Sumber gambar, Getty Images
Waktu membaca: 12 menit
“Dunia Persia bertanggung jawab atas banyak gagasan yang kita miliki di Barat,” kata Profesor José Cutillas, yang belajar dan mengajar di Iran.
“Dari sudut pandang kita, kita mengira semuanya Euro-sentris, bahwa segalanya berasal dari dunia Yunani-Latin dan dari sanalah awal bagi setiap pemikiran,” ujar profesor Bahasa Persia dan Budaya Iran di Universitas Alicante, Spanyol.
Namun, pada periode Persia pra-Islam, muncul konsep-konsep yang “sangat kita biasakan; tak terhitung banyaknya unsur yang berasal dari dunia tersebut yang kita jadikan sebagai milik kita sendiri”.
Sebagai contoh, ketika mempelajari bagaimana masyarakat Eropa terstruktur pada tingkat politik-administratif, Profesor Cutillas menemukan karakteristik yang jelas tertanam dalam Kekaisaran Persia Achaemenid (550–330 SM).
Secara religius, keyakinan pada satu Tuhan alias monoteisme telah hadir di Iran kuno sekitar 3.500 tahun lalu, ketika Zarathustra mendirikan Zoroastrianisme.
“Konsep malaikat dan nabi sudah kita lihat dalam Zoroastrianisme,” kata akademisi tersebut.
Demikian pula dengan konsep surga dan neraka, tambahnya.
Bagi sejarawan Tom Holland, “Persia setidaknya sama berpengaruhnya dalam sejarah dunia seperti Athena, jika tidak lebih besar”.
Sang penulis berpartisipasi dalam diskusi bertajuk “What have the Persians ever done for us?” (Apa yang pernah dilakukan orang Persia bagi kita?) yang diselenggarakan School of Oriental and African Studies, University of London, dan British Iranian Society.
Tom Holland menyebut bahwa Herodotus, yang disebut sebagai bapak sejarah di negara-negara Barat, merupakan pengagum orang Persia.
“Ia (Herodotus) memiliki ungkapan terkenal yaitu orang Persia mengajarkan tiga hal: memanah, menunggang kuda, dan mengatakan kebenaran.”
Bagi raja-raja Kekaisaran Persia, kebenaran terlibat dalam “sebuah pertempuran alam semesta” melawan kebohongan, seperti terang melawan gelap, kebaikan melawan kejahatan.
Berikut kontribusi Persia, sebelum dan sesudah Islam, terhadap kehidupan khalayak sehari-hari.
Antara 5.000 hingga 2.000 tahun lalu, laki-laki dari berbagai peradaban mengenakan rok: mulai dari bangsa Sumeria, Asyur, hingga Yunani, demikian dicatat Institut Arkeologi Jerman dalam dokumenter The Invention of the Trousers (Penemuan Celana).
Orang Romawi pergi berperang dengan memakai jubah yang dililitkan ke badan, yaitu tunik.
Menentukan dengan tepat di mana dan kapan celana ditemukan sangatlah kompleks.
Namun, banyak pakar meyakini, bangsa-bangsa nomaden seperti suku Skithia, yang berasal dari Iran, memperkenalkan celana.
Sumber gambar, Bildagentur-online/Universal Images Group via Getty Images
“Pada 600 SM, dalam seni Yunani, celana menjadi simbol para pemanah asing, terutama Skithia, Persia, dan Amazon,” tulis Adrienne Mayor dalam artikel “Who Invented Trousers?” di majalah Natural History.
Pada bejana-bejana Yunani, muncul penggambaran pejuang perempuan dan sebagian besar dari mereka “mengenakan tunik dan celana, atau legging, mirip dengan yang digunakan laki-laki Skithia”, kata sejarawan tersebut, sambil mengingatkan pada artefak berikut.
Sumber gambar, Universal History Archive/ Universal Images Group vía Getty Images
Menurut Museum Arkeologi Yunani, Herodotus menceritakan bahwa orang Persia “memakai penutup kepala yang longgar”, tunik berlengan, dan “celana”.
Mereka mengenakan celana karena leluhur mereka, jelas Lloyd Llewellyn-Jones, profesor di Universitas Cardiff, dalam video British Museum Persia and Greece – Objects in Focus: Oxus Treasure figures.
“Orang Persia berasal dari stepa Eurasia dan merupakan bangsa nomaden yang menunggang kuda.”
Aktivitas tersebut sangat mendasar dalam kehidupan mereka. Sehingga untuk melindungi tubuh serta tetap nyaman saat menempuh jarak jauh, mereka mengenakan celana.
Sumber gambar, Spencer Platt/Getty Images
Sangat mungkin orang Persia membantu menyebarkan pakaian tersebut. Dalam bahasa Persia, misalnya, terdapat kata yang berarti “pakaian kaki”: pā(y)ǧāme.
Menurut kamus bahasa Spanyol, dari kata tersebut muncul kata dalam bahasa Hindi pā(e)ǧāma. Kata itu memunculkan istilah bahasa Inggris, yaitu pyjamas.
Dari kata terakhir inilah muncul kata piyama.
Piyama, yang dipahami sebagai pakaian tidur, menjadi populer pada akhir abad ke-19 setelah orang Inggris melihat penduduk India mengenakan blus dan celana longgar.
Pada September 2025 lalu, dalam sebuah konferensi UNESCO, terdapat sebuah inisiatif untuk mempromosikan prinsip-prinsip yang tertuang dalam sebuah benda berusia lebih dari 2.500 tahun.
Dikenal sebagai Silinder Cyrus, objek tersebut merupakan sebuah benda tanah liat yang diukir dengan tulisan paku berisi berbagai kebijakan reformasi yang ditempuh seorang raja Persia.
Banyak pakar menganggap benda itu merupakan piagam hak asasi manusia pertama yang dikenal khalayak umum.
Silinder itu berasal dari tahun 539 SM. Ketika itu Cyrus Agung, yang baru saja menaklukkan Babilonia, memimpin kekaisaran besar pertama di dunia.
Sumber gambar, Tish Wells/Tribune News Service via Getty Images
Raja Cyrus tidak hanya membebaskan para tawanan yang diperbudak, tetapi juga mengizinkan mereka kembali ke tanah asal. Ia juga menghormati tradisi dan agama puluhan komunitas etnis.
Neil MacGregor, mantan direktur British Museum, mengingatkan dalam ceramah TedTalk bertajuk “A History of the World in 100 Objects” bahwa masuknya Cyrus ke Babilonia “tanpa pertempuran” merupakan “momen besar dalam sejarah bangsa Yahudi”.
Berkat raja Persia tersebut, orang-orang Yahudi dapat kembali ke Yerusalem, yang sebelumnya dijarah oleh bangsa Babilonia.
Sumber gambar, VCG Wilson/Corbis via Getty Images
Kekaisaran yang dipimpin Cyrus adalah “negara multikultural dan multiagama berskala besar pertama”, sebuah kekuatan yang menikmati stabilitas selama 200 tahun.
Warisan Cyrus mencapai Eropa, yang menjadikannya sebagai teladan. Sebuah buku karya Xenophon (sejarawan Yunani kuno) tentang dirinya “menjadi salah satu teks besar yang menginspirasi para Bapak Pendiri Revolusi Amerika Serikat”, ujar MacGregor.
“Objek ini merupakan salah satu pernyataan besar tentang aspirasi manusia. Ia muncul dalam Konstitusi Amerika Serikat. Tanpa diragukan lagi, ia mengatakan jauh lebih banyak tentang kebebasan nyata dibandingkan Magna Carta.”
Hari ini, silinder itu mengingatkan kita akan “hak bangsa-bangsa untuk hidup bersama dalam satu negara yang sama, dengan keyakinan berbeda, dalam kebebasan”.
“Alasan mengapa sebagian besar rumah memiliki taman atau halaman kemungkinan besar karena orang Persia,” tulis Jonny Thomson dalam artikel berjudul “5 ways ancient Persia shaped our modern world” di Big Think.
Filsuf tersebut menyoroti bahwa meskipun orang Mesir memiliki oasis dan orang Babilonia memiliki Taman Gantung, orang Persia-lah yang mempopulerkan taman.
Taman tidak hanya menjadi ruang kenikmatan bagi para penguasa, tetapi juga bagi masyarakat luas dalam upaya mencari harmoni dengan alam semesta.
Sumber gambar, Kaveh Kazemi/Getty Images
“Taman Persia” masuk dalam daftar Warisan Dunia Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO).
“Dicirikan oleh pembagiannya menjadi empat sektor dan oleh kehadiran air yang menyeluruh sebagai unsur irigasi dan ornamen, taman Persia dirancang sebagai simbol Eden dan empat unsur Zoroastrian: langit, bumi, air, dan dunia tumbuhan,” jelas UNESCO.
Kaitan antara taman dan surga di bumi ini membawa kita pada asal-usul kata tersebut.
Kata “paradise” dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Latin, yaitu paradīsus.
Kata ini berasal dari bahasa Yunani, parádeisos: “taman”, “surga”.
Orang Yunani mengambilnya dari pairidaēza, sebuah kata dalam bahasa Avesta (dialek Iran kuno) yang merujuk pada taman-taman kerajaan.
Sumber gambar, Eric Lafforgue/Art in All of Us/Corbis via Getty Images
Terlepas dari etimologi taman, UNESCO menyoroti bagaimana taman Persia menjadi “referensi utama bagi perkembangan desain taman di Asia Barat, negara-negara Arab, dan bahkan Eropa”.
“Geometri dan simetri arsitektur, bersama dengan sistem pengelolaan air yang kompleks, tampaknya memengaruhi desain semua taman tersebut.”
Penulis Jonny Thomson dalam artikel “5 ways ancient Persia shaped our modern World” mencatat bahwa meskipun orang Mesir dan Asyur memiliki layanan kurir, orang Persia memberikan kepada dunia “jaringan distribusi dan kantor pos pertama”.
Layanan itu tercipta pada masa Kekaisaran Persia pimpinan Darius I, yang naik takhta pada 521 SM.
Menurut akademisi tersebut, para kurir menempuh jarak jauh dengan menunggang kuda dan tiba di tempat-tempat yang ditetapkan untuk beristirahat.
Sumber gambar, Getty Images
Keesokan paginya, mereka sarapan, mengambil kuda lain, dan melanjutkan perjalanan.
“Itu jauh lebih cepat, lebih aman, dan jauh lebih efektif dibandingkan sistem sebelumnya.”
Profesor Cutillas mengingatkan betapa luasnya Kekaisaran Persia yang membentang di tiga benua.
“Untuk berkomunikasi, mereka harus menciptakan sistem pos; itulah cara untuk menjaga seluruh bagian kekaisaran tetap terhubung, dan sistem itu kita gunakan sampai hari ini.”
Pada 1929, sebuah penemuan memukau para arkeolog.
Pada penggalian di Siberia, ditemukan makam-makam dengan jasad termumikan, sebuah kereta seremonial, dan berbagai benda berusia hampir 2.500 tahun.
“Dari semua harta karun yang ditemukan di Pazyryk, mungkin yang terpenting adalah sebuah karpet tebal berwarna-warni, ditenun dengan teknik khusus, di permukaan hampir persegi (sekitar 2 x 2 meter) yang menggambarkan kuda dan penunggangnya, rusa yang merumput, griffin, dan tanaman bergaya,” tulis Mariya Zavitukhina dalam Pazyryk: the frozen people of the Altai.
“Karpet ini, yang tertua di dunia dalam jenisnya, membangkitkan kekaguman yang sepantasnya atas keterampilan para penenun Iran.”
Sumber gambar, Biblioteca Ambrosiana/Getty Images
Menurut artikel UNESCO tersebut, kemungkinan para nomaden di kawasan itu menukar ternak dan logam mulia dengan karpet dan pakaian wol “yang dibuat dengan gaya khas Iran”, yang datang melalui Asia Tengah.
Meskipun sangat sulit menentukan kapan dan di mana karpet lahir, segala petunjuk mengarah pada perkembangannya di wilayah luas yang dikenal sebagai sabuk karpet, yang mencakup Asia Tengah dan Timur Tengah, termasuk Iran saat ini, kata Margaret Squires, dosen di Courtauld Institute of Art, London, kepada BBC Mundo.
“Seni menenun karpet setidaknya berusia 2.500 tahun, kemungkinan jauh lebih tua,” tambahnya.
Namun, terlepas dari tempat asal karpet, Iran merupakan aktor kunci dalam perkembangan pembuatan karpet.
“Tanpa ragu, karpet berikat adalah ekspor budaya Iran yang paling dikenal di dunia, dan hal itu bermula pada abad ke-16 ketika, selama periode Dinasti Safawi, karpet digunakan sebagai hadiah diplomatik.”
Sumber gambar, Heritage Art/Heritage Images vía Getty Images
Sebagian karpet merupakan barang mewah, dirancang secara cemerlang oleh para seniman dan diikat dengan tangan, lalu diberikan kepada raja-raja dan lembaga keagamaan.
Seiring berjalannya waktu, karpet berubah menjadi komoditas dan manifestasi seni yang diakui secara internasional.
“Dalam konteks Barat Kristen, pemikiran bahwa karpet menandai sebuah ruang diwujudkan secara jelas dengan menempatkan karpet Persia di bawah peti jenazah Paus, yang terjadi dalam tiga pemakaman kepausan terakhir. Benda itu menandai ruang suci.”
Sumber gambar, Jakub Porzycki/Anadolu via Getty Images
“Saya pernah berada di gereja-gereja Katolik di banyak negara dan melihat karpet Persia di kaki altar,” katanya.
“Kita sudah begitu terbiasa melihatnya dalam kehidupan sehari-hari sehingga tidak menyadari keterkaitan budayanya.”
Pada 1913, William Osler, yang dianggap sebagai bapak kedokteran modern, menyampaikan serangkaian kuliah berjudul “The Evolution of Modern Medicine” di Universitas Yale, Amerika Serikat.
Dokter asal Kanada itu berbicara tentang “salah satu nama terpenting dalam sejarah kedokteran”: Ibnu Sina, yang dikenal di Barat sebagai Avicenna.
“Ia adalah penulis buku teks kedokteran paling terkenal yang pernah ditulis. Dengan aman dapat dikatakan bahwa Canon tetap menjadi kitab kedokteran lebih lama dibandingkan karya lainnya.”
Osler merujuk pada Canon of Medicine, sebuah ensiklopedia lima jilid yang mulai ditulis oleh dokter Persia tersebut—sosok termashyur pada Zaman Keemasan Islam—pada 1012.
Sumber gambar, Bettman/Getty Images
Ibnu Sina, yang lahir pada 980, merangkum pengetahuan dari sumber Yunani, Romawi, India, Persia, dan Islam, serta memasukkan pengamatan dan eksperimennya sendiri.
Canon menjadi landasan utama pengajaran kedokteran di universitas-universitas Eropa, “terutama selama Renaisans”, kata New York University.
“Terlepas dari kebangkitan anatomi dan penemuan-penemuan ilmiah baru, Canon terus dipelajari, mencerminkan integrasinya yang mendalam dalam kedokteran akademik.”
Karya tersebut digunakan di fakultas-fakultas kedokteran Eropa hingga pertengahan abad ke-17; bahkan di Universitas Padua, Canon digunakan hingga 1715.
Meskipun dua cendekiawan Persia, Al-Razi dan Al-Majusi, telah menulis teks-teks kedokteran yang dianggap agung, para pakar menyoroti metode ilmiah Ibnu Sina dalam Canon karena dianggap amat sistematis dan jelas.
Sumber gambar, Universal History Archive/Universal Images Group via Getty Images
Begitu luas pemikiran Avicenna sehingga sebagian orang melihat dampak terbesarnya justru dalam filsafat.
Bagi Tony Street, profesor emeritus Universitas Cambridge, pada akhir hidupnya Ibnu Sina “telah menggantikan Aristoteles sebagai filsuf terpenting sepanjang masa, setidaknya bagi para cendekiawan Muslim”.
Dan semuanya bermula ketika Ibnu Sina masih remaja. Setelah menyembuhkan seorang sultan, ia diberi akses ke perpustakaan megah Dinasti Samaniyah, sebuah dinasti Iran yang mendorong pendidikan.
Sangat mungkin Anda pernah mendengar Al-Khawarizmi, yang disebut sebagai bapak aljabar.
Berkat sebuah buku karya matematikawan Persia ini, dunia Barat mengenal sistem bilangan Hindu-Arab yang, bersama titik atau koma desimal, menjadi dasar angka yang kita gunakan.
Al-Khawarizmi lahir pada 780 dan bermigrasi dari Persia timur ke Baghdad. Di sana ia memimpin sebuah lembaga bernama Baitul Hikmah yang didirikan pada Zaman Keemasan Islam.
Matematikawan terkemuka lain dari periode itu adalah Omar Khayyam, yang lahir pada 1048 di Nishapur, sebuah pusat intelektual Iran.
Sumber gambar, Bettman/Getty Images
“Omar Khayyam dan, secara umum, sains serta matematika Persia, sangat dipengaruhi oleh seluruh perkembangan yang ada di dunia Arab,” kata Marcus du Sautoy, profesor matematika di Universitas Oxford, kepada BBC Mundo.
“Khayyam adalah salah satu pelopor penggunaan aljabar, bahasa matematika baru yang diperkenalkan oleh Baitul Hikmah dan Al-Khawarizmi, dan yang membantu kita memahami cara kerja angka.”
Dengan Treatise on Demonstration of Problems of Algebra yang revolusioner, Khayyam memperluas bidang tersebut ke persamaan kubik, yaitu persamaan yang muncul dalam persoalan yang berkaitan dengan bangun tiga dimensi dan volume.
Bagi dirinya, aljabar merupakan jalan untuk menyelesaikan persoalan geometri dan aritmetika.
Dia berhasil mengidentifikasi 14 jenis persamaan kubik yang berbeda dan menawarkan metode untuk menyelesaikan sebagian di antaranya.
Sumber gambar, ATTA KENARE/AFP via Getty Images
Ada yang menganggap Khayyam sebagai orang pertama yang menyajikan teori umum persamaan kubik dan yang pertama melakukan penelitian ilmiah sistematis tentangnya.
“Keaslian Omar Khayyam terletak pada pemecahan jenis persamaan tersebut ketika belum ada prosedur untuk melakukannya,” kata Alfonso J. Población, profesor matematika di Universitas Valladolid, Spanyol, kepada BBC Mundo.
Baru pada abad ke-16, 500 tahun kemudian, Eropa mencapai kemajuan di bidang tersebut.
Ketika Anda melihat sebuah persamaan dengan x³, Anda mungkin teringat Khayyam. Variabel berpangkat tiga itu muncul dalam berbagai persoalan di bidang ekonomi, teknik, komputasi, dan banyak lagi.
Bahkan saat melihat sebuah almanak, Anda mungkin mengingat matematikawan ini.
Perhitungannya membantu merancang kalender Persia, yang dianggap sebagai salah satu yang paling akurat dalam sejarah—jauh lebih presisi daripada kalender Gregorian.
Anda juga mungkin telah mengenal Khayyam di internet melalui puisi-puisinya.
Karya Rubaiyat-nya menjadi alasan mengapa banyak orang di Barat mengenalnya.
Lebih dari 2.000 tahun lalu di Persia, bayam dibudidayakan untuk pertama kalinya.
Orang-orang di China diyakini telah mengonsumsi bayam pada abad ke-6. Lalu sekitar abad ke-11, orang Arab membawanya ke Spanyol, menurut Universitas Wisconsin–Madison.
“Pada abad ke-14, bayam telah menyebar ke seluruh Eropa dan, bersama para kolonis pertama, tiba di Amerika.”
Kata spinach dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Arab isbānaẖ atau isfānaẖ, yang bersumber dari bahasa Persia, yaitu espenāẖ.
Sumber gambar, History/Universal Images Group vía Getty Images
Artikel ini ditutup dengan menyebutkan apa yang telah menjadi makanan bagi jiwa orang-orang Iran (dan non-Iran) selama berabad-abad: puisi mereka.
Beberapa bait karya Sa’di—penyair yang dikagumi Voltaire, Goethe, dan Victor Hugo—disulam pada sebuah karpet Persia yang berada di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Terjemahannya saya temukan dalam sebuah publikasi Kedutaan Besar Iran di Meksiko:
“Manusia adalah anggota dari satu tubuh
Diciptakan dari esensi dan jiwa yang sama
Jika satu anggota menderita kesakitan
Yang lain tidak dapat tetap tenang
Jika engkau tidak merasakan belas kasih atas penderitaan manusia
Engkau tidak layak menyandang nama manusia”.
No Comments