Saturday, 02 May 2026

Lingkungan: Kisah Farwiza Farhan menjaga Leuser dari kerusakan

14 minutes reading
Saturday, 2 May 2026 04:26 0 german11


Farwiza Farhan

Sumber gambar, Magdalena Stawinski

Keterangan gambar, Farwiza Farhan sejak kecil sudah dekat dengan alam.

Di Kawasan Ekosistem Leuser, yang disebut UNESCO sebagai ‘tempat terakhir di bumi’ di mana gajah, harimau, badak, serta orangutan saling berkeliaran, upaya pelestarian dipertaruhkan demi menjaga napas generasi masa mendatang. Pegiat konservasi mengambil peran krusial: berdiri di garda depan menghadapi pemerintah hingga korporasi pembabat hutan.

Farwiza Farhan tidak pernah menyangka bencana banjir serta longsor dahsyat menimpa Aceh dan dua provinsi lainnya di Sumatra. Aceh, katanya, memang sering menghadapi banjir maupun longsor. Namun, yang terjadi jelang 2025 berakhir kemarin di luar bayangannya.

Pada minggu-minggu pertama bencana, Farwiza menghadapi kepanikan. Kolega di tempat kerjanya, Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh (HAkA), organisasi nonpemerintah yang berfokus di advokasi perlindungan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), gagal dihubungi sebab jaringan listrik hilang.

Bertepatan dengan banjir, sejumlah pekerja HAkA sedang mempersiapkan penyelenggaraan Festival Nenggeri Linge yang diadakan di Desa Linge, Aceh Tengah.

“Dan kami sendiri, waktu itu, mendengar (akses) jalan putus, selain desa-desa yang tersapu (banjir) sehingga menjadi terisolir,” kenangnya saat diwawancarai BBC News Indonesia pada pertengahan April lalu.



Source link

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA