Friday, 15 May 2026

Mei 1998: Kisah tiga perempuan menepis sentimen anti-Tionghoa

15 minutes reading
Friday, 15 May 2026 00:31 1 german11


Plakat dengan tulisan "Kami menentang rasisme!" dan "Menghukum para pemerkosa!", di depan Konsulat Indonesia di Hong Kong, 26 Juli 1998.

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Para pengunjuk rasa memasang plakat di depan Konsulat Indonesia di Hong Kong, 26 Juli 1998.

Peristiwa Mei 1998 masih meninggalkan jejak panjang dalam kehidupan warga Tionghoa di Indonesia hingga kini. Namun di tengah bayang-bayang trauma itu, berbagai cara bertahan dan membangun kembali harapan terus muncul lintas generasi.

Melalui kisah pribadi, fotografer Juliana Tan mencoba merangkai kembali ingatan masa kecil yang tercerabut, sekaligus mencari cara berdamai dengan masa lalu, melalui buku yang bertajuk “A Kind of Magic“.

“Meski masa kecil saya tidak akan kembali, tapi saya bisa menciptakan semacam portal melalui fotografi, untuk mengembalikan memori. Ini memberi saya harapan untuk bisa bergerak ke depan dengan belajar dari masa lalu,” kata Juliana, ketika diminta merefleksikan buku foto cerita besutannya.

Fotografer yang kini bermukim di Singapura ini memungut lagi kepingan kenangan masa kecilnya di Bandung, yang pernah terpaksa ditinggalkannya pada Mei 1998.

Sementara itu, generasi yang lahir setelah reformasi, seperti Charlenne, mengungkap bagaimana trauma tersebut tetap diwariskan—membentuk kehati-hatian dalam bersikap dan bergaul.



Source link

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA