Sumber gambar, Reuters
Militer Amerika Serikat menyatakan telah melakukan “gelombang serangan berat” ke Iran. Langkah itu ditempuh sebagai balasan atas percobaan serangan rudal balistik Iran ke pasukan Amerika pada Selasa (28/07), demikian klaim militer AS.
Centcom mengatakan pihaknya menyasar “puluhan” target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai tanggapan atas gempuran Iran ke pangkalan-pangkalan AS di Yordania dan kapal-kapal di Selat Hormuz.
Media pemerintah Iran mengatakan serangan terbaru AS itu telah menewaskan tiga orang, termasuk seorang anak berusia dua tahun, di Pulau Qeshm. Serangan dilaporkan juga terjadi di wilayah selatan dan barat Iran.
Aksi saling serang terbaru ini terjadi setelah serangan gabungan pertama AS dan Arab Saudi terhadap milisi kelompok penyokong Iran di Irak.
Sumber gambar, Reuters
Ketika AS dan Israel melancarkan serangan militer pertama ke Iran pada Februari lalu, Presiden Donald Trump mengatakan perang itu hanya akan berlangsung beberapa pekan. Namun, konflik itu telah berlanjut selama lima bulan tanpa ada tanda-tanda akan berakhir.
Pad Rabu (29/07), media Axios mengutip keterangan seorang pejabat AS yang mengatakan bahwa Trump telah bertemu dengan Menteri Pertahanan Arab Saudi, Pangeran Khalid bin Salman.
Dalam pertemuan itu, Arab Saudi disebut ingin meredakan ketegangan. BBC telah menghubungi Gedung Putih untuk meminta komentar.
Sementara itu, pemerintah Mesir mengatakan kebakaran di sebuah pelabuhan pada Rabu lalu disebabkan oleh serangan pesawat nirawak (drone). Mesir, sekutu AS, sebelumnya tidak pernah diserang secara langsung selama perang itu.
Konflik AS-Iran kembali memanas setelah beberapa hari dalam kondisi relatif tenang.
Selama beberapa hari itu, kedua belah pihak menghentikan serangan seiring berlanjutnya proses negosiasi, yang tampaknya bertujuan untuk mencapai semacam solusi diplomatik.
Trump menyebutnya sebagai “negosiasi yang sangat bersahabat”, meskipun Teheran membantah adanya pembahasan yang terjadi.
Namun, menyusul serangan rudal Iran ke pangkalan AS di Yordania pada Selasa, Trump bersumpah akan membalas.
“Kami akan menghantam mereka dengan sangat keras karena ini giliran kami untuk menyerang mereka. Mereka tahu ini akan datang. Mereka meminta kami untuk tidak melakukannya.”
Sumber gambar, US Central Command
Gelombang serangan terbaru AS dimulai pada Rabu (29/07), pukul 20.00 waktu setempat dan berlangsung sekitar satu jam.
Centcom menyebut serangan itu sebagai “respons yang kuat terhadap percobaan serangan Iran kemarin ke pasukan AS yang berbasis di Timur Tengah”. Semua rudal Iran berhasil dicegat, kata Centcom.
Serangan oleh AS itu menyasar “pusat-pusat komando militer, fasilitas rudal dan pesawat nirawak, pusat pertahanan dan pengawasan pesisir, serta kemampuan maritim,” tulis Centcom setelah serangan selesai.
Media pemerintah Iran, Irib, melaporkan bahwa Pulau Qeshm dan Abadan, yang keduanya merupakan pusat industri minyak, termasuk di antara wilayah yang diserang.
“Serangan AS ke sebuah rumah tinggal di lingkungan Chah Tangu di Qeshm menewaskan tiga anggota keluarga: ayah, ibu, dan anak mereka yang berusia dua tahun,” lapor Far, mengutip Universitas Kedokteran Hormozgan.
Sementara itu, Angkatan Bersenjata Yordania mengatakan bahwa sistem pertahanan udara telah berhasil menembak jatuh lima rudal Iran yang menargetkan wilayah Kerajaan itu pada Kamis.
Pada Selasa lalu, IRGC mengatakan telah menargetkan sebuah pangkalan udara AS dan sebuah pusat komando di Yordania “sebagai tanggapan atas tindakan agresi tentara pembunuh anak-anak asal Amerika”.
IRGC juga mengatakan pasukan angkatan lautnya telah menyerang tiga kapal tanker minyak di Selat Hormuz, usai kapal itu “mengabaikan peringatan” dan berlayar di sepanjang rute yang digambarkan sebagai “rute yang tidak aman dan ilegal” di jalur perairan Teluk yang vital itu.
Jumat lalu, Trump menangguhkan kampanye pemboman intensif yang telah berlangsung selama 13 malam berturut-turut. AS mengatakan telah menargetkan senjata dan situs militer Iran. Puluhan orang dilaporkan tewas.
Pada Selasa (28/07), Centcom mengatakan serangan bersama AS-Arab Saudi menghantam “beberapa logistik teroris dan situs senjata di seluruh Irak timur sebagai tanggapan tegas terhadap lebih dari 30 serangan pesawat nirawak yang diarahkan oleh IRGC dalam 72 jam terakhir”.
Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) paramiliter Irak, didominasi oleh milisi Syiah yang didukung Iran, mengatakan setidaknya 20 anggotanya telah tewas dalam serangan AS-Arab Saudi di pangkalan-pangkalan mereka.
Presiden Irak berkata pihaknya mengecam pemboman pangkalan-pangkalan PMF itu, dan menyebutnya sebagai “serangan yang tidak dapat diterima dan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Irak”.
Namun Trump berbicara ke Fox News bahwa serangan-serangan itu telah “dikoordinasikan dengan pemerintah Irak”.
Arab Saudi, yang memandang dirinya sebagai kekuatan Muslim Sunni utama, dan Iran, negara Muslim Syiah terbesar, telah terlibat dalam perebutan dominasi regional selama berdekade-dekade.
No Comments