 german11


LGBTQ Indonesia

Sumber gambar, NurPhoto/Getty Images

Keterangan gambar, Ilustrasi. Komunitas LGBTQ melakukan aksi solidaritas di Jakarta, Mei 2015, mendesak penghentian kekerasan komunitas mereka.

Peringatan! Artikel ini memuat deskripsi kekerasan yang mungkin membuat pembaca merasa tidak nyaman.

Video yang menampilkan persekusi terhadap komunitas transpuan di Kota Bogor viral di media sosial sejak Kamis (16/07). Komunitas transpuan di sejumlah daerah kini cemas dan merasa persekusi terhadap mereka “semakin ganas”.

BBC News Indonesia berbicara dengan seorang transpuan yang dipersekusi di Kota Bogor, Jawa Barat. Kami tidak menyebut identitasnya dengan pertimbangan keselamatan.

Transpuan ini berkata, dia menghadapi persekusi dari sekelompok orang sejak awal Juli lalu. Dalam beberapa hari terakhir, kata dia, serangan terhadap dirinya dan komunitasnya di Kota Bogor semakin masif.

Dalam salah satu peristiwa persekusi, transpuan tersebut berusaha melawan orang-orang yang menyerangnya.

“Saya mengalami luka fisik kemarin karena melakukan perlawanan,” ujarnya. “Tangan saya agak bengkak. Saya enggak mau luka sia-sia apalagi dengan ulah mereka yang tidak beradab,” tuturnya.

Serangan terhadap komunitas transpuan di Kota Bogor dalam dua pekan terakhir terjadi setidaknya di tiga lokasi berbeda.

Mereka yang disasar merupakan transpuan yang bekerja sebagai pekerja seks komersial, kata Arisdo Gonzalez, yang mengadvokasi hak-hak komunitas Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender dan Queer (LGBTQ) melalui organisasi Pelangi Nusantara.

LGBTQ Indoensia

Sumber gambar, Universal Images Group/Getty Images

Keterangan gambar, Sekelompok masyarakat di Yogyakarta mendorong perlakuan setara terhadap perempuan dan komunitas LGBTQ, Maret 2023.

Arisdo berkata, persekusi di Kota Bogor menyasar tempat para transpuan pekerja seks menawarkan jasa mereka.

Persekusi ini, menurut Arisdo, semakin masif sejak narasi anti-LGBTQ merebak melalui pemberitaan media massa dan unggahan media sosial.

“Awalnya satu-dua orang, tapi sekarang jumlah pelaku persekusinya semakin banyak—jadi lima sampai 10 orang, bahkan ada yang 20 orang,” kata Arisdo.

“Dulu cuma diteriaki bencong, pelaku enggak berani melakukan persekusi, tapi sekarang lebih ganas.

“Ada pelaku yang melempar air kencing bahkan menelanjangi kawan transpuan. Ada yang dikejar sampai jauh banget,” ujar Arisdo.

Berdasarkan kesaksian yang dia dapat dari komunitas transpuan di Kota Bogor, Arisdo bilang ada pula pelaku persekusi yang memukul memakai botol, melempar balok, dan mengacungkan samurai.

BBC News Indonesia telah meminta konfirmasi dan tanggapan Kapolres Bogor, AKBP Wikha Ardilestanto, terkait persekusi ini. Namun hingga artikel ini dipublikasi, dia belum memberikan tanggapan.

Sementara itu Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, menyebut persekusi terhadap para transpuan itu sebagai perbuatan yang “menghakimi”.

“Kalau itu menghakimi, saya pikir itu takutnya melanggar hukum. Hati-hati saja,” kata Dedie kepada Tribunnews.

“Caranya kan harusnya mungkin pembinaan dari masyarakat, dari para pemuka agama, pendidikan, keluarga, semuanya berperan,” ucapnya.

Seorang transpuan korban persekusi di Kota Bogor menyebut dirinya masih trauma dengan apa yang dihadapinya. “Saat ini pun ada rasa waswas dan takut,” ujarnya.

Bukan hanya di Bogor

Kelompok LGBTQ yang paling rentan mengalami persekusi adalah transpuan pekerja seks komersial di jalanan, kata Arisdo Gonzalez dari Pelangi Nusantara. Alasannya, secara fisik mereka terlihat dan berada di ruang publik.

Namun ironisnya, menurut Arisdo, para transpuan itu juga rentan karena tak memiliki privilese dan perlindungan apapun. Mereka berada di jalanan, kata Arisdo, karena satu-satunya cara mereka mendapatkan penghasilan adalah dengan menjajakan seks secara komersial.

“Aku pernah ke pangkalan mereka dan bertanya mereka dapat penghasilan berapa. Salah satu dari mereka bilang, Rp20.000.

“Sesulit itu mereka mencari uang dan kini mereka jadi target persekusi. Aku sangat-sangat prihatin,” ujar Arisdo.

Seorang transpuan di Kota Bogor berkata bahwa dia dipersekusi, 15 Juli lalu. Saat itu, kata dia, terdapat setidaknya 20 orang yang menyerang dan mengejarnya.

“Kami semua ingin aman, tidak diganggu. Teman-teman kan memang cari rezekinya di lokasi kejadian itu,” ujarnya.

“Saya harap aparat kepolisian rutin patroli di tempat-tempat itu,” kata transpuan tersebut.

Dalam Pasal 6 perda itu, komunitas LGBTQ disebut sebagai “perilaku atau aktivitas seksual menyimpang”.

LGBTQ

Sumber gambar, Antara Foto/Fitra Yogi

Keterangan gambar, Kelompok warga, Bundo Kanduang, membawa spanduk saat deklarasi anti-LGBTQ di Padang, Sumatra Barat, Minggu (21/06).

Bukan hanya di Kota Bogor, Arisdo menyebut komunitas transpuan di sejumlah kota lainnya saat ini juga cemas menjadi korban persekusi.

“Di Jawa Barat cukup ada risiko tinggi dan juga di kota seperti Padang,” kata Arisdo.

Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, 12 Juli lalu, melontarkan ancaman terkait komunitas LGBTQ. Para aparatur sipil negara yang menjadi bagian dari komunitas tersebut, kata Erwan, akan dipecat.

“Sudah saya sampaikan beberapa kali bahwa kami Pemerintah Provinsi Jabar memerangi yang namanya LGBT di wilayah Jabar,” kata Erwan.

Melalui deklarasi itu, tiga pihak tadi menyatakan ingin “menyetop normalisasi LBGTQ”. Melalui deklarasi itu muncul pula ancaman hukum adat dan pengusiran terhadap komunitas LGBTQ.

Arisdo khawatir para transpuan pekerja seks komersial akan menjadi target utama dan yang menanggung dampak paling berat.

“Kalau enggak mangkal, mereka mau makan pakai apa? Mau transfer uang ke keluarganya pakai apa?” kata Arisdo.

Siapa yang mengunggah video persekusi di Bogor?

Video persekusi yang viral dan diberitakan ulang oleh berbagai media massa itu diunggah pertama kali oleh akun @bogorbersihlgbt.

Pada Jumat (17/07) pagi, akun itu masih bisa dilihat publik. Namun saat ini akun di platform Instagram itu tak bisa dilagi diakses.

Menurut penelusuran di sejumlah media sosial, akun itu melakukan siaran langsung saat persekusi terjadi.

BBC News Indonesia memilih untuk tidak menampilkan dan mendeskripsikan kata-kata para pelaku dan komentar yang muncul karena memuat kekerasan.



Source link

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA