Sumber gambar, Getty Images
Berbagai produk kebutuhan pokok didiskon 30%. Warga bisa menghemat US$90 (Rp1,6 juta) per bulan atau lebih dari US$1.000 (Rp18 juta) per tahun. Terdengar menarik, bukan?
Inilah yang dilakukan Wali Kota New York, Zohran Mamdani, dengan membuka supermarket milik pemerintah kota. Tujuannya, meringankan beban pengeluaran warga.
Mamdani, yang mengidentifikasi dirinya sebagai “sosialis demokrat”, memenangkan pilkada berkat usulan ini.
Menurut Mamdani, jaringan supermarket diskon 30% tersebut akan memiliki lima gerai pada tahap awal. Satu gerai di setiap distrik: Manhattan, Bronx, Brooklyn, Queens, dan Staten Island.
Pemerintah Kota New York tidak memberikan daftar produk yang akan ditawarkan di lima supermarket ini.
Namun, secara umum disebutkan bahwa produk yang dijual berupa “makanan sehat” seperti daging merah, ayam, ikan dan makanan laut; buah dan sayuran segar, “bersama sekitar 20 kategori tambahan kebutuhan pokok dapur, produk susu, dan produk lainnya”.
Roti, susu, keju, telur, pasta, beras, dan kacang-kacangan termasuk di dalamnya.
Semuanya dengan diskon 30%.
“Setiap toko akan menawarkan pilihan produk yang disesuaikan secara budaya dengan keragaman New York dan lingkungan spesifik tempat toko tersebut berada,” tambah pemerintah Kota New York dalam sebuah dokumen.
Hampir 9 dari 10 warga New York mengalami kenaikan biaya makanan melampaui peningkatan pendapatan mereka, menurut survei yang dikutip pemerintah kota.
Rencana ini dikritik sejumlah kalangan, baik dari kalangan politik maupun bisnis. Mereka memperkirakan program tersebut akan gagal.
Sumber gambar, AFP vía Getty Images
Mamdani mengatakan bahwa potongan harga 30% akan diterapkan terhadap “harga pasar yang lazim”.
Namun, belum jelas harga mana yang akan digunakan sebagai pembanding dengan harga supermarket milik pemerintah kota.
Mamdani memastikan bahwa harga akan ditetapkan sebulan sekali dan tetap berlaku selama 30 hari, terlepas dari perubahan harga pasar dalam periode itu.
Supermarket itu tidak akan menjual minuman beralkohol, rokok, atau lotere. Yang juga tidak akan dijual adalah makanan panas siap saji, jelas Mamdani.
Pemerintah Kota New York menyatakan bahwa penghematan US$90 per bulan tersebut setara dengan 15% dari total pengeluaran belanja bahan makanan rumah tangga.
Supermarket tersebut tidak akan dioperasikan oleh pegawai pemerintah kota.
Sebaliknya, pemerintah kota telah membuka proses tender agar perusahaan swasta menangani pelaksanaannya.
Perusahaan pemenang tender tidak perlu membayar sewa, renovasi di lokasi usaha, serta pajak properti.
Karena perusahaan pengelola mendapat fasilitas-fasilitas tersebut, konsumen harus bisa mendapat manfaat dalam wujud harga produk yang lebih rendah, kata pemerintah kota.
Pemerintah kota juga berkomitmen memberikan subsidi pada produk-produk yang dipilih untuk mencapai diskon 30% yang telah diumumkan.
Para pekerja di supermarket ini harus menerima upah yang layak dan supermarket-supermarket tersebut harus memenuhi standar kualitas.
Sumber gambar, Bloomberg vía Getty Images
Mamdani mengalokasikan anggaran sebesar US$70 juta (Rp1,25 triliun) untuk pembangunan atau renovasi lima supermarket tersebut.
Untuk dua lokasi pertama, tempatnya sudah ditentukan.
Gerai pertama yang akan dibuka, pada akhir 2027, berada di Bronx. Supermarket itu akan berada satu lokasi pengembangan kompleks pertokoan dan perumahan bernama The Peninsula, menurut pemerintah.
Luasnya akan mencapai 1.400 meter persegi.
Lokasi lain yang sudah ditetapkan berada di Manhattan; tepatnya di La Marqueta. Tempat itu sudah dikelola pemerintah kota dan akan memiliki luas sekitar 800 meter persegi.
Pembukaan dua lokasi ini dan tiga lokasi lainnya dijadwalkan pada 2029.
Beberapa kalangan menyebut program pemerintah Kota New York “bergaya Soviet”, yaitu ketika negara mengendalikan perdagangan barang dan harga-harganya.
Mereka meyakini program ini akan gagal seperti pengalaman negara lain, semisal Kuba dan Venezuela, atau negara-negara yang berada di balik Tirai Besi sebelum Uni Soviet runtuh.
Mereka juga merujuk pengalaman di kota-kota lain di Amerika Serikat yang tidak berhasil.
Salah satu suara paling keras menentang proyek ini datang dari United Bodegas of America, sebuah asosiasi bisnis yang mewakili bodega, yaitu toko kelontong kecil yang sangat mengakar di New York dan tidak umum ditemukan di kota-kota lain di Amerika Serikat.
Juru bicaranya, Fernando Mateo, mengatakan bahwa antrean panjang akan terbentuk di sekitar supermarket baru ini dan pada akhirnya akan terjadi kekurangan pasokan karena subsidi tidak dapat berlangsung tanpa batas.
“Di situlah semuanya akan jatuh ke tangan polisi. Mereka yang harus menghadapi kekacauan yang akan tercipta,” kata Mateo kepada saluran lokal PIX.
Sumber gambar, Getty Images
Mateo juga mengkritik Mamdani dengan mengatakan bahwa wali kota tersebut “membuat seolah-olah pemilik bodega sedang mengeruk keuntungan dari masyarakat, dan itu tidak adil”.
“Dia akan membuat kota kami terlihat seperti tempat amal, akan membuat semua orang ini mengantre, sebagian besar komunitas Hispanik dan warga kulit hitam, dan membuat mereka terlihat seolah-olah berada di negara dunia ketiga, mendapatkan roti dan keju gratis, dan harus menunggu dalam antrean karena semuanya dijatah,” tambahnya.
Juru bicara bodega itu mengatakan dalam wawancara terpisah dengan saluran News Nation bahwa “sebagian besar pemilik bodega adalah imigran” yang datang ke New York dari “negara-negara yang sangat miskin”.
“Jika Anda mampu menyusupkan pemerintah ke sektor swasta, Anda sedang menghancurkan impian semua orang yang mempertaruhkan segalanya, meminjam sebanyak yang mereka bisa, untuk membuka usaha kecil mereka.
“Bagaimana Anda bisa mengambil uang pajak dan menggunakannya untuk bersaing melawan pelaku usaha kecil yang berusaha mencari nafkah?” tanyanya dengan nada retoris.
Presiden National Supermarket Association, Anthony Peña, juga mengkritik inisiatif Mamdani. Sebab bagi anggota asosiasinya “mustahil” menurunkan harga untuk bersaing dengan supermarket milik pemerintah kota.
“Biaya operasional kami lebih dari 30%: sewa, listrik, pajak, asuransi. Jika anggota kami bahkan mencoba menurunkan harga sebesar 30%, mereka akan menutup toko mereka secara massal,” katanya kepada saluran lokal NY1.
Sumber gambar, Newsday RM vía Getty Images
Peña juga berpendapat bahwa para konsumen “tidak ingin melihat toko seperti di dunia ketiga”, melainkan “ingin pergi ke toko yang bagus di lingkungan mereka”.
Mamdani membela diri terhadap rentetan kritik tersebut.
“Kami tidak berupaya bersaing dengan bodega atau toko kelontong dalam hal kelangsungan hidup mereka. Apa yang ingin kami lakukan adalah menjamin keterjangkauan bagi warga New York,” katanya saat menjawab pertanyaan seorang jurnalis.
Dia kemudian menjelaskan bahwa karena supermarket itu tidak menjual rokok, minuman beralkohol, lotere, maupun makanan panas siap saji, toko-toko kecil masih dapat memperoleh keuntungan dari kategori tersebut.
“Kami tahu bahwa banyak dari pendapatan bodega dan toko kelontong ini berasal dari hal-hal yang memungkinkan mereka tetap beroperasi, dan itulah hal-hal yang sama sekali tidak ingin kami saingi,” tegasnya.

No Comments