Sumber gambar, Getty Images
Menari menawarkan banyak manfaat bagi kesehatan otak, mulai dari meningkatkan konsentrasi hingga memicu kreativitas. Kabar baiknya, Anda tidak perlu menghabiskan waktu berjam-jam di lantai dansa untuk merasakan manfaat tersebut.
Saat ini saya sedang berada di kantor. Saya berdiri di depan laptop sambil bergerak mengikuti lagu-lagu hits musim panas.
Waktu menunjukkan pukul 13.00, dan saya sebenarnya sedang bekerja. Tapi, ini bukan sekadar cara saya menghindari pekerjaan sejenak. Saya sengaja menari demi kesehatan otak saya.
Selama ini kita sering mendengar berbagai saran tentang kapan waktu terbaik untuk berolahraga dan berapa lama durasinya. Semua itu sering kali terdengar rumit dan terlalu serius.
Padahal, jika terlalu fokus pada teknik atau gerakan yang benar, olahraga bisa kehilangan kenikmatannya. Akibatnya, kita justru semakin sering menunda bergerak.
Tanpa disadari, kita bisa menghabiskan hampir seharian tanpa banyak aktivitas fisik.
Ketika seorang rekan kerja memberitahu saya bahwa menari bisa memberikan banyak manfaat pada suasana hati dan kesehatan otak, saya pun penasaran ingin membuktikan sendiri.
Karena itu, saya menantang diri meluangkan waktu lima menit setiap hari selama satu minggu hanya untuk menari.
Saya ingin melihat apakah kebiasaan sederhana ini benar-benar bisa membuat suasana hati saya menjadi lebih baik sekaligus meningkatkan fokus serta produktivitas saat bekerja.
Pada hari pertama, rasanya agak canggung menari sendirian di tengah jam kerja. Tapi, setelah kembali duduk di depan meja, saya merasa tubuh lebih segar dan berenergi.
Padahal, di jam-jam seperti itu biasanya saya mulai merasa Lelah dan mengantuk. Yang mengejutkan, menari ternyata sangat menyenangkan hingga saya merasa ingin melakukannya lebih lama dari lima menit.
Pengalaman yang saya rasakan ternyata didukung oleh berbagai penelitian. Menari merupakan aktivitas yang unik karena menggabungkan manfaat fisik, melatih kemampuan berpikir, sekaligus memberi manfaat sosial.
Kombinasi inilah yang membuat menari berbeda dari banyak jenis olahraga lainnya. Bahkan, seperti yang saya alami, menari selama lima menit saja sudah dapat memberikan berbagai manfaat bagi kesehatan, terutama kesehatan otak.
Seiring bertambahnya usia, banyak orang perlahan meninggalkan kebiasaan menari. Padahal, menurut Peter Lovatt, psikolog yang meneliti tarian sekaligus mantan penari profesional, manusia sebenarnya terlahir untuk menari.
Salah satu alasan mengapa menari sangat bermanfaat adalah karena menggabungkan gerakan tubuh dan irama musik. Bahkan sejak masih berada dalam kandungan, manusia sudah memiliki kecenderungan alami merespons gerakan dan ritme.
Penelitian terbaru juga menunjukkan, bayi yang baru lahir sudah mampu mengenali dan mengantisipasi pola irama musik.
Sumber gambar, Getty Images
Ahli saraf sekaligus mantan penari balet profesional dari Max Planck Institute for Empirical Aesthetics di Jerman, Julia F. Christensen, mengatakan menari memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak aktivitas fisik lainnya.
“Menari mampu menyatukan tiga hal yang sangat penting bagi kesehatan dan kesejahteraan kita dalam satu aktivitas, sesuatu yang jarang bisa diberikan oleh olahraga lain sekaligus,” jelasnya.
Tiga manfaat tersebut adalah olahraga aerobik, interaksi sosial, dan kebebasan mengekspresikan diri secara kreatif dan melalui musik.
Selain meningkatkan kebugaran tubuh, menari bersama orang lain juga memberikan manfaat tambahan karena membuat kita bersosialisasi.
Saat gerakan tubuh kita selaras dengan orang lain, tubuh akan melepaskan endorfin—hormon yang menimbulkan rasa senang—serta hormon lain yang membantu mempererat hubungan dan rasa kebersamaan dengan orang lain.
Menari sangat baik bagi kita karena melibatkan hampir seluruh bagian tubuh sekaligus mengaktifkan kerja otak. Apalagi jika Anda mempelajari sebuah rangkaian gerakan, bukan sekadar menari bebas.
Anda harus mempelajari pola gerakan yang cukup rumit sekaligus mengingat urutan koreografi yang mengikuti irama musik.
Bahkan, sejumlah penelitian menunjukkan, belajar sebuah koreografi tari dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir dan daya ingat.
Sumber gambar, Getty Images
Dalam percobaan ini, saya memilih mengikuti video latihan menari yang saya temukan di internet.
Cara ini membuat saya lebih mudah menari sendirian dibandingkan harus menciptakan gerakan sendiri saat “berpesta” seorang diri di kantor. Meskipun saya menari sendirian, saya tetap merasa senang.
Aktivitas sederhana itu membuat saya tersenyum. Memang, beberapa kali saya salah langkah dan terlihat kikuk saat berusaha mengikuti gerakan instruktur di video yang cukup rumit.
Tapi, setelah beberapa kali berlatih, saya mulai terbiasa dengan rangkaian gerakannya dan semakin percaya diri karena gerakan saya menjadi lebih cepat.
Manfaat menari tidak hanya membuat suasana hati menjadi lebih baik saat itu juga. Berbagai penelitian menunjukkan menari dapat meningkatkan kesehatan mental dan fungsi otak.
Bahkan, dibandingkan beberapa jenis olahraga lain, menari dinilai lebih efektif dalam memperbaiki suasana hati, mengurangi gejala depresi, dan meningkatkan kualitas hidup.
Sejumlah penelitian juga menemukan, kebiasaan menari dapat menurunkan risiko demensia pada orang dewasa.
Kabar baiknya, manfaat tersebut bisa dirasakan meski hanya menari dalam waktu singkat.
Sebuah penelitian yang melibatkan anak-anak sekolah menemukan, menari bersama selama lima menit sudah cukup meningkatkan konsentrasi mereka saat mengerjakan soal matematika setelahnya.
Menariknya lagi, anak-anak mengaku lebih menikmati aktivitas menari dibandingkan banyak jenis olahraga aerobik lainnya.
Salah satu peneliti, Vassilios Panoutsakopoulos, asisten profesor di Laboratorium Biomekanika, Aristotle University of Thessaloniki, Yunani, menjelaskan hasil penelitian tersebut menunjukkan istirahat sejenak untuk aktivitas fisik seperti menari bisa membantu menjaga konsentrasi dan produktivitas.
Menurutnya, jika tubuh terus dipaksa bekerja tanpa jeda, rasa lelah akan terus menumpuk sehingga kemampuan untuk fokus pun menurun.
Menari selama lima menit ternyata juga bisa membantu meningkatkan kreativitas.
Menurut Julia F. Christensen, hal ini berkaitan dengan apa yang disebut para peneliti sebagai efek inkubasi (incubation effect).
Efek ini mirip dengan kebiasaan “tidur dulu sebelum mengambil keputusan”. Saat kita berhenti sejenak dari pekerjaan dan melakukan aktivitas seperti menari, otak tetap bekerja di belakang layar untuk mencari solusi atas masalah yang sedang dihadapi.
Gerakan tari membantu mengaktifkan bagian-bagian otak yang berperan dalam proses berpikir dan memecahkan masalah.
Penelitian juga menunjukkan, menari secara spontan atau tanpa mengikuti koreografi tertentu dapat merangsang berpikir divergen, yaitu kemampuan menghasilkan berbagai idea atau solusi baru terhadap suatu persoalan.
Sumber gambar, Getty Images
Menurut Christensen, berdansa membantu kita keluar dari pola pikir yang kaku sehingga lebih mudah menemukan ide-ide segar.
Setelah selesai menari, saya merasakan pekerjaan berjalan lancar, termasuk saat menulis artikel ini. Padahal, saya mengikuti gerakan tari yang cukup rumit.
Karena itu, saya penasaran ingin mencoba menari secara bebas di lain waktu untuk melihat apakah kreativitas saya bisa meningkat lebih jauh.
Selain bermanfaat bagi otak, menari tentu saja memberikan banyak manfaat bagi kesehatan fisik. Aktivitas ini dapat memperkuat otot, meningkatkan keseimbangan tubuh, serta membuat seseorang lebih percaya diri dalam mengendalikan gerakan tubuh.
Kemampuan tersebut turut membantu mengurangi risiko terjatuh, terutama pada orang lanjut usia. Itulah sebabnya, para tenaga medis juga memanfaatkan terapi tari sebagai bagian dari penanganan bagi penderita penyakit Parkinson.
Salah satu penelitian berskala kecil menemukan, mengikuti program menari selama 18 bulan bisa meningkatkan keseimbangan tubuh sekaligus memperbesar ukuran hipokampus, bagian otak yang berperan penting dalam daya ingat, proses belajar, dan kemampuan mengenali arah atau ruang.
Dengan berbagai manfaat tersebut, rasanya sulit menemukan alasan untuk tidak mencoba menari.
Selama menjalani tantangan menari setiap hari selama seminggu, saya justru mulai menantikan waktu istirahat selama lima menit untuk menari. Setelah melakukannya, saya merasa lebih bersemangat dan lebih produktif dalam menuntaskan pekerjaan.
Kebiasaan mengambil jeda untuk bergerak seperti ini memang penting. Penelitian terbaru menunjukkan duduk terus-menerus selama lebih dari 30 menit berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker dan kematian dini.
Sebaliknya, orang yang menyelingi waktu duduk dengan aktivitas fisik singkat, meski hanya beberapa menit, dapat memperoleh manfaat yang nyata bagi kesehatan mereka.
Dengan kata lain, hanya lima menit menari di sela-sela pekerjaan bukan sekadar membuat suasana hati menjadi lebih baik, tapi juga membantu menjaga kesehatan otak, tubuh, dan meningkatkan produktivitas.
Lalu, bagaimana cara mulai membiasakan diri menari?
Menurut Julia F. Christensen, langkah pertama yang paling penting adalah memilih musik yang benar-benar Anda sukai.
Setelah itu, Anda bisa mencari video gerakan tari di internet dan mencoba menirukannya. Tidak perlu langsung mahir, yang terpenting adalah menikmati prosesnya.
Agar manfaatnya semakin besar, Christensen juga menyarankan untuk mengikuti kelas tari bagi pemula atau kelas olahraga yang dipadukan dengan tarian. Selain menyehatkan tubuh, kegiatan ini juga memberi kesempatan untuk bersosialisasi dengan orang lain.
Sumber gambar, Getty Images
Sementara itu, psikolog tari Peter Lovatt mengatakan banyak orang enggan menari karena merasa malu atau tidak percaya diri dengan kemampuan mereka. Padahal, anggapan itu perlu diubah.
“Kita harus meyakinkan orang bahwa setiap tubuh adalah tubuh yang bisa menari.”
Lovatt sendiri mengaku masih menari setiap hari.
Pendapat serupa diutarakan Vassilios Panoutsakopoulos. Menurutnya, rutin berolahraga, baik lewat menari maupun aktivitas fisik lainnya, bisa meningkatkan kualitas hidup.
Selain membuat tubuh lebih sehat, kebiasaan ini juga membantu meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan mengendalikan diri.
Dalam menari, seseorang dituntut untuk mengingat sekaligus mengikuti urutan gerakan tertentu, sehingga kemampuan tersebut ikut terlatih.
“Kalau Anda punya kesempatan untuk mencobanya, manfaatkanlah sebaik mungkin,” ujarnya.
Pengalaman saya juga menunjukkan, memulai kebiasaan menari ternyata tidak sulit. Saya hanya perlu mencari video latihan menari berdurasi lima menit di internet, dan menemukan banyak pilihan yang bisa dicoba. Yang terpenting, pilihlah gerakan yang sesuai dengan kemampuan agar tetap nyaman dan menyenangkan.
Awal-awal, saya merasa lebih tenang karena tidak ada orang yang meliha, tapi seiring rasa percaya diri saya tumbuh, bukan tidak mungkin suatu hari nanti saya akan mencoba menari bersama lebih banyak orang.
No Comments