Sumber gambar, ANTARA FOTO
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mencetak rekor paling lemah terbaru. Per Jumat (15/05) kurs dolar menyentuh Rp17.600. Masyarakat makin bersiap mengencangkan ikat pinggang karena sejumlah pakar meneropong harga kebutuhan sehari-hari bakal ikut terdampak.
Impor ini tersebar pada industri kimia, tekstil, elektronik, minyak dan gas, obat-obatan, hingga kendaraan pribadi.
Hampir sebagian besar semua barang jadi dari sektor industri ini ada di halaman rumah, di dalam laci lemari, kamar, dapur di rumah kita.
Dengan nilai tukar rupiah yang makin melemah, harga-harga bahan baku impor ini terkerek naik karena transaksinya menggunakan dollar AS.
“Ini membuat cost of production (biaya produksi) produsen domestik menjadi semakin mahal,” kata Teuku Riefky, peneliti di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM FEB UI).
Di tengah kondisi ini, ada dua kemungkinan yang dilakukan produsen: menaikkan harga barang atau terpaksa memangkas keuntungan—meskipun di lapangan yang nampak lebih menaikkan harga atau mengurangi porsi produk.
“Implikasinya terhadap masyarakat sehari-hari adalah tentu biaya hidup yang akan semakin mahal,” katanya.
Selain impor bahan baku, Indonesia juga masih impor sekitar 20% barang modal. Contohnya, mesin-mesin pabrik, robot industri, pesawat, kereta sampai peralatan laboratorium.
Selain itu sebanyak 9% Indonesia masih impor barang konsumsi. Misalnya, buah, daging, baju dan sepatu, ponsel, laptop, kosmetik dan skincare, sampai kedelai–yang diketahui impornya lebih dari 90%.
Joko Wiyatno, perajin tahu di Semarang, Jawa Tengah, semakin terimpit.
Dalam tiga bulan terakhir, harga kedelai terus naik. Dari yang semula di kisaran Rp7.000 per kilogram, kini sudah menyentuh rentang harga Rp10.500 per kilogram—untuk jenis kedelai yang paling murah.
Di sisi lain, pembeli di pasar semakin sepi.
“Kalau sekarang mau menaikkan harga, kurang pas juga sih karena daya belinya turun banget,” kata Joko kepada wartawan Kamal yang melaporkan kepada BBC News Indonesia.
Sumber gambar, Dokumentasi Joko Wiyatno/Kamal
Jalan tengahnya, dia memutuskan untuk “mengurangi takaran”.
“Padahal kalau kita kurangi kan otomatis tahunya jadi tipis atau kurang maksimal lah. Ukurannya agak kecil,” ujarnya.
Bagi pria berusia 53 tahun itu, harga kedelai yang menyentuh nilai Rp10.000 per kilogram tergolong tinggi dan sudah bikin “kelabakan”.
Dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika harga kedelai naik lagi.
Itu harga kedelai, belum harga bahan lainnya seperti plastik dan minyak goreng yang juga mengalami kenaikan. Harga plastik naik 100% dan harga minyak sekitar 25%, menurutnya.
Sumber gambar, Dokumentasi Joko Wiyatno/Kamal
Kalau merasa sudah sangat terimpit, Joko bilang, mungkin dia dan para perajin lainnya akan mempertimbangkan kenaikan harga.
Taktik memperkecil ukuran juga dilakukan Sururi, perajin tempe di Makassar, Sulawesi Selatan.
“Kalau saya kasih naik harganya pasti konsumen lari ke tempat yang lain. Habis konsumen saya nanti,” kata Sururi kepada wartawan Muh. Aidil yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.
Dia bilang, harga kedelai naik sejak “gonjang-ganjing di luar negeri”, beberapa bulan lalu.
Sumber gambar, Muh. Aidil
Sebelumnya, dia membeli kedelai di harga Rp10.800 per kilogram. Sekarang Sururi harus menyiapkan modal Rp11.000 untuk sekilo kedelai.
Harga segitu pun sebenarnya masih dapat diskon karena dia mengambil dalam jumlah besar—500 kilogram sekali angkut, untuk 12 hari produksi.
“Nanti mau naik lagi (harganya),” kata laki-laki yang sudah membuat tempe selama 30 tahun lebih itu.
Sekarang, Sururi menjual tempenya seharga Rp5.000 per potong. Kadang, dia harus memotong tempe lebih kecil lagi atas permintaan konsumennya.
Meski pelemahan rupiah mempengaruhi impor kedelai, tapi ada faktor lain yang turut mempengaruhi harganya yang tinggi di pasar lokal.
Kajian NEXT Indonesia Center menemukan akses impor yang hanya dikuasai segelintir pelaku usaha besar berjaringan global, membuat mereka bisa “memainkan harga” tertentu demi mendapatkan keuntungan.
Artinya, ketika harga kedelai dunia turun, mereka bisa menjaga harga kedelai di pasar domestik tetap tinggi. Dalam hal ini, pada akhirnya, dinamika global tidak sepenuhnya tercermin dalam harga domestik.
Sumber gambar, Dokumentasi Joko Wiyatno/Kamal
Pada Februari 2024 hingga Februari 2026, NEXT menemukan harga kedelai impor di pasar domestik berada di kisaran Rp13.300—Rp15.100 per kilogram.
Padahal harga kedelai internasional hanya Rp6.000—Rp8.100 per kilogram.
“Selisih harga yang lebar ini sulit dijelaskan hanya dengan alasan ada tambahan biaya logistik dan distribusi,”
Kepala peneliti NEXT, Ade Holis, mengatakan kajiannya itu masih relevan dengan depresiasi rupiah terhadap dolar yang terus terjadi.
Ade berasumsi, dengan pelemahan rupiah yang terjadi saat ini, kemungkinan keuntungan para pelaku besar usaha kedelai akan berkurang, tetapi tidak signifikan. Itu terjadi kalau mereka tidak menaikkan harga ke konsumen.
Namun, ketika mereka menaikkan harga jual di tingkat konsumen, pada akhirnya masyarakat yang menanggung beban kenaikan harga sebagai dampak dari pelemahan rupiah, kata Ade.
Dosen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Hani Perwitasari, mengatakan fenomena ini hampir terjadi pada semua impor pangan.
Saksikan juga
Saat harga dunia naik, harga domestik cepat ikut naik. Tapi saat harga dunia turun, harga di pasar domestik tidak selalu turun dengan cepat, atau bahkan tetap tinggi.
Hal ini karena pelaku pasar ingin menjaga keuntungan hingga pengaruh biaya distribusi dan stok lama.
“Kita namanya saluran pemasaran ya. dari petani ke pengepul, pengepul ke konsumen, bahkan mulai dari impor. Nah itu semakin panjang, itu kemungkinan asimetris harganya semakin tinggi,” katanya.
Ada dua faktor yang membuat rupiah lesu terhadap dolar AS, kata Teuku Riefky.
Pertama, faktor luar negeri (eksternal) yaitu perang AS-Israel dengan Iran yang dimulai sejak 28 Februari. Perang membuat distribusi minyak dan gas terhambat, harganya jadi melambung. Sampai kapan perang berakhir juga belum bisa diprediksi.
Akibatnya, para pemodal menarik uang atau investasinya dari perusahaan, surat berharga, deposito, properti dan investasi lain dari negara berkerkembang, lalu memindahkan ke negara lain yang lebih aman dan stabil.
“Faktor eksternal ini dirasakan bukan hanya Indonesia, tapi berbagai negara berkembang itu merasakan arus modal keluar, sehingga itu melemahkan rupiah,” kata Riefky.
Sumber gambar, Teuku Riefky
Kedua, faktor dalam negeri (domestik). Kata Riefky, pemasukan dan pengeluaran duit negara, cicilan utang dan uang cadangan ikut mempengaruhi. Prospek kondisi fiskal Indonesia ini mendapat peringatan dari lembaga pemeringkat kredit dunia Moody’s dan Fitch.
Lembaga-lembaga ini melihat prospek negatif pada Indonesia karena ketidakpastian kebijakan, serta lantaran pendapatan rendah tapi belanja tinggi. Artinya ada risiko kondisi keuangan negara memburuk ke depan.
“Ini membuat investor ragu terhadap kapasitas pembayaran APBN kita, membuat terjadi capital outflow (arus modal keluar)… Ini juga memicu pelemahan rupiah,” katanya.
Saat kurs dolar menyentuh Rp17.424 per 5 Mei 2026, Bank Indonesia (BI) menyiapkan tujuh langkah untuk memperkuat nilai tukar rupiah.
Langkah-langkah ini mencakup intervensi langsung di pasar valuta asing (baik dalam negeri maupun luar negeri), menarik kembali aliran modal asing melalui instrumen keuangan seperti Sekuritas Rupiah BI, serta membeli surat utang negara (SBN) untuk menjaga stabilitas pasar.
Selain itu, BI juga meningkatkan likuiditas perbankan, memperketat aturan pembelian dolar agar tidak berlebihan, memberi fleksibilitas kepada bank untuk ikut intervensi di pasar global, dan memperkuat pengawasan terhadap bank serta perusahaan yang banyak membeli dolar.
Sumber gambar, ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
“Peningkatan pengawasan kepada bank-bank dan korporasi yang kami lihat aktivitas pembelian dolarnya tinggi, kami kirim pengawas ke sana,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo seperti dikutip Tempo.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Keuangan berencana mengaktifkan sejumlah instrumen stabilisasi pasar mulai Rabu (13/05). Salah satunya melalui intervensi di pasar obligasi negara atau Surat Berharga Negara (SBN).
Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan mengklaim pemerintah akan menjaga harga pangan dengan subsidi. Suntikan anggaran ini untuk mengurangi beban ongkos produksi dan biaya distribusi.
Sumber gambar, ANTARA FOTO/Kornelis Kaha
“Kalau harga itu melampaui HET (harga eceran tertinggi), tentu pemerintah akan turun tangan memberikan subsidi,” kata Zulhas seperti dikutip Kompas, Rabu (13/05). Subsidi ini kemungkinan akan diambil dari pos anggaran “bencana atau situasi tidak terduga”.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Sarman Simanjorang mengatakan, untuk saat ini pelaku usaha masih mengupayakan agar kenaikan biaya tidak langsung dibebankan ke konsumen.
Upaya tersebut dilakukan melalui inovasi penghematan biaya produksi, mencari alternatif bahan baku dalam negeri, hingga mengurangi ukuran produk tanpa menaikkan harga jual.
Pelemahan rupiah mulai memengaruhi psikologis pelaku usaha, tambah Sarman Simanjorang.
Apabila pelemahan rupiah berlangsung berkepanjangan, daya tahan pelaku usaha akan semakin terbatas dan berpotensi mempengaruhi ekspansi bisnis maupun penyerapan tenaga kerja.
Selain itu, dikhawatirkan kenaikan biaya operasional dan produksi akan dibebankan ke konsumen sehingga harga-harga menjadi naik.
Penyesuaian harga ini tentu akan mempengaruhi daya beli masyarakat dan inflasi.
Sumber gambar, ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
“Jika pelemahan nilai tukar ini berkepanjangan dikhawatirkan omzet pelaku usaha semakin tertekan dan akhirnya melakukan rasionalisasi pekerja,” kata Sarman seperti dikutip Kompas, Rabu (13/05).
Ekonom dari Universitas Indonesia, Teuku Riefky menyebut dua skenario terburuk jika rupiah terus melemah.
Pertama, Indonesia dikhawatirkan akan masuk dalam krisis utang alias tak mampu membayar utang tepat waktu. Hal ini dapat terjadi jika pemerintah tidak mengurangi belanjanya.
Kedua, jika pemerintah mengurangi belanja maka akan terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Per Maret 2026, utang pemerintah Indonesia mencapai Rp9.920,42 triliun. Tapi Menteri Purbaya membuat klaim angka tersebut masih aman karena rasionya 40,75% PDB masih di bawah batas 60%.
Purbaya juga mengatakan, pemerintah akan menyiapkan jurus Bond Stabilization Fund (BSF) atau pendanaan stabilitas obligasi dalam kondisi krisis, meski tidak merinci cara dan jumlahnya anggarannya.
Sumber gambar, ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
Dalam postur APBN 2026, terdapat anggaran belanja untuk 98 kementerian lembaga. Daftar daftar kementerian dan lembaga dengan anggaran belanja jumbo berdasarkan Buku II Nota Keuangan 2026, dan masih dipertahankan sampai kini, antara lain:
Jurnalis Muh. Aidil di Sulawesi Selatan dan Kamal di Jawa Tengah ikut berkontribusi dalam reportase ini.
No Comments