Friday, 10 Jul 2026

Isu LGBTQ ‘digerakkan’ aktor negara – ‘Ini kepanikan moral yang sengaja dipelihara, tanpa peduli perlindungan kelompok rentan’

11 minutes reading
Friday, 10 Jul 2026 04:40 0 german11


Echa Wa'ode (C), seorang aktivis dari Arus Pelangi, sebuah organisasi hak LGBTQ+ Indonesia, berbaris bersama dengan peserta lainnya selama protes yang diselenggarakan oleh Aliansi Perempuan Indonesia (API) pada Hari Perempuan Internasional ke-50 yang menuntut hak-hak buruh, kesetaraan gender dan perlindungan, di Jakarta pada 8 Maret 2025.

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Echa Wa’ode (tengah), seorang aktivis dari Arus Pelangi, berbaris bersama peserta lainnya selama protes yang diselenggarakan oleh Aliansi Perempuan Indonesia (API) pada Hari Perempuan Internasional ke-50 di Jakarta, 8 Maret 2025.

Analisis media sosial dari Monash University Indonesia menemukan penggerak dalam isu Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender dan Queer (LGBTQ) ini bersifat institusional dan aktor kebijakan negara. Pengamat mengingatkan agar publik tak terjebak pada “perangkap horizontal dengan medan yang dipilihkan oleh pihak tertentu” untuk menciptakan “kepanikan moral” melalui isu LGBTQ ini.

Belakangan, isu LGBTQ memang mendadak ramai di media sosial dan pemberitaan media arus utama.

Alih-alih memberikan perlindungan pada kelompok rentan ini, lembaga eksekutif maupun legislatif malah merespon keriuhan tersebut dengan rencana kebijakan yang berpotensi kian menebalkan diskriminasi dan melegitimasi persekusi pada kelompok ini.

Pada Selasa (07/07), Wakil Menteri Agama, Romo Muhammad Syafi’i berkata pihaknya akan membuat konten edukasi pencegahan penyebaran perilaku LGBTQ.

Rencana ini berdasarkan pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 111 Tahun 2025 yang menyebut LGBTQ sebagai ancaman negara nonmiliter, sekaligus dengan dalih urusan keagamaan.



Source link

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA