Sumber gambar, Getty Images
Belum genap setahun bersaing di sirkuit elite WTA, Janice Tjen sudah menorehkan sejarah bagi tenis Indonesia.
Dengan berhasil menembus babak kedua Wimbledon, Janice menjadi petenis tunggal Indonesia pertama yang melakukannya sejak Angelique Widjaja pada 2003 silam.
Di nomor ganda putri, Janice yang berpasangan dengan seniornya, Aldila Sutjiadi, juga sukses melaju ke babak kedua.
Ini adalah pertama kalinya pasangan murni ganda putri Indonesia memenangkan pertandingan di Wimbledon sejak pasangan Lita Sugiarto dan Lany Kaligis pada 1971.
“Pastinya senang bisa menjadi bagian dari sejarah tenis Indonesia. Salah satu impian saya adalah bisa bermain di Wimbledon,” kata Janice kepada wartawan Amahl Azwar yang melaporkan untuk BBC News Indonesia dalam wawancara virtual pada Minggu (28/06), sehari sebelum Wimbledon dimulai.
Sumber gambar, Getty Images
Karier Janice selama satu tahun terakhir memang melesat bak meteor setelah lulus dari liga tenis kampus AS alias NCAA.
Dalam 20 tahun terakhir, hanya ada tiga petenis non-warga negara AS di dunia yang berhasil menembus jajaran 50 besar WTA setelah menempuh jalur kuliah. Salah satunya adalah Janice.
Pada 23 Februari 2026, Janice berhasil mencapai peringkat dunia nomor 36 di WTA (organisasi tenis putri profesional). Padahal, dia memulai tahun 2025 dengan ranking 578.
Itu adalah capaian tertinggi bagi petenis Indonesia sejak Yayuk Basuki meraih peringkat 19 WTA pada Oktober 1997 silam.
Sumber gambar, AFP via Getty Images
Sebagai catatan, petenis Indonesia terakhir yang mampu berada di top 100 adalah Angelique Widjaja pada 2004. Prestasi maksimal Angelique adalah peringkat 55 dunia.
Meskipun Janice kini memegang tongkat estafet, dia mengaku tidak merasakan beban berlebih di pundaknya.
“Ini tahun pertama saya bermain full calendar di WTA Tour. Saya tidak terlalu memikirkan (rekor) itu, lebih fokus ke diri sendiri untuk memberikan yang terbaik. Saya banyak belajar tahun ini,” ujarnya.
Minimnya dukungan finansial dan cedera parah sering kali mengandaskan karier atlet tenis Indonesia—sekalipun masa junior yang penuh keemasan.
Cedera kronis memaksa Angelique (yang menjuarai Wimbledon junior tahun 2001) gantung raket pada 2008 di usia 23 tahun.
Sementara bagi Janice—yang tahun ini menginjak usia 24 tahun—karier profesionalnya justru baru dimulai.
Sumber gambar, AFP via Getty Images
Meskipun begitu, ratu tenis Indonesia Yayuk Basuki tidak ragu menyebut Janice sebagai penerusnya yang mampu menorehkan tinta emas melebihi dirinya.
“Kalau bicara she is my successor, bisa dikatakan itu. Bahkan, she could be better than me,” puji Yayuk dalam wawancara terpisah.
Petenis yang pernah mencapai babak perempat final Wimbledon 1997 itu menyematkan predikat “determination, power, and smart” pada Janice.
“Dia punya keteguhan tekad yang luar biasa, pukulan dan servis yang bertenaga, serta pemikiran yang cerdas di lapangan,,” ujar Yayuk.
“Dia bisa setidaknya mencapai top 20 di dunia.”
Perjalanan Janice mengenal tenis dimulai sejak usia tujuh tahun setelah disemangati oleh teman kecilnya yang juga sesama petenis, Priska Madelyn Nugroho.
Mantan atlet tenis Indonesia, Wynne Prakusya, mengenang pertama kalinya melihat Janice kecil saat dirinya aktif di akademi tenis Sportama di Jakarta.
“Saya dikenalkan dengan Janice Tjen yang waktu itu baru umur 11 tahun. Dia baru menjuarai turnamen Master Sportama. Anaknya tinggi dan kurus,” ujar peraih medali emas Asian Games 2002 itu.
Sumber gambar, Dokumen pribadi
Wynne menilai postur jangkung Janice adalah modal berharga, yang dalam permainan tenis modern mengandalkan kecepatan dan kekuatan.
Meski dirinya mampu mencapai peringkat 74 WTA pada 2002, Wynne—yang punya tinggi badan 160cm—mengakui sulit bersaing di level elite dengan tubuh relatif pendek.
“Saya merasakan sendiri dunia tenis kalau ukuran badan kurang tinggi itu susah,” ujar Wynne yang kariernya terhenti pada 2007 saat ia masih berusia 25 tahun akibat cedera punggung parah.
“Memang tidak mutlak (sebagai catatan, Yayuk Basuki memiliki tinggi badan 164cm), tapi kerja kerasnya harus dua sampai tiga kali lipat dibanding yang bertubuh tinggi,” ujar Wynne.
Janice memang akhirnya tumbuh mencapai tinggi 171cm. Namun, lebih dari itu, Wynne menyoroti disiplin tinggi yang diperlihatkan Janice kecil di lapangan.
Meski terkesan mudah rendah diri, Wynne menyebut Janice kecil sudah punya etos kerja yang baik.
“Janice ini diberi porsi latihan seberat apa pun, (dia) tidak pernah mengeluh,” tutur Wynne.
Sumber gambar, Dokumen pribadi
Berbeda dengan pendahulunya seperti Angelique atau Wynne (yang pernah masuk final Australia Terbuka junior), prestasi junior Janice bisa dibilang tidak terlalu bergaung.
Bahkan teman kecil Janice, Priska, sempat merasakan panggung elite Grand Slam junior dengan menjuarai ganda putri junior Australia Terbuka 2020 bersama Alex Eala dari Filipina.
Alex Eala juga menjuarai AS Terbuka junior tahun 2022.
Yayuk Basuki mengatakan saat Janice bersekolah dan berlatih di Sekolah Khusus Olahragawan (SKO) Ragunan, potensinya belum terlalu mencolok.
Kebetulan, saat itu suami dan juga mantan pelatih Yayuk, Harry Suharyadi, menjadi pelatih tenis di SKO Ragunan.
“Waktu itu belum terlihat ada yang spesial. Ya, cuma dinilai mainnya cukup bagus dan bersiap berangkat ke Amerika (untuk kuliah),” kata Yayuk.
Meski begitu, Janice tetap mampu menjuarai sejumlah turnamen junior dan mampu menembus ranking nomor 93 dunia junior pada tahun 2019. Dia juga sempat ikut kualifikasi Australian Open junior 2019 meski tidak lolos ke babak utama.
Sumber gambar, Dokumen pribadi
Alih-alih langsung terjun total ke profesional, mahalnya dunia tenis membuat Janice mengambil “jalur alternatif” yaitu beasiswa tenis.
Poin dari turnamen ITF level menengah untuk menembus Top 100, memuluskan langkahnya meraih beasiswa penuh di sirkuit tenis universitas AS alias NCAA.
Saat menginjak usia 17 tahun, Janice memulai kariernya di ajang tenis NCAA pada musim gugur 2020 saat bergabung dengan tim Universitas Oregon.
Dia kemudian pindah ke Universitas Pepperdine pada musim 2021–2022 untuk menyelesaikan sisa karier mahasiswanya hingga lulus pada Mei 2024 di bidang sosiologi.
Universitas Pepperdine memang memiliki tim tenis yang mumpuni. Salah satu lulusannya adalah Brad Gilbert, mantan ranking empat dunia serta sempat melatih Andre Agassi dan Andy Roddick.
“Saat junior dulu, jalur saya memang agak berbeda. Jadi saya memutuskan untuk ke college (kuliah) dulu,” kenang Janice.
“Setelah kuliah baru dipikirkan lagi gimana mau lanjut apa mau kerja.”
Momen krusial yang menyalakan keyakinan Janice untuk memutuskan terjun ke tenis profesional terjadi pada ajang Asian Games Hangzhou 2022.
Saat itu, Asian Games digelar pada 2023 meski bertajuk edisi 2022 karena penundaan akibat pandemi Covid-19.
Janice yang masih berstatus mahasiswa diberikan izin kampusnya untuk membela Merah Putih.
Wynne Prakusya yang bertindak sebagai kapten tidak bermain (non-playing captain) dan pelatih tim putri mengaku terbelalak melihat transformasi Janice yang dari kurus menjadi atletis.
“Saya tanya ke dia: ‘Jen, ini kamu di sana (AS) latihannya apa? Kok, jadi fit begini?” Ternyata dia setiap hari nge-gym,” ujar Wynne.
Lebih dari itu, Wynne mengamati perubahan watak Janice. Menurut Wynne, Janice telah menjadi perempuan yang tangguh dan mandiri.
Perubahan tersebut terlihat nyata saat Janice memberikan perlawanan sengit yang merepotkan tunggal putri andalan tuan rumah sekaligus pemain top 50 dunia saat itu, Zhu Lin.
“Waktu itu saya melihat dia melawan Zhu Lin, dan dia itu bisa ramai (memberikan perlawanan). Saya cuma bilang sama dia: ‘You can make it. Kamu kalau bisa begini terus, bisa tahan gini sih, cepat naiknya’,” tutur Wynne.
“Dia punya segalanya: kemauan tinggi, anaknya ngotot, mentalnya bagus, dan posturnya sangat mendukung.”
Sumber gambar, AFP via Getty Images
Bagi Janice sendiri, pertandingan itu menjadi sebuah pencerahan spiritual di atas lapangan.
“Aku selalu ingat momen itu di Asian Games Hangzhou,” kenang Janice.
“Dan ya biarpun aku kalahnya mungkin di skornya itu 6-3, 6-0. Tapi di enam game pertama itu aku ngerasa: Oh kayaknya aku bisa nih.”
“Sedangkan pada saat itu aku masih kuliah, jadi fokusnya belum benar-benar di tenis. Setelah lawan Zhu Lin, saya merasa: ‘Oh kayaknya mungkin aku masih mungkin bisa bersaing nih’.”
Keyakinan itu menebal setelah Janice, bersama seniornya Aldila Sutjiadi, sukses menyabet medali perunggu di nomor ganda putri usai memberikan perlawanan sengit kepada petenis top asal Taipei, kakak beradik Latisha Chan dan Chan Hao-ching.
Bagi Janice, atmosfer Asian Games memberinya gambaran awal mengenai kemampuannya bersaing di level dunia.
Sepulang dari Hangzhou, dia banyak berdiskusi dengan pelatih kampusnya dan Aldila saat libur musim dingin untuk memantapkan langkahnya.
Keputusan Janice untuk menuntaskan kuliah terlebih dahulu terbukti berbuah manis.
Pada 2024, ia menyudahi karier studinya dengan menempati peringkat ganda nomor satu di ITA (Intercollegiate Tennis Association).
Berbekal keyakinan dari Asian Games, Janice langsung tancap gas dari level bawah (ITF) dengan mencatatkan rekor menang-kalah fantastis 39-3 sepanjang 2024.
Perjuangan ini dimulai dari titik nol. Tanpa adanya turnamen profesional putri di Indonesia, Janice harus melanglang buana secara mandiri demi merangkak naik.
Pada Mei 2024, dengan status tanpa peringkat, dia bertolak ke Tunisia dan bertarung dari babak kualifikasi hingga akhirnya berhasil menjuarai turnamen level terendah ITF di Monastir demi mencatatkan namanya di papan peringkat dunia.
Sumber gambar, Dokumen pribadi
Langkah mandiri ini pula yang mempertemukannya dengan sang pelatih, Chris Bint. Pertemuan itu terjadi pada akhir 2024 saat Janice sedang melakoni beberapa turnamen di Selandia Baru.
Saat itu, Bint yang berasal dari UK menjabat sebagai kepala pelatih federasi tenis Selandia Baru.
Dia berkenalan dengan Janice melalui petenis Selandia Baru, Vivian Yang—sesama alumni Pepperdine sekaligus teman Janice.
Tertarik dengan bakat dan kemauan keras Janice, Bint mengambil jatah libur dua minggu untuk menemani Janice bertanding di sejumlah turnamen di Korea Selatan pada April dan Mei 2025.
Diyakinkan oleh potensi besar sang petenis, Bint mengambil keputusan berani dengan keluar dari pekerjaannya di federasi Selandia Baru demi melatih Janice secara penuh waktu.
“Banyak orang di dunia tenis menyukai permainannya, cara dia bermain, dan caranya memecahkan masalah di lapangan. Gaya mainnya berbeda dari sebagian besar petenis putri lain—terasa lebih menarik dan unik,” ungkap Bint.
Bersama Bint, Janice mulai menapaki turnamen level bawah di China, Taiwan, dan AS hingga rankingnya menembus 200 besar dunia dan lolos babak kualifikasi AS Terbuka
Janice pun mampu melewati babak kualifikasi dan lolos ke babak utama AS Terbuka. Itu adalah pertama kalinya ada petenis tunggal Indonesia di babak utama Grand Slam sejak Angelique Widjaja tahun 2004.
Di sana, Janice mengalahkan unggulan ke-24, Veronika Kudermetova.
“Di situ sebetulnya saya mulai melihat anak ini spesial,” tutur Yayuk yang terkesan dengan semangat juang Janice.
“Lepas dari college lalu bisa ujuk-ujuk langsung tiba-tiba masuk ke top 40 dunia, itu tidak mudah,” imbuhnya.
Janice menutup musim 2025 dengan merengkuh gelar juara tunggal WTA pertamanya di Chennai, India usai mengalahkan Kim Birrell.
Janice juga reuni dengan seniornya, Aldila Sutjiadi, dan menjuarai nomor ganda putri di Chennai.
Kemenangan inilah yang memutus dahaga 23 tahun tenis tunggal putri Indonesia sejak era Angelique Widjaja pada 2002.
Sebagai perbandingan, terakhir kali Angelique menjuarai turnamen tenis WTA adalah di Pattaya pada 2002—tahun kelahiran Janice.
Sumber gambar, Dokumen pribadi
Pada awal tahun ini, Janice lolos ke babak kedua Australia Terbuka. Petenis Indonesia terakhir yang mampu lolos ke babak kedua Australia Terbuka adalah Yayuk Basuki pada tahun 1998.
Chris Bint menegaskan betapa langkanya fenomena anak asuhnya ini di kancah tenis internasional.
“Jika Anda melihat sejarah tenis dunia, jumlah pemain luar AS yang menembus top 50 dunia setelah menempuh jalur kuliah luar biasa sedikit. Janice benar-benar mendobrak semua data statistik historis olahraga ini. Dia adalah pencilan mutlak (complete outlier).”
Selama 20 tahun terakhir hanya ada tiga petenis non-warga negara AS yang berhasil menembus jajaran 50 besar dunia WTA setelah lulus kuliah: Lulu Sun asal Selandia Baru, Mayar Sherif asal Mesir, dan Janice.
Sherif kebetulan merupakan kakak kelas sekaligus satu almamater dengan Janice di Universitas Pepperdine.
Kiprah Sherif di sirkuit profesional itulah yang turut membuka mata sekaligus menginspirasi langkah Janice untuk memantapkan diri beralih ke dunia pro setelah lulus.
Kehadiran Janice Tjen di panggung tenis profesional dinilai sebagai berkah bagi olahraga Indonesia, setelah Indonesia mengalami paceklik prestasi di sektor tunggal putri selama 22 tahun terakhir.
“Karena enggak ada yang menyangka, terus terang saja. Karena Janice ini kan baru mulai tahun lalu begitu dia lulus,” ujar Yayuk Basuki.
Dengan gaya permainan yang mengandalkan forehand bertenaga dan variasi backhand slice, banyak penggemar tenis yang menyamakan Janice dengan mantan petenis nomor satu dunia, Ash Barty.
Barty sendiri kebetulan merupakan idola Janice dan menginspirasi permainannya.
Mengamati aksi Janice di lapangan, Yayuk—yang juga dikenal dengan forehand kuat dan backhand slice—mengaku senang dengan gaya permainan Janice yang dinilainya cerdas dan variatif.
Pelatih Chris Bint terus memantapkan teknis permainan Janice, mulai dari mempertajam servis dan menambah kekuatan forehand.
Adapun pukulan backhand slice Janice juga diasah agar lebih destruktif dan tidak sekadar bertahan.
Tahun ini juga menjadi pembelajaran Janice untuk bermain di lapangan tanah liat dan rumput. Bagi petenis yang besar di lapangan keras, Janice masih butuh adaptasi di lapangan tersebut.
Janice kehilangan waktu krusial untuk belajar teknik sliding (meluncur)—sesuatu yang anak-anak Eropa sudah lakukan sejak kecil.
Meski begitu, Bint sangat yakin Janice punya masa depan cerah di permukaan ini.
Karakteristik lapangan tanah yang lambat justru memberi Janice waktu lebih banyak untuk mendikte permainan dan mengeksekusi variasi pukulan kreatifnya, terutama dari sisi forehand.
“Saya yakin dia akan menjadi pemain clay yang bagus di masa depan,” ujar Bint.
Sumber gambar, AFP via Getty Images
Selain adaptasi permukaan, fokus evolusi permainan Janice berada pada efisiensi pukulan.
Bint memaparkan bahwa mereka awalnya menjadwalkan masa pra-musim selama enam minggu pada Desember 2025 untuk merombak teknik pukulan backhand Janice.
Namun, Janice memilih memprioritaskan SEA Games Thailand yang berlangsung 10 hari setelah turnamen di Chennai berakhir.
Pilihan itu membuahkan hasil dua medali emas untuk kontingen Indonesia dari nomor beregu dan ganda putri. Di sisi lain, ini membuat pembenahan teknik Janice sekarang dicicil sembari jalan di tengah ketatnya tur dunia.
“(Tapi) itu (backhand Janice) adalah sesuatu yang akan terus kami benahi,” tegas Bint.
Aturan WTA saat ini memang ketat terhadap para pemain, khususnya top 50 dunia. Mereka diwajibkan bermain di seluruh ajang Grand Slam, turnamen level WTA 1000, dan kuota tertentu di WTA 500.
Jika mangkir, hukumannya berupa denda besar dan pengurangan poin ranking menjadi nol.
Meski begitu, Janice tetap berkomitmen untuk membela timnas.
Sumber gambar, LightRocket via Getty Images
Pada ajang beregu putri Billie Jean King Cup di India awal tahun ini, Janice mengalami cedera pergelangan kaki yang parah di set kedua saat melawan wakil Thailand, Anchisa Chanta.
Namun, ia menolak menyerah dan tetap menyumbang poin kemenangan hingga membawa Indonesia lolos ke babak play-off dunia untuk pertama kalinya sejak 2006.
“Jujur, saya tidak tahu bagaimana dia bisa menang. Kurang dari tiga jam setelah pertandingan, dia sudah harus naik pesawat ke Eropa demi mengejar penanganan fisik dari WTA di Prancis,” ungkap Bint yang menjulukinya sebagai “ksatria” lapangan.
Ajang Billie Jean King Cup itu juga menjadi reuni bagi Janice dengan sahabat kecilnya, Priska, dan Aldila yang saat itu masih menjadi tunggal nomor satu Indonesia.
Bagi Janice, ini semacam pembuktian setelah pada 2020 silam, dia belum menjadi tumpuan.
Saling bahu membahu ini memang sudah menjadi ciri khas para atlet tenis putri Indonesia.
Janice mengaku sebelum bertemu dengan Bint, ia sempat dibantu kedua seniornya, Beatrice Gumulya dan Jessy Rompies yang sekarang sudah pensiun.
“Kita memang ada group chat dan saling menyemangati satu sama lain,” ujar Janice.
Sebagai petenis profesional, rutinitas harian Janice saat ini termasuk menghabiskan 8 hingga 10 jam per hari, mulai dari gym selama dua jam, sesi latihan di lapangan hingga 4 jam, perawatan fisioterapi, hingga analisis data video pertandingan.
Janice menyadari pertandingan tenis level tertinggi juga membutuhkan kekuatan mental. Dia pun mulai didampingi oleh psikolog olahraga yang dulu sempat membantunya saat masih di AS.
Namun, kekuatan mental Janice tidak hanya diuji di dalam lapangan.
Di jagat maya, ia harus membentengi diri menghadapi sorotan publik, kritik tak berdasar, hingga pesan-pesan perundungan di media sosial.
Sejak Australia Terbuka, Janice memang terlihat masih beradaptasi di level elite WTA dan sejauh ini mengalami 16 kekalahan, lebih banyak dari 11 kemenangan yang dicatatkannya.
Janice kerap mendapat kritik pedas warganet setiap kali ia menelan kekalahan, termasuk komentar miring yang menghujat pukulan backhand-nya yang dianggap terlalu defensif.
Derasnya pesan negatif tersebut bahkan membuat Janice sempat terpaksa “rehat” sementara dari media sosial beberapa bulan lalu.
Perlakuan warganet Indonesia ini mengundang rasa prihatin mendalam dari Yayuk Basuki. Dia membandingkan dengan totalitas publik Filipina dalam mendukung Alex Eala—baik saat dia menang maupun kalah.
Yayuk juga menyoroti perbedaan kontras jalur karier antara Janice dengan Eala.
“Kalau Eala itu kan sudah tercium sejak kecil karena berada di bawah manajemen IMG lama dan ditempa di Rafa Nadal Academy. Nah kalau Janice ini ibaratnya baru keluar dari university, tiba-tiba muncul. Indonesia sendiri pun kaget,” tuturnya.
“Fans tenis kita ekspektasinya (Janice) mau juara Grand Slam. (Padahal) itu semua kan bertahap. Orang kita cenderung gampang mem-bully. Di Filipina, cara berpikir masyarakatnya jauh lebih positif dalam mendukung atletnya. Bukankah seharusnya kita bangga memiliki representatif di dunia internasional?” tegas Yayuk.
Sumber gambar, Chris Bint
Chris Bint menekankan perjuangan anak asuhnya yang harus merangkak dari bawah tanpa bantuan “jalur pintas” di turnamen besar.
“Indonesia sudah bertahun-tahun tidak memiliki pemain tunggal di level ini. Janice mencapainya lewat jalur mandiri yang sangat keras, tanpa bantuan wild card (di turnamen-turnamen tingkat elite). Dia harus merangkak dan bertarung dari bawah. Dia perlu dirayakan dan didukung,” kata Bint.
Bagi mantan petenis Indonesia, Wynne Prakusya, apa pun tantangan atau hasil pasang surut yang didapat Janice saat ini tidak akan menghentikan momentum emas.
Wynne berpesan agar publik berhenti menjatuhkan atlet yang tengah berjuang di panggung dunia.
“Bagi saya (karier Janice) ini baru permulaan. Janice akan berada di level atas untuk waktu yang sangat lama karena dia punya segalanya untuk menjadi yang terbaik,” ujar Wynne.
Alih-alih terbebani oleh ekspektasi publik atau terganggu oleh suara sumbang di jagat maya, Janice sendiri memilih fokus pada proses perkembangannya sendiri.
“Semua pemain di level ini pasti mendapat komen seperti itu. Saya lebih fokus pada bagaimana cara bermain lebih baik lagi dan bisa menang. Saya tahu situasi di dalam tim saya dan apa yang sedang kami perbaiki. Saya harus percaya dengan orang-orang terdekat saya,” tegas Janice.
“Semua orang pastinya enggak ada yang mau kalah.”
Meski menempuh jalan memutar lewat bangku kuliah terlebih dahulu, Janice membuktikan bahwa tidak ada satu formula baku untuk meraih sukses di panggung dunia.
“Beruntung orang-orang di sekitar saya selalu meyakinkan bahwa semua orang ada jalannya masing-masing, ada waktunya masing-masing,” pungkasnya.
No Comments