Thursday, 20 Aug 2026

Perempuan: Pejabat kementerian di Prancis diduga membius ratusan perempuan selama bertahun-tahun

9 minutes reading
Thursday, 20 Aug 2026 03:45 1 german11


Anaïs de Vos is wearing a dark blue shirt with an open neck and is standing in front of bushes and a low, bright blue wall. She is wearing a gold necklace and has light, curly hair.
Keterangan gambar, Anais de Vos menuding pejabat Kementerian Kebudayaan Prancis membiusnya.

Peringatan! Artikel ini memuat deskripsi tentang kekerasan seksual yang mungkin akan membuat Anda tidak nyaman!

“Saya benar-benar lemah. Saya tidak bisa merasakan kaki saya lagi,” kata Anais de Vos.

“Saya takut. Saya tidak tahu apa yang terjadi.”

Juli 2011, Anais yang saat itu berusia 27 tahun menjalani tahap wawancara dalam proses penerimaan kerja sebagai pegawai Kementerian Kebudayaan Prancis di Paris.

Anaïs bukan orang terbiasa minum kopi. Namun ketika pewawancaranya, seorang pegawai negeri senior bernama Christian Negre, menawarinya kopi, Anaïs tidak menolak. Alasannya karena sopan santun.

Anais berkata, Negre membuat sendiri kopi itu. “Rasanya tidak enak, jadi saya hanya minum sekitar setengahnya,” ujar Anais kepada BBC Global Women.

Wawancara itu berlangsung di kantor Kementerian Kebudayaan. Setelah beberapa menit, Negre menyarankan agar mereka berdua pergi ke luar.

Saat mereka berjalan-jalan di jalanan Paris, Anais mulai merasakan kebutuhan yang tak dapat dijelaskan dan tak terkendali untuk buang air kecil.

Anais merasa tidak nyaman memberi tahu Negre bahwa ia ingin kembali ke kantor untuk menggunakan toilet, jadi dia mengatakan kepada laki-laki itu bahwa ia kedinginan sebagai alasan untuk kembali ke gedung.

Namun, kata Anais, Negre pergi begitu saja, lalu mengarahkan mereka ke tepi Sungai Seine. Di situ Anais lalu mengatakan kepada Negre bahwa dia perlu segera menemukan toilet.

“Dia menatap mata saya dan berkata, ‘Oh, apakah Anda perlu buang air kecil?'”

“Saya merasa seperti anak kecil. Kupikir cara dia menatapku sangat aneh, hampir seperti sedang gembira,” ujar Anais.

A man in a dark suit jacket, pale shirt and blue tie with short grey hair. He is wearing glasses. There is a plain cream-coloured wall behind him.

Sumber gambar, Grand Est Region & Bas-Rhin Prefect

Keterangan gambar, Sekitar 250 perempuan menuduh petinggi Kementerian Kebudayaan Prancis, Christian Negre, membius mereka antara tahun 2009 hingga 2018.

Anais berkata, Negre mengarahkannya ke pintu lemari penyimpanan di bawah jembatan di Sungai Seine.

“Kamu bisa melakukannya di sini,” ujar Anais mengulang kata-kata Negre kepadanya saat itu.

Anais adalah salah satu dari hampir 250 perempuan yang menuduh Negre membius mereka. Beragam tuduhan itu diperkirakan terjadi antara tahun 2009 hingga 2018. Para perempuan itu menuding Negre membius mereka dengan obat-obatan.

Kejahatan berupa membius seseorang belakangan mencuat di Prancis pada 2024 dalam kasus Gisele Pelicot. Suami Gisele Pelicot divonis 20 tahun penjara karena membiusnya, lalu mengajak orang asing untuk memperkosanya saat dia tidak sadarkan diri.

“Saya mulai panik,” kata Anais mengingat kejadian pada Juli 2011.

“Saya samar-samar melihat dia mendorong saya ke dalam ruangan dan menutup pintu di belakang saya,” ujarnya.

Merasa itu peristiwa tersebut “terlalu aneh”, Anais bersikeras bahwa mereka harus keluar dari tempat tersebut.

Anais dan Negre lalu berjalan ke Museum Louvre untuk menggunakan toilet salah satu lokasi paling terkenal di Paris tersebut.

Masalahnya, kata Anais, dia harus membayar satu euro sebelum menggunakan toilet di Louvre, sementara dia meninggalkan dompetnya di kantor kementerian.

Negre berkata kepadanya bahwa dia juga tidak punya uang tunai.

Karena putus asa dan kesakitan akibat berusaha menahan buang air kecil, Anais menemukan sebuah kafe yang mengizinkannya menggunakan toilet mereka.

“Saat itu saya merasa sangat lemah secara fisik,” kata Anais.

Saat mendekati kamar mandi, Anais kehilangan kendali dan mengompol.

Mengingat kembali kejadian itu, Anais merasa sedikit lega karena dia buang air kecil di luar pandangan Negre.

“Setidaknya dia tidak melihat saya,” katanya.

“Saya sangat bersyukur hanya mengenakan gaun,” kata Anais. Pakaian itu membuatnya lebih mudah untuk menyembunyikan apa yang telah terjadi.

Setelah tiga jam bersama Negre, Anais mengatakan bahwa dia merasa pusing dan lelah.

Two modern glass pyramids at the Louvre in Paris with an older building to the left. The sky is blue and there are a few people sitting in front of the pyramids. There is a ferris wheel in the distance on the right.

Sumber gambar, Mohammed Badra/EPA/Shutterstock

Keterangan gambar, Museum Louvre di Paris, Prancis.

Di ujung tahap seleksi pegawai itu, Anais tidak mendapatkan pekerjaan yang diincarnya.

Anais memiliki kecurigaan terhadap Negre, tapi tidak pernah bisa mengetahui secara pasti apa yang membuatnya merasa sangat tidak nyaman.

Anais merasa insiden itu merusak kepercayaan dirinya. Pada tahun-tahun berikutnya, dia akhirnya menempuh jalur karier yang sebenarnya tidak dia dambakan.

Pada 2019, Anais menerima surat dari polisi. Anais diberitahu bahwa dia adalah satu dari hampir 200 perempuan yang diduga telah beri obat bius oleh Negre selama wawancara kerja untuk posisi di Kementerian Kebudayaan Prancis.

“Saya terkejut, tapi saya senang mengetahui bahwa saya tidak gila. Sesuatu telah terjadi hari itu,” ujar Anais.

Para perempuan yang diduga menjadi korban kejahatan Negre telah melapor ke polisi. Para penyidik menduga Negre membius dengan diuretik, obat untuk sejumlah kondisi medis seperti tekanan darah tinggi. Obat ini menyebabkan tubuh memproduksi urin berlebih.

Anais sempat berpikir sejenak pada hari dia bertemu Nègre. Dia menduga Negre telah memasukkan sesuatu ke dalam kopi yang dia minum.

Namun kala itu dia menepis sendiri pikirannya tersebut. Dia berkata pada dirinya sendiri, “Ini Kementerian Kebudayaan. Itu tidak mungkin.”

‘Eksperimen P’

Anais berkata, polisi memberitahunya bahwa mereka menemukan berkas berisi nama orang di komputer milik Negre.

Daftar berjudul Eksperimen P itu diduga berisi nama para korban Negre.

Dokumen itu, kata Anais, mencatat waktu kedatangan para perempuan untuk wawancara, kapan obat diuretik diberikan, berapa lama waktu yang dibutuhkan sebelum mereka buang air kecil, dan pakaian dalam apa yang mereka kenakan.

Merujuk keterangan kepolisian, Anais sekarang yakin rasa aneh pada kopi yang dibuat Nègre untuknya adalah efek diuretik.

Investigasi terhadap Negre dimulai Juni 2018, ketika ia tertangkap oleh seorang rekan kerja sedang mengambil foto seorang perempuan dari bawah meja. Penangkapan itu dipublikasikan oleh Kejaksaan Prancis, Februari lalu.

Negre awalnya diskors dari pekerjaannya sebagai direktur regional urusan budaya. Pada 2019 akhirnya dia dipecat.

Menurut kejaksaan, Negre pada 2018 berkata telah “menimbulkan situasi yang memalukan bagi perempuan” selama wawancara kerja.

Banyak dari para perempuan penyintas itu mengatakan bahwa pertama kali mereka menyadari bahwa mereka mungkin telah menjadi korban adalah ketika polisi menghubungi mereka.

Beberapa di antaranya melapor ketika mereka melihat Anais dan para korban lainnya dalam laporan media.

Negre, yang berusia 60-an tahun, kini sedang menjalani penyelidikan resmi atas sejumlah tuduhan, dari upaya pembiusan, pelanggaran privasi, dan pelecehan seksual. Dia sedang menunggu persidangan.

BBC menyampaikan tuduhan yang terdapat dalam artikel ini kepada Negre, melalui pengacaranya, tapi dia menolak untuk berkomentar.

Marie-Hélène Brice is wearing a green patterned, short-sleeved dress. She has straight, shoulder-length brown hair. Behind her are some trees and a stretch of water.
Keterangan gambar, Marie-Hélène Brice menyebut Negre membawanya ke kanal saat wawancara kerja di Strasbourg. “Dia tidak mengalihkan pandangannya dari saya,” ujar Marie.

Perempuan lain yang disebut dalam catatan Negre adalah Marie-Helene Brice.

Negre mewawancarai Marie-Helene untuk pekerjaan di Kementerian Kebudayaan pada tahun 2016 di Strasbourg, tempat ia bekerja saat itu.

Negre saat itu bilang bahwa Marie-Helene tampak stres. Negre lalu menyarankan agar mereka berjalan-jalan di luar kantor “untuk menenangkan saraf”.

Namun saat mereka berjalan-jalan di sepanjang kanal, Marie-Helene, seperti Anais, merasakan dorongan tak terkendali untuk buang air kecil, yang menyebabkan rasa sakit.

Marie-Helene berkata, Negre memberitahunya bahwa ada toilet umum di dekat mereka. Namun ketika mereka sampai di lokasi tersebut, mereka tidak menemukan toilet.

“Saya benar-benar mulai menderita… rasa sakit sampai-sampai saya pucat pasi, air mata mengalir deras,” kata Marie-Helene.

Marie-Helene tidak punya pilihan selain buang air kecil di tempat umum. Dia mengatakan, Negre menawarkan untuk melindunginya dengan jaketnya.

“Saya sangat malu,” katanya. “Dia tidak mengalihkan pandangannya dari saya.”

Marie-Helene merasa malu selama bertahun-tahun. Seperti Anais, dia juga dihubungi oleh polisi yang mengatakan kepadanya bahwa dia termasuk di antara para korban dugaan Negre.

“Itu sangat mengejutkan,” kata Marie-Helene.

Pembiusan korban

Marie-Helene berkata, selain tekanan psikologis, dia juga mengalami masalah saluran kemih.

Meskipun kejadian tersebut mungkin tidak sesuai dengan pola yang biasanya dipikirkan orang dalam kasus kekerasan seksual, dia tidak ragu tentang apa yang terjadi padanya.

“Saya telah diserang, saya telah diracuni, saya telah diracuni, tapi bagi saya ini jelas merupakan kekerasan seksual,” ujarnya.

Isu pembiusan terhadap para perempuan juga digugat oleh anggota parlemen Prancis, Sandrine Josso.

Sandrine menjadi juru kampanye korban pembiusan oleh senator Prancis Joel Guerriau. Joel dinyatakan bersalah oleh pengadilan pada 2026 karena mencampurkan ekstasi ke dalam minuman Sandrine, dengan tujuan melakukan kekerasan seksual terhadapnya.

Sandrine menilai selama ini Prancis belum cukup mendukung perempuan yang telah dibius dan menuntut para pelaku.

Sandrine Josso stares at the camera. She has mid-length dark hair and is wearing a black top. She's standing in front of a wall with gold leaf on it.
Keterangan gambar, Sandrine Josso berada di balik program percontohan di mana perempuan dapat mengambil sampel darah, urin, dan rambut untuk diuji keberadaan narkotik.

Sandrine berada di balik program percontohan yang dimulai tahun 2026. Dalam program itu, perempuan yang mencurigai telah dibius dapat mengambil sampel darah, urin, atau rambut ke laboratorium untuk diuji, tanpa harus mengajukan pengaduan resmi ke polisi.

“Orang-orang bergerak, korban lebih banyak melaporkan, mengajukan lebih banyak pengaduan, dan itu penting,” kata Sandrine.

Namun upaya ini memiliki keterbatasan. Anais, Marie-Helene, dan banyak korban dalam kasus Negre tidak curiga bahwa mereka telah dibius.

Jika mereka tidak menjalani tes tak lama setelah pembiusan, zat-zat obat bius itu tidak akan muncul dalam sampel darah dan urin mereka.

Narkotik mungkin dapat dideteksi lebih lama di rambut, tetapi seiring berjalannya waktu, semakin sulit untuk menentukan kapan obat tersebut diberikan.

Penggunaan diuretik dengan cara ini sangat tidak biasa, menurut Prof Jean-Claude Alvarez. Dia menjalankan program percontohan di Rumah Sakit Raymond-Poincaré AP-HP.

Jean mengatakan, dia belum pernah melihat hal seperti kasus Negre ini selama 26 tahun berprofesi sebagai ahli toksikologi.

Laboratorium tersebut secara rutin menguji 400 zat kimia. “Sekarang di Prancis, kami sedang mencari diuretik,” ujarnya.

Prof Jean-Claude Alvarez is pictured in his toxicology lab wearing a white lab coat. He has short grey hair. He's holding tweezers that are gripping strands of hair
Keterangan gambar, Profesor Jean-Claude Alvarez menguji sampel, termasuk rambut, untuk mendeteksi narkotik di laboratorium toksikologi.

Sekarang sudah 15 tahun sejak pertemuan Anais dengan Negre dan tujuh tahun sejak dia pertama kali berbicara dengan polisi.

Seperti banyak perempuan yang mengadu ke polisi, Anais frustrasi dengan lamanya waktu yang dibutuhkan agar kasus Negre dibawa ke pengadilan.

Sementara itu, Negre masih terus bekerja di bidang sumber daya manusia, menurut Fondation des Femmes, sebuah kelompok hak-hak perempuan yang mendukung sekitar 30 perempuan yang terkena dampak.

“Semuanya meresahkan dan saya marah dengan cara kami diperlakukan,” kata Anais, yang sekarang berusia 42 tahun.

Anais bilang, dia pertama kali berbicara dengan polisi pada tahun 2019. Namun dia tidak mendengar kabar apa pun tentang kasus tersebut hingga tahun 2023, meskipun telah mengirim email kepada kepolisian berkali-kali.

“Selama empat tahun, saya sendirian dengan pengetahuan bahwa saya adalah korban. Saya tidak tahu harus berbuat apa,” katanya.

“Saya sangat marah dengan sistem peradilan,” kata Anais.

Marie-Helene menggambarkan penantian ini sebagai “viktimisasi sekunder”.

“Sebagai korban, saya harus membuktikan dampaknya, pergi ke psikiater, menulis catatan khusus,” kata Marie-Helene.

Penundaan kasus ini membuat apa yang terjadi semakin sulit ditanggung.

“Kami tidak selalu merasa kami sepenuhnya dianggap serius,” ujarnya.

Kalliopi Mingeirou dari UN Women mengatakan kepada BBC bahwa pemerintah, polisi, dan sistem peradilan perlu berbuat lebih banyak untuk mengatasi pelecehan seksual yang terjadi karena korban dijebak dengan narkotik.

Kalliopi bilang, pihak berwenang menghadapi tantangan yang sangat serius dan penundaan dalam kasus dugaan pelecehan “menghancurkan kehidupan perempuan”.

BBC meminta polisi, peradilan, dan pemerintah Prancis untuk menanggapi kritik atas penanganan kasus ini, tapi mereka tidak memberikan respons

Untuk waktu yang lama, Marie-Helene diam sampai dia berhenti merasa malu.

“Saya tidak perlu menyembunyikan diri. Saya adalah korban,” katanya.

“Penting bagi saya untuk berbicara di depan umum karena hal itu memungkinkan beberapa korban untuk mengenali diri mereka sendiri, untuk mengetahui bahwa mereka adalah korban dan untuk mengajukan pengaduan.

“Berbicara terbuka itu perlu di dunia tempat kita hidup, penting untuk membicarakan tentang seksisme dan kekerasan seksual,” ujarnya.

Graphic with Global Women written in white on a purple background, with blueish-purple arcs taken from concentrically arranged circles on the right.



Source link

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA