Sumber gambar, Gallo Images via Getty
Telah diterbitkan
Waktu membaca: 6 menit
Iran telah menutup Selat Hormuz sehingga kapal-kapal tanker dan kargo tidak bisa keluar dari Teluk Persia. Namun sekutu utama Iran di Timur Tengah menebar ancaman terbaru di sisi lain Semenanjung Arab.
Houthi, kelompok pemberontak yang didukung Teheran dan menguasai Yaman utara, telah mengumumkan “embargo maritim” terhadap sekutu Amerika Serikat, Arab Saudi, di Selat Bab al-Mandab.
Selat itu merupakan jalur perairan penting yang menghubungkan Teluk Aden dan Laut Merah, menuju Terusan Suez—yang dilalui sekitar 12% kapal pengangkut minyak dunia melalui laut.
Pada Senin, 20 Juli 2026, juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, mengatakan embargo itu merupakan pembalasan atas blokade Arab Saudi terhadap pelabuhan dan bandara di wilayah yang dikuasai Houthi.
Sebagai tanggapan, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengecam tuduhan tersebut dan berjanji bahwa negara itu “akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi kapal-kapalnya sesuai dengan hukum internasional”.
Yaman telah porak poranda akibat perang saudara yang dimulai pada 2014, ketika Houthi menggulingkan pemerintahan di Sanaa.
Konflik meningkat pada 2015 setelah koalisi negara-negara Arab yang dipimpin Arab Saudi melakukan intervensi dalam upaya memulihkan kekuasaan pemerintah.
Pertempuran tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 150.000 orang dan memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Lebih dari 22 juta orang membutuhkan berbagai bentuk bantuan, menurut PBB.
Namun, dapatkah Houthi benar-benar menutup Selat Bab al-Mandab bagi kapal-kapal Arab Saudi?

Farea al-Muslimi, pakar Timur Tengah dari lembaga Chatham House yang berbasis di London, mengatakan kepada BBC News World Service bahwa kelompok Houthi memiliki kemampuan militer untuk menyebabkan gangguan.
“Houthi memiliki ranjau dan telah mengembangkan kemampuan drone maritim mereka dalam beberapa tahun terakhir,” katanya.
Houthi, lanjutnya, dapat menimbulkan masalah tanpa menerapkan blokade penuh.
“Yang perlu mereka lakukan hanyalah menyerang satu target,” kata Muslimi kepada BBC News World Service.
“Meskipun simbolis, hal itu akan menciptakan kepanikan yang diperlukan di kalangan perusahaan asuransi, perusahaan pelayaran, dan pemasok minyak. Itu sudah menimbulkan kerusakan yang lebih besar daripada yang mungkin diperkirakan orang.
“Strategi Iran setelah perang adalah membuat sekutu regional Amerika Serikat berdarah. Mereka berusaha menyeret semua pihak ke dalam konflik.”
Iran sebelumnya telah mengancam akan “membuka front lain”.
Pakar urusan Yaman, Anwat al-Ansi, setuju bahwa Houthi menjalankan kepentingan Teheran dalam menyeret Arab Saudi ke dalam konflik.
“Iran menginginkan eskalasi ini karena hanya itu pilihan yang dimilikinya sekarang. Arab Saudi telah menghindari keterlibatan dengan Teheran, tetapi kini mereka harus bertindak untuk mempertahankan kepentingannya jika Houthi benar-benar menyerang,” kata Ansi kepada BBC News World Service.
Selat Bab al-Mandab terletak di antara Yaman di sisi Arab Laut Merah dan Djibouti serta Eritrea di sisi Afrika.
Lalu lintas maritim yang datang dari Samudra Hindia dan Teluk Aden harus melalui selat tersebut untuk dapat mengakses Terusan Suez.
Dengan panjang 115 km dan lebar 36 km, selat ini menjadi penghubung yang sangat penting dalam perdagangan global ketika Terusan Suez dibuka pada 1869 sehingga menciptakan rute laut terpendek antara Eropa dan Asia.
Koridor Laut Merah kini merupakan salah satu yang tersibuk di dunia, dan sekitar seperempat lalu lintas maritim dunia melaluinya.
Selat Hormuz, yang sudah praktis ditutup akibat perang, dilalui 20% kapal-kapal pengangkut minyak dunia. Adapun penutupan Selat Bab al-Mandab akan mengganggu 12% kapal-kapal pengangkut minyak dunia.
Menurut US Energy Information Administration, sekitar lima juta barel minyak setiap hari yang berasal dari negara-negara Timur Tengah dan Asia serta ditujukan ke Barat melewati selat tersebut.
Selain itu, 8% pengiriman gas alam cair (LNG) global melintasi Selat Bab al -Mandab, menjadikannya jalur vital bagi pasokan energi dunia.
Sejak penutupan Selat Hormuz, Laut Merah menjadi makin penting dalam perdagangan global.
Arab Saudi mulai menggunakan Bab al-Mandab sebagai titik transit bagi aliran minyak Saudi dari Pelabuhan Yanbu.
Riyadh mengirim jutaan barel minyak mentah setiap hari dari ladang-ladang minyak di timurnya ke sana melalui jaringan pipa.
Selat Bab al-Mandab juga menjadi bagian dari jalur perdagangan utama antara Timur dan Barat. Puluhan kapal kargo melintasi perairannya setiap hari.
Sumber gambar, Suez Canal Authority via European Pressphoto Agency
Penutupan di selat tersebut akan menimbulkan dampak serupa dengan peristiwa pada 2021 ketika kapal kargo berbendera Panama, Ever Given, kandas dan memblokir Terusan Suez.
Peristiwa itu menciptakan kemacetan parah dalam rantai pasok global, yang menyebabkan biaya lebih tinggi dan keterlambatan pengiriman minyak serta berbagai macam barang.
Setiap serangan terhadap Selat Bab al-Mandab kemungkinan akan dilakukan oleh Houthi, kelompok politik dan militer di Yaman yang didukung Iran.
Berbicara kepada Reuters dengan syarat anonim, seorang pemimpin Houthi mengatakan kelompok tersebut “siap secara militer” untuk menargetkan Selat Bab al-Mandab demi mendukung Teheran.
Pada 28 Maret, Houthi melancarkan serangan terhadap Israel—aksi pertama mereka dalam perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Israel mengatakan telah menembak jatuh dua rudal yang datang dari Yaman.
Kelompok tersebut menguasai garis pantai Laut Merah di Yaman dan menargetkan Selat Bab al-Mandab selama Perang Gaza.
Houthi menyerang lebih dari 100 kapal komersial dengan rudal dan drone, menenggelamkan dua kapal serta menewaskan empat pelaut.
Sumber gambar, Houthi Military Media via Reuters
Pada November 2023, kelompok itu menggunakan helikopter untuk membajak kapal kargo milik UK yang dioperasikan perusahaan Jepang di Laut Merah.
Meskipun Houthi mengklaim hanya menargetkan kapal yang memiliki hubungan dengan Israel, serangan-serangan itu secara luas digambarkan sebagai tindakan yang tidak pandang bulu, sehingga mendorong sejumlah perusahaan pelayaran dan minyak terbesar di dunia untuk menghentikan pelayaran melalui kawasan tersebut.
Serangan-serangan itu pada akhirnya mereda di tengah klaim Amerika Serikat bahwa Houthi telah menyerah. Sedangkan Houthi mengklaim bahwa justru Amerika Serikat yang mundur. Tetapi para analis khawatir serangan tersebut dapat dimulai kembali.
“Selalu diperkirakan bahwa Houthi di Yaman akan bergabung dalam perang ini jika konflik berkepanjangan,” kata Lyse Doucet, Koresponden Internasional Utama BBC.
Ia menambahkan: “Houthi, yang berpengaruh di barat laut Yaman, sejauh ini belum menggunakan senjata paling ampuh mereka, yaitu kemampuan untuk mengganggu lalu lintas melalui Bab al-Mandab, titik sempit maritim yang menghubungkan Laut Merah dengan jalur perdagangan global.”
Pada 26 Februari, Maritime Administration di bawah Departemen Transportasi Amerika Serikat menyatakan dalam sebuah pemberitahuan:
“Meskipun kelompok teroris Houthi belum menyerang kapal komersial sejak perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Gaza pada Oktober 2025, Houthi tetap menjadi ancaman bagi aset Amerika Serikat, termasuk kapal komersial, di kawasan ini.”
Sumber gambar, Getty Images
Bab al-Mandab berarti “gerbang air mata” atau “gerbang kesedihan” dalam bahasa Arab.
Nama tersebut mencerminkan berbagai bahaya, mulai dari arus kuat dan angin yang tidak menentu hingga pembajakan dan konflik.
Antara 2008 dan 2012, Selat Bab al-Mandab dan perairan sekitarnya mengalami banyak serangan bajak laut, yang terutama dilakukan oleh kelompok-kelompok Somalia yang menculik awak kapal untuk menuntut tebusan.
Insiden-insiden tersebut mendorong komunitas internasional dan perusahaan pelayaran untuk memperkuat keamanan di kawasan itu.
Blokade terhadap jalur tersebut saat ini akan semakin memperburuk krisis pasar energi yang sudah tertekan akibat situasi di Selat Hormuz.
Gangguan pelayaran di Teluk telah mendorong harga minyak mentah Brent dari sekitar US$70 per barel sebelum krisis menjadi lebih dari US$115.
Perdagangan global untuk berbagai barang, mulai dari produk konsumen hingga komoditas pertanian, juga merasakan dampaknya.
Gangguan baru pada jalur maritim lainnya dapat mendorong harga lebih tinggi lagi dan memperdalam dampak ekonomi dari konflik dengan Iran.
Mohammed Albasha dari firma penasihat risiko Basha Report yang berbasis di Amerika Serikat mengatakan masih belum jelas apakah Houthi akan mulai menargetkan kapal-kapal yang menuju Arab Saudi.
“Bahkan jika tidak ada kapal yang diserang, pengumuman itu sendiri kemungkinan akan mengganggu pelayaran dan menciptakan ketidakpastian bagi pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi. Apakah Houthi akan beralih dari ancaman menjadi tindakan langsung tetap menjadi isu yang paling penting,” katanya kepada kantor berita Reuters.
No Comments