Sumber gambar, EPA
Waktu membaca: 7 menit
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memaksa pihak berwenang Malaysia untuk menutup hampir 600 sekolah di Negara Bagian Sarawak, pada Jumat (21/08).
Dalam keterangan tertulis, Jabatan Pendidikan Negeri (JPN) Sarawak mengumumkan bahwa Indeks Pencemaran Udara (IPU) di sejumlah wilayah berada dalam kategori “tidak sehat” dalam beberapa hari terakhir.
Untuk mengantisipasi dampak kesehatan terhadap anak, JPN menginstruksikan penghentian sementara pembelajaran tatap muka di wilayah Kuching, Samarahan, Serian, Sri Aman, dan Betong.
“Berlaku efektif mulai 20 hingga 21 Agustus 2026. Penutupan ini melibatkan 509 sekolah dasar dengan 107.590 siswa dan 82 sekolah menengah dengan 89.733 siswa,” demikian pernyataan JPN Sarawak, Kamis (20/08).
Distrik yang terdampak paling parah adalah Serian, yang berbatasan langsung dengan wilayah Kalimantan Barat, Indonesia.
Berdasarkan data Sistem Pengelolaan Indeks Pencemaran Udara Malaysia (APIMS), indeks pencemaran udara (API) di wilayah tersebut mencapai angka 191 atau masuk kategori tidak sehat.
Data APIMS juga menunjukkan sejumlah wilayah lain di Sarawak mencatatkan kualitas udara tidak sehat, yaitu Kuching (181), Samarahan (178), Sri Aman (174), dan Sarikei (171).
Selain itu, Sibu mencatat API 160, sementara Samalaju, Bintulu, dan Mukah masing-masing 156, serta Miri sebesar 151.
Sehari sebelumnya, API di Serian bahkan mencapai angka 239 yang masuk kategori sangat tidak sehat. Sejumlah distrik lain di Sarawak juga mencatat tingkat pencemaran tinggi.
Dalam sistem pengukuran Malaysia, API 0-50 dikategorikan baik, 51-100 sedang, 101-200 tidak sehat, 201-300 sangat tidak sehat, dan di atas 300 berbahaya.
Data satelit Fire Information for Resource Management System (FIRMS) milik NASA menunjukkan aktivitas kebakaran yang meluas di Kalimantan, Indonesia, pada Kamis (20/08).
Titik panas terpantau padat terutama di wilayah Indonesia yang berdekatan dengan perbatasan Sarawak.
Sumber gambar, .
Sumber gambar, ,
Rentetan kejadian ini menandai persoalan kabut asap yang terus berulang. Fenomena tersebut biasanya memburuk selama musim kemarau ketika kebakaran hutan dan lahan gambut menghasilkan asap yang melintasi perbatasan negara.
Menteri Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan Malaysia, Arthur Joseph Kurup, mengatakan pemerintah Malaysia terus memantau kondisi kabut asap di Sarawak dan sejumlah wilayah Semenanjung Malaysia sejak 8 Agustus.
Pada 8-9 Juli lalu, Malaysia, Brunei Darussalam, Indonesia, Singapura, Thailand, dan Timor-Leste menggelar pertemuan di Bali untuk meninjau strategi pencegahan kebakaran hutan dan lahan yang menjadi penyebab utama polusi asap lintas batas.
Sumber gambar, ANTARA FOTO
Kurup juga melakukan pertemuan dengan Menteri Lingkungan Hidup Indonesia guna mengoordinasikan penanganan titik panas.
Menurutnya, berdasarkan Perjanjian ASEAN tentang Pencemaran Asap Lintas Batas (ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution/AATHP), status Siaga Tingkat 2 telah diaktifkan sejak 3 Agustus.
“Negara-negara anggota diwajibkan menyampaikan laporan harian mengenai langkah-langkah penanggulangan yang dilakukan,” ujar Kurup seperti dikutip harian New Straits Times.
Salah satu kejadian kabut asap terburuk di Asia Tenggara terjadi saat fenomena El Nino 1997-1998.
Kekeringan berkepanjangan yang bertepatan dengan praktik pembakaran lahan memicu kebakaran besar-besaran dan membuat puluhan juta penduduk terdampak asap serta partikel berbahaya.
Krisis tersebut mendorong negara-negara anggota ASEAN menandatangani Perjanjian ASEAN tentang Pencemaran Asap Lintas Batas di Kuala Lumpur pada 2002.
Sumber gambar, EPA
Perjanjian itu mewajibkan negara anggota untuk mencegah dan memantau kebakaran, berbagi data, serta meningkatkan koordinasi dalam penanganan darurat.
Meski mulai berlaku pada 2003, Indonesia yang merupakan sumber utama kabut asap baru meratifikasi perjanjian tersebut pada 2014.
Namun demikian, perjanjian tersebut belum sepenuhnya berhasil menghilangkan kejadian kabut asap besar di kawasan.
Pada 2015, sekitar 2,6 juta hektare hutan dan lahan gambut di Indonesia terbakar, sehingga asap menyebar ke Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand bagian selatan, hingga sebagian wilayah Filipina selatan.
Kejadian pada 2015 itu bukan tidak mungkin terulang lantaran karhutla terus berlangsung.
Pada 21 Agustus 2026 saja, pemantauan satelit NASA-NOAA mencatat 1.842 titik panas di lima provinsi di Kalimantan.
Kalimantan Tengah mencatat jumlah titik panas terbanyak, yakni 976 titik. Selanjutnya Kalimantan Barat dengan 489 titik.
Sementara itu, Kalimantan Timur tercatat 237 titik panas, Kalimantan Selatan 125 titik, dan Kalimantan Utara 15 titik.
Sumber gambar, Reuters
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat karhutla terjadi di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, antara lain di Kecamatan Tanah Grogot, Batu Sopang, dan Batu Engau.
Kebakaran terjadi di semak belukar dan lahan gambut.
“Luas lahan terbakar mencapai 25,29 hektare,” kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan.
Sumber gambar, Nurphoto via Getty Images
Wilayah lain di Kalimantan Timur yang juga mengalami karhutla cukup masif adalah Kabupaten Kutai Kartanegara. Pada 19 Agustus 2026, karhutla terjadi di enam kecamatan dengan total luas lahan terbakar mencapai 49,55 hektare.
Di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, karhutla dilaporkan terjadi sejak 13 Agustus 2026 di Desa Apung, Kecamatan Tanjung Selor. Sedikitnya 4 hektar lahan terbakar.
Sumber gambar, ANTARA FOTO
BNPB menyatakan telah mengerahkan 39 unit pesawat dan helikopter untuk melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC), pemadaman melalui water bombing, serta patroli di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Di Riau, satgas udara terdiri atas satu unit helikopter patroli, satu unit armada untuk OMC, dan lima unit water bombing.
Di Jambi, dikerahkan satu unit helikopter patroli, satu unit OMC, dan dua unit water bombing. Sementara di Sumatera Selatan, BNPB mengerahkan satu unit helikopter patroli, satu unit OMC, dan tujuh unit water bombing.
Sumber gambar, Reuters
Untuk wilayah Kalimantan Selatan, dikerahkan satu unit helikopter patroli, satu unit OMC, dan tiga unit water bombing. Salah satu unsur yang digunakan untuk mendukung patroli udara adalah pesawat Cessna Caravan 208. Adapun operasi water bombing didukung helikopter Sikorsky Black Hawk.
Di Kalimantan Tengah, terdapat satu unit helikopter patroli, satu unit OMC, dan empat unit water bombing. Sedangkan di Kalimantan Barat, satgas udara diperkuat dengan dua unit helikopter patroli, satu unit OMC, dan lima unit water bombing.
Analisis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menunjukkan, sejak 1 Januari hingga 27 Juli 2026 terdapat 118.420 titik panas di seluruh Indonesia.
Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan jumlah titik panas tertinggi, yakni 17.236 titik, dengan luas indikatif karhutla mencapai 28.680 hektare.
Secara keseluruhan, Pulau Kalimantan mencatat 34.262 titik panas dengan luas indikatif karhutla mencapai 33.837 hektare.
Sumber gambar, Reuters
Temuan penting dalam analisis Walhi menunjukkan, 25.524 titik panas atau sekitar 74% dari total titik panas di Pulau Kalimantan berada di dalam kawasan konsesi perusahaan.
Sebanyak 10.739 titik panas berada di dalam hak guna usaha perkebunan kelapa sawit, 7.880 titik panas di konsesi pertambangan, dan 6.905 titik panas berada di konsesi perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH).
No Comments