Sumber gambar, EPA-EFE/Shutterstock
Waktu membaca: 11 menit
Stasiun televisi pemerintah Iran, pada Minggu 1 Maret 2026, mengumumkan 40 hari masa berkabung dan tujuh hari libur nasional menyusul wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Saluran berita IRINN menayangkan foto foto Khamenei dengan lantunan ayat suci Al-Quran sebagai latar, disertai pita hitam di pojok kiri atas layar.
Penyiar membacakan pernyataan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) yang secara resmi mengonfirmasi kematian Khamenei dan menuding Amerika Serikat serta Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Dalam pernyataan itu, Khamenei disebut wafat sebagai “martir” yang akan menjadi awal dari “kebangkitan dalam perjuangan melawan para penindas.”
Media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan bahwa putri Khamenei, menantunya, serta seorang cucunya turut tewas dalam serangan tersebut.
Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya mengklaim Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei telah “tewas” dalam “operasi tempur besar-besaran”, Sabtu waktu setempat (28/02).
Dalam unggahan di Truth Social, Trump mengatakan “Khamenei salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah tewas”.
Sumber gambar, Anadolu/Getty Images
Ayatollah Ali Khamenei adalah pemimpin tertinggi kedua negara itu sejak Revolusi Islam 1979.
Kaum muda Iran tidak pernah mengalami era tanpa sosok Khamenei mengingat dia telah menduduki jabatan puncak tersebut sejak 1989.
Khamenei menempati posisi paling berkuasa di tengah-tengah jaringan kekuasaan yang saling bersaing. Dia mampu memveto setiap kebijakan publik dan punya hak untuk memilih kandidat pejabat publik.
Sebagai kepala negara dan panglima tertinggi militer, yang mencakup Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), jabatannya membuatnya sangat berkuasa.
Khamenei lahir di Mashhad, kota terbesar kedua di Iran, pada 1939.
Dia merupakan anak kedua dari delapan bersaudara dalam keluarga religius. Ayahnya adalah seorang ulama Syiah.
Sejak kecil, pendidikannya didominasi oleh kajian Al-Qur’an. Dia bahkan memenuhi syarat sebagai ulama pada usia 11 tahun.
Namun, seperti banyak pemimpin agama pada saat itu, karyanya lebih bersifat politis daripada spiritual.
Sebagai seorang orator yang efektif, Khamenei bergabung dengan para pengritik Shah Iran, raja yang akhirnya digulingkan oleh revolusi Islam.
Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah tanah dan mendekam di penjara. Ia ditangkap enam kali oleh polisi rahasia Shah, disiksa, dan diasingkan di dalam negeri.
Setahun setelah Revolusi Islam 1979, Ayatollah Ruhollah Khomeini mengangkatnya sebagai pemimpin salat Jumat di ibu kota, Teheran.
Setiap pekan, khotbahnya disiarkan ke seluruh penjuru negeri. Hal ini makin memantapkan posisi Khamenei sebagai bagian dari kepemimpinan baru Iran.
Sumber gambar, Gamma-Rapho via Getty Images
Pada bulan-bulan awal yang penuh gejolak setelah revolusi, sekelompok mahasiswa yang loyal kepada Khomeini menduduki Kedutaan Besar Amerika Serikat. Puluhan diplomat dan staf kedutaan disandera.
Para pemimpin revolusi Iran— termasuk Khamenei—mendukung aksi para mahasiswa tersebut, yang memprotes keputusan Amerika memberi suaka kepada Shah yang telah digulingkan.
Aksi penyanderaan itu berlangsung selama 444 hari.
Sumber gambar, Bettmann via Getty Images
Peristiwa tersebut turut mengguncang pemerintahan Presiden Jimmy Carter di Amerika Serikat dan mengarahkan Iran pada jalur anti-AS dan anti-Barat yang kemudian menjadi ciri utama revolusi.
Insiden itu juga menandai awal dari dekade panjang isolasi internasional bagi Iran.
Khamenei kemudian terpilih sebagai presiden pada 1981. Selang delapan tahun kemudian, dia dipilih oleh para pemuka agama sebagai penerus Ayatollah Khomeini yang meninggal pada usia 86 tahun.
Pada Juni 1981, Khamenei selamat dari upaya pembunuhan.
Suatu kelompok oposisi menyembunyikan bom di dalam sebuah alat perekam audio. Bom tersebut meledak saat ia tengah menyampaikan ceramah.
Saat itu, dia mengalami luka parah. Paru-parunya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih, dan ia kehilangan fungsi lengan kanannya secara permanen.
Akan tetapi, upaya pembunuhan itu mungkin justru menyelamatkan hidupnya.
Khamenei merupakan salah satu pendiri dan belakangan menjadi pemimpin Partai Republik Islam, yang berperan dalam membantu konsolidasi kekuasaan pemerintahan pasca revolusi.
Namun, ia berada di rumah sakit ketika markas besar partai tersebut mengalami serangan besar.
Sumber gambar, Ayatollah Khamenei
Setelah pulih, Khamenei mencalonkan diri dalam pemilihan untuk menggantikan posisi Presiden Mohammad-Ali Rajai. Jabatan itu bersifat seremonial.
Karena Ayatollah Ruhollah Khomeini mengendalikan siapa yang berhak maju sebagai kandidat, hasil pemilihan praktis sudah dapat diprediksi. Khamenei menang dengan meraih 97% suara.
Pidato pelantikannya kemudian menandai arah kepemimpinannya, ketika ia mengecam apa yang disebutnya sebagai “penyimpangan, liberalisme, dan kaum kiri yang terpengaruh Amerika.”
Irak, yang berbatasan langsung dengan Iran, menyerbu negara itu beberapa bulan sebelum pemilihan berlangsung.
Presiden Irak saat itu, Saddam Hussein, khawatir revolusi Iran akan melemahkan rezimnya.
Pada awal perang, sebelum menjabat sebagai presiden, Khamenei menghabiskan berbulan bulan di garis depan.
Sumber gambar, AFP via Getty Images
Selama delapan tahun konflik, ratusan ribu orang tewas di kedua pihak.
Sepanjang perang, Irak menggunakan senjata kimia terhadap desa desa di perbatasan Iran dan menggempur kota kota jauh, termasuk Teheran, dengan rudal.
Perang tersebut makin memperdalam ketidakpercayaan Khamenei terhadap Amerika Serikat, yang secara bertahap memberi dukungan kepada Irak.
Pada 1989, Ayatollah Khomeini wafat dan Majelis Ahli Kepemimpinan memilih Khamenei sebagai penggantinya.
Sebagian pihak memandang pemimpin tertinggi yang baru ini memiliki latar belakang akademik keagamaan yang lemah.
“Saya adalah pribadi dengan banyak kekurangan, sungguh hanya seorang santri yang rendah hati,” ujar Khamenei dalam pidato pertamanya setelah menjabat.
“Namun, sebuah tanggung jawab telah diletakkan di pundak saya, dan saya akan menggunakan seluruh kemampuan serta iman saya kepada Yang Maha Kuasa untuk menjalankan beban tugas yang berat ini.”
Sumber gambar, Hulton Archive via Getty Images
Karena tidak memiliki wibawa ulama senior dan popularitas Khomeini, Khamenei awalnya bergerak dengan sangat hati hati.
Namun kemudian, ia membangun jaringan loyalis di lembaga peradilan, kepolisian, media, kalangan ulama, parlemen, Garda Revolusi, hingga aparat intelijen.
Karim Sadjadpour, peneliti di Carnegie Endowment for International Peace di Washington, mengatakan kepada BBC News bahwa kekuasaan Khamenei bertumpu pada “kartel yang sangat solid berisi ulama garis keras dan tokoh revolusioner yang menjadi kaya setelah revolusi.”
Media pemerintah Iran menggambarkan Khamenei sebagai sosok yang hidup sederhana di Teheran bersama istri, anak-anak, dan cucu-cucunya.
Khamenei menumpas kelompok oposisi.
Pada 1999, aksi protes mahasiswa dibubarkan dengan kekerasan.
Satu dekade kemudian, gelombang protes atas dugaan kecurangan pemilu berujung pada tindakan represif. Saat itu, para demonstran disemprot gas air mata, dipukuli, dan ditembak.
Pada 2019, lonjakan harga bahan bakar memicu unjuk rasa di berbagai kota, dan pemerintah merespons dengan memutus akses internet.
Amnesty International menyatakan polisi menembak dan menewaskan para demonstran.
Perempuan yang berkampanye menentang kewajiban mengenakan hijab disebut mengalami penyiksaan dan ditahan dalam sel isolasi.
Seorang pengacara hak asasi manusia dijatuhi hukuman 38 tahun penjara dan 148 cambukan.
Lembaga HAM berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), menyebut menerima lebih dari 400 nama korban tewas dalam protes yang terjadi setelahnya.
Pada akhir 2025 dan awal tahun ini, serangkaian demonstrasi akibat krisis ekonomi kembali ditindak keras.
Khamenei mengakui bahwa ribuan orang tewas, namun menuduh musuh-musuhnya berada di balik kekerasan tersebut.
“Mereka yang terhubung dengan Israel dan Amerika Serikat menyebabkan kerusakan besar dan menewaskan beberapa ribu orang,” ujarnya, seraya menuding mereka memicu kekacauan.
Sumber gambar, AFP via Getty Images
HRANA mencatat bahwa respons pemerintah melibatkan penggunaan “kekuatan mematikan”.
Lembaga itu melaporkan lebih dari 7.000 orang tewas—sebagian besar demonstran—dan sedikitnya 200 korban tewas merupakan “anggota militer dan aparat pemerintah.”
Khamenei menilai senjata nuklir bertentangan dengan ajaran Islam. Pada 2003, dia mengeluarkan sebuah fatwa yang melarang pengembangannya.
Namun, Israel dan negara negara Barat meyakini bahwa Iran memanfaatkan program energi nuklir dan teknologi misilnya sebagai kedok untuk membangun kemampuan senjata nuklir.
Serangkaian sanksi yang kemudian dijatuhkan turut memperburuk kondisi ekonomi negara itu.
Pada 2015, Iran bersama Amerika Serikat, Inggris, Prancis, China, Rusia, dan Jerman mencapai kesepakatan untuk membatasi pengayaan uranium Iran.
Namun Presiden Donald Trump menarik Amerika Serikat dari perjanjian tersebut pada masa jabatan pertamanya (2017–2021).
Iran bersikukuh bahwa program nuklirnya bersifat damai dan Badan Energi Atom Internasional telah memverifikasi kepatuhannya.
Mantan Presiden Barack Obama, yang menandatangani kesepakatan itu, menuliskan bahwa perjanjian tersebut bekerja sebagaimana mestinya.
Sumber gambar, Hulton Archive via Getty Images
Khamenei bersumpah akan membalas dan semakin mendekatkan diri pada Rusia dan China.
Pada 2025, Israel melancarkan serangkaian operasi militer yang menargetkan program nuklir Iran, para ilmuwannya, fasilitas militer, serta sejumlah pejabat senior, termasuk serangan ke kawasan pemukiman.
Iran membalas dengan menembakkan rudal ke Israel, dan Amerika Serikat kemudian ikut serta dalam serangan Israel.
Khamenei berjanji tidak akan menyerah, namun ia tampak lebih lemah dari sebelumnya—suatu kondisi yang dimanfaatkan Amerika Serikat dan Israel untuk kembali menyerang pada Sabtu itu dan akhirnya menewaskannya.
Pengaruh anak-anak Khamenei
Khamenei dan istrinya, Mansoureh Khojasteh Baqerzadeh, memiliki enam orang anak—empat putra dan dua putri.
Keluarga Khamenei jarang muncul di depan publik atau di media. Informasi resmi dan terverifikasi tentang kehidupan pribadi anak-anaknya terbatas.
Dari keempat putranya, Mojtaba, anak kedua, adalah yang paling dikenal karena pengaruhnya dan peran penting yang dimainkannya di lingkaran dalam ayahnya.
Sumber gambar, NurPhoto/Getty Images
Mojtaba bersekolah di SMA Alavi di Teheran, sebuah sekolah yang murid-muridnya biasanya adalah anak-anak pejabat senior Republik Islam.
Dia menikah dengan putri Gholam-Ali Haddad-Adel, seorang tokoh konservatif terkemuka, pada saat ia belum menjadi ulama dan baru berencana memulai studi keagamaan di Qom.
Mojtaba kemudian mengenyam studi agama secara formal di Qom—lembaga kajian Syiah paling terkemuka di Iran—pada usia 30 tahun.
Pada pertengahan 2000-an, pengaruh Mojtaba di bidang politik menjadi lebih jelas, meskipun hal ini jarang diakui di media.
Mojtaba menjadi sorotan setelah pemilihan presiden yang kontroversial pada 2004, ketika Mehdi Karroubi—seorang kandidat terkemuka—secara terbuka menuduhnya melakukan campur tangan di belakang layar demi menguntungkan Mahmoud Ahmadinejad.
Kritik itu dituangkan dalam sebuah surat terbuka kepada Ayatollah Khamenei.
Sejak 2010-an, Mojtaba secara luas dianggap sebagai salah satu individu paling berkuasa di Republik Islam Iran.
Berbagai kisah anekdot menunjukkan bahwa ia adalah kandidat pilihan Khamenei untuk menggantikannya. Namun, beberapa sumber resmi telah membantah kisah-kisah ini.
Meskipun Ali Khamenei bukan seorang raja dan tidak dapat begitu saja menyerahkan takhta kepada anaknya, Mojtaba memiliki kekuasaan signifikan dalam lingkaran ayahnya, termasuk kantor Pemimpin Tertinggi yang menaungi badan-badan konstitusional.
Mustafa Khamenei adalah putra tertua Khamenei. Istrinya adalah putri Azizollah Khoshvaght, seorang ulama tradisional yang sangat konservatif.
Mustafa dan Mojtaba bertugas di garis depan selama perang Iran-Irak pada tahun 1980-an.
Putra ketiga Ali Khamenei adalah Masoud, yang lahir pada 1972.
Ia menikah dengan Susan Kharazi, putri Mohsen Kharazi, seorang ulama terkenal yang berafiliasi dengan Asosiasi Guru yang konservatif di lembaga kajian keagamaan Qom.
Putra Mohsen Kharazi—saudara kandung Susan Kharazi—adalah Mohammad Sadegh Kharazi, seorang mantan diplomat dengan kecenderungan reformis.
Sumber gambar, AFP/Getty Images
Masoud Khamenei menjauh dari lingkaran politik, dan hanya sedikit yang diketahui publik tentang sosoknya.
Ia pernah mengepalai kantor yang mengelola pekerjaan ayahnya sekaligus berfungsi sebagai sayap propaganda utama bagi Khamenei. Masoud juga bertanggung jawab menyusun biografi dan memoar ayahnya.
Putra bungsu Khamenei, Meysam, lahir pada 1977. Seperti ketiga abangnya, ia juga seorang ulama. Istrinya—yang namanya tidak disebutkan di media—adalah putri Mahmoud Lolachian, seorang pedagang kaya dan berpengaruh yang dikenal karena memberikan dukungan finansial kepada para ulama revolusioner sebelum revolusi 1979.
Meysam telah bekerja bersama Masoud di Kantor Pelestarian dan Penerbitan karya-karya ayah mereka.
Tidak banyak yang diketahui publik tentang putri-putri Khamenei.
Bushra dan Hoda adalah dua putri Khamenei dan keduanya lahir setelah revolusi 1979.
Bushra lahir pada 1980 dan menikah dengan Mohammad-Javad Mohammadi Golpayegani, putra Gholamhossein (Mohammad) Mohammadi Golpayegani, yang merupakan kepala staf di kantor Khamenei.
Hoda, anak bungsu Khamenei, lahir pada 1981. Ia menikah dengan Mesbah al-Hoda Bagheri Kani, yang menempuh studi pemasaran dan mengajar di Universitas Imam Sadiq.
No Comments