Friday, 24 Jul 2026

Iran: ‘Apa kesalahan mereka?’ – BBC kunjungi sekolah di Iran yang kehilangan 120 anak akibat serangan bom AS

10 minutes reading
Friday, 24 Jul 2026 10:31 1 german11


Collage image showing teacher Amaineh Nademi, wearing a black chador, looking directly at the camera with a serious expression. To her left is a close up shot of a pink chair next to rubble in a classroom which has blue walls. To her right is an image of a green school bench and desk in front of a pile of rubble,.

Peringatan! Laporan ini berisi deskripsi yang mengguncang mengenai kematian anak-anak!

Amaineh Nademi berjalan dengan hati-hati melintasi puing-puing sekolahnya. Potongan-potongan beton yang hancur menggantung tak stabil dari lantai atas yang rusak.

Beberapa ruang kelas masih berdiri, dindingnya yang warna-warni dihiasi dengan gambar balon dan bunga.

Guru berusia 33 tahun itu tahu persis letak setiap ruangan: kelas anak perempuan di lantai atas, kelas anak laki-laki di bawahnya, kantor kepala sekolah, dan juga musala.

Saat dia beranjak ke kelas tempatnya mengajar dulu, yang dia lihat hanya puing-puing. Di ruangan itu, Amaineh mengajar anak-anak perempuan kelas satu.

Sekolah tempatnya dulu mengajar yang telah berubah menjadi puing-puing tak beraturan itu adalah Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Minab, sebuah kota kecil di Iran.

Keterangan video, Kursi-kursi para siswa dan dinding yang dihiasi berbagai gambar dan kreasi anak itu masih terlihat di ruang kelas yang rusak.

Pada 28 Februari 2026, di awal perang antara AS-Israel melawan Iran, serangan udara terhadap sekolah itu mengubah pagi Sabtu yang biasa menjadi salah satu tragedi.

Tragedi itu bukan cuma paling mematikan bagi warga sipil di Iran, tapi juga peristiwa paling menentukan dalam konflik tersebut.

Akibat serangan udara AS itu, 156 orang, termasuk 120 anak-anak, telah dipastikan tewas. Di antara korban itu terdapat pula seorang perempuan hamil, menurut kantor kejaksaan Minab.

Menurut sejumlah pakar, beragam bukti menunjukkan bahwa pasukan AS memang menyerang sekolah dasar di Minab tersebut. Sekolah itu berada di sebelah kompleks Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang, berdasarkan citra satelit, terlihat telah diserang beberapa kali oleh militer AS dan Israel.

Hingga saat ini AS belum mengakui tanggung jawab mereka atas serangan itu. Namun sejumlah media massa di AS melaporkan bahwa penyelidik militer meyakini kemungkinan besar pasukan AS melakukan serangan tersebut tanpa sengaja.

The section that remains of Shajareh Tayyebeh Primary School in Minab. It is a severely damaged two-storey building, with sections of wall missing and chunks of concrete hanging off it. It is surrounded by a flat, rubble-strewn area.
Keterangan gambar, Murid perempuan belajar di lantai atas, sedangkan ruang kelas digunakan anak laki-laki di Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh, Minab, Iran.

Luka akibat peristiwa yang terjadi di sekolah ini masih dirasakan sangat dalam oleh keluarga korban.

Para guru menceritakan kepada kami bahwa mereka berdoa di lokasi tersebut setiap hari. Tim penyelamat masih mencari jenazah korban yang tewas di sini.

Sebagian besar lantai atas sekolah ini runtuh ke lantai di bawahnya.

“Anda tidak bisa menyebutnya sekolah,” kata Amaineh.

“Hanya dinding-dinding yang berbau kematian, duka, dan darah yang tertumpah di sini,” ucapnya.

Otoritas Iran sangat ingin kami mengunjungi sekolah tersebut. Menurut mereka, ini adalah bukti bahwa aksi militer yang diklaim pemerintah AS sebagai serangan terhadap militer dan aparat keamanan Iran justru menimbulkan korban yang sangat besar di kalangan warga sipil.

‘Kami semua terlempar’

Pada hari tragedi itu terjadi, aktivitas belajar-mengajar di sekolah itu dimulai seperti biasa, kata Amaineh.

Saat itu sedang berlangsung bulan suci Ramadan. Oleh karenanya, siswa-siswi sekolah itu berkumpul di dalam musala untuk membaca Al-Quran.

Setelahnya, Amaineh mulai mengajarkan huruf-huruf baru dalam alfabet Persia kepada murid-muridnya.

Namun, kata Amaineh, kepala sekolah mengumumkan bahwa sekolah akan ditutup menyusul serangan pertama yang dilancarkan AS-Israel ke seluruh Iran.

Para guru mulai menghubungi orang tua, mendesak mereka untuk menjemput anak-anak mereka.

Hanya lima dari 15 murid kelas satu Amaineh yang masih berada di ruang kelasnya di lantai atas, saat dia pertama kali mendengar ledakan tak jauh dari sekolah.

Amaineh mengatakan, saat itu dia sedang berada di koridor dan bergegas kembali untuk menyelamatkan anak-anak.

“Tepat saat aku hendak pergi, sebuah rudal menghantam sekolah,” kata Amaineh.

“Sesuatu menghantam kepalaku dan kepala murid-muridku—kami semua terlempar,” ucapnya.

Kemudian, kata Amaineh, asap hitam pekat memenuhi ruang kelas.

“Saya bahkan tidak bisa melihat murid-murid yang saya gendong. Kami tidak bisa bernapas.”

Amaineh ingat, saat itu dia mendengar ledakan lain. Dia mendengar pula suara teriakan, tangisan anak-anak.

Kemudian, kata Amaineh, sekolah itu runtuh. “Hancur seketika,” ujarnya.

“Darah mengalir dari tubuh saya dan para murid,” kata Amaineh.

Amaineh Nademi walking along a remaining corridor of the Shajareh Tayyebeh Primary School in Minab. She is wearing a black chador and showing BBC reporter Nawal Al-Maghafi the damage to the school. The concrete walls are cracked, and have previously been painted pastel green.
Keterangan gambar, Amaineh Nademi melihat asap yang begitu tebal sehingga dia bahkan tak bisa melihat anak-anak yang dipeluknya.

Ketika asap sempat menipis sejenak, Amaineh menyerahkan anak-anak yang terluka kepada orang-orang di lantai bawah. Dia lalu merangkak melewati api dan puing-puing menuju gerbang sekolah. Di situ dia melihat kerumunan orang tua.

Banyak di antara orang tua itu bergegas ke sekolah tanpa sempat memakai sepatu, kata Amaineh.

Amaineh mengatakan, dia tidak mengerti mengapa para orang tua berlari menuju sekolah. Dalam keadaan terkejut dan bingung, Amaineh mengira semua orang lain telah berhasil keluar dari gedung.

“Saya tidak tahu bahwa mereka semua tertimbun reruntuhan,” ujarnya.

Amaineh telah mengajar kelas satu di sekolah tersebut selama enam tahun. Ia menyebutkan nama-nama siswa dan rekan kerja yang tewas pada hari itu.

Adrina, anak perempuan dari kelas satu yang ia ajar, yang menurutnya tewas di tangga bersama ibunya.

Ada pula Fatemeh, murid dari kelas dua, serta banyak lainnya, termasuk siswa kelas enam yang dia ingat pernah dia ajari alfabet, serta kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru olahraga, dan guru Al-Quran.

‘Temukan anakku’

Dalam hitungan menit, petugas gawat darurat mulai berdatangan.

Reza Besharati, seorang petugas dari Palang Merah Iran, mengatakan bahwa dia termasuk di antara tim penyelamat pertama yang tiba di sekolah itu.

Dia mendapati jalan-jalan di sekitar sekolah dipenuhi kendaraan karena keluarga-keluarga yang putus asa bergegas mencari anak-anak mereka.

Minab adalah kota kecil. Saat Reza menerobos kerumunan dan masuk ke lokasi reruntuhan, dia mengenali beberapa orang yang dikenalnya, termasuk beberapa kerabatnya sendiri.

“Kami mulai mencari orang-orang, berharap mungkin ada yang masih hidup,” katanya.

“Tapi sayangnya, tidak ada seorang pun yang selamat.”

Red Crescent rescue worker Reza Besharati, pictured in a black T-shirt with Red Crescent badges on it. He is standing in front of banners showing the faces of people killed in the attack on the school, with the damaged buildings behind him.
Keterangan gambar, Reza Besharati tak bisa melupakan apa yang dilihatnya saat menyisir bangunan sekolah yang runtuh.

Reza mengatakan, jenazah-jenazah itu ditemukan dalam kondisi yang sangat rusak.

“Mungkin hanya sebuah tangan, mungkin hanya sebuah kaki… Tak ada yang tubuhnya utuh,” ujar Reza.

Banyak keluarga mengenali anak-anak mereka dari sepatu atau pakaian mereka, kata Reza.

Salah satu kerabat Reza sedang mencari anaknya sambil memohon, “Tolong temukan anakku, temukan putraku,” katanya.

“Aku tidak bisa memberitahunya bahwa putranya sudah tidak hidup lagi. Kami semua hanya menangis.”

Reza mengatakan, pemandangan yang dia lihat saat menyisir bangunan yang runtuh itu tak kunjung hilang dari ingatannya.

“Saya tidak bisa tidur selama beberapa hari,” katanya.

“Ketika saya menutup mata… saya hanya teringat hal-hal yang telah saya lihat di sekolah ini,” kata Reza.

Serangan itu diselidiki

Seiring terungkapnya rincian serangan ke sekolah dasar di Minab itu, Presiden AS, Donald Trump, awalnya menyalahkan Iran, tanpa memberikan bukti apapun.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, membuat klaim bahwa militer AS sedang menyelidiki kejadian itu. Dia mengeklaim, pasukan AS “tidak pernah menargetkan sasaran sipil”.

Hegseth kemudian mengumumkan bahwa telah berlangsung penyelidikan tingkat tinggi, yang dipimpin oleh seorang perwira dari luar Komando Pusat AS (Centcom).

Pemerintahan Trump hingga kini belum merilis temuan penyelidikan tersebut.

Beberapa media AS telah membuat laporkan jurnalistik terkait penyelidikan itu. Mereka mengutip orang-orang yang mengetahui penyelidikan militer AS.

Temuan para jurnalis itu menyebut penyelidikan pada tahap awal menyimpulkan terdapat potensi bahwa data usang yang disediakan oleh Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA) menyebabkan sekolah di Minab dianggap sebagai bagian dari lokasi militer Iran.

Annotated satellite image of a site in Minab, southern Iran. A school building, outlined in yellow, sits directly adjacent to a larger area outlined in white and labelled “IRGC compound". A label notes that a wall separating the two sites has been present since 2016. An inset map of Iran marks Minab with a red dot on the southern coast. The image includes scale bars, a Planet Labs PBC credit and BBC branding.

Complete the translations here: https://tinyurl.com/ytb2mbnd

Fill-in the commissioning form https://bit.ly/ws_design_form with this title in English: Minab school – satellite map – 2026072103)

Analisis video oleh para ahli menunjukkan bahwa kompleks IRGC di sebelah sekolah tersebut dihantam oleh rudal Tomahawk berpemandu presisi. Ini adalah sejenis rudal jelajah yang sejauh ini diketahui tidak dimiliki baik oleh Israel maupun Iran.

Citra satelit memperlihatkan bahwa sekolah dan beberapa bangunan di dalam kompleks itu terkena serangan.

Berbagai video yang terverifikasi juga menunjukkan kawasan itu dihantam oleh serangkaian serangan.

Peta militer AS juga mengonfirmasi adanya operasi AS di selatan Iran, termasuk Minab, pada serangan itu terjadi.

Citra satelit secara historis menunjukkan bahwa area sekolah tersebut sebelumnya merupakan bagian dari kompleks IRGC, tapi belakangan dipisahkan dengan tembok sejak 2016.

Sekolah itu lalu memiliki pintu masuk serta halaman tersendiri.

Selain itu, informasi yang menunjukkan bahwa lokasi tersebut adalah sebuah sekolah tersedia secara publik di internet.

Tangkapan layar arsip dari situs web bagian putri dan putra sekolah tersebut, yang diambil beberapa bulan sebelum serangan, mencantumkan alamat lokasi tersebut.

Kepala Centcom mengatakan kepada sebuah komite Kongres AS, Mei lalu, tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Dia menyebut bahwa penyelidikan menghadapi situasi “rumit” karena sekolah tersebut berada “di pangkalan rudal jelajah IRGC yang aktif”.

Informasi itu disangkal Kementerian Luar Negeri Iran. Mereka menyebut informasi itu sebagai “rekayasa yang tidak berdasar”.

IRGC mengelola beberapa fasilitas komunitas dan medis selain kegiatan militer, keamanan, dan ekonominya yang luas.

Warga di Minab mengatakan kepada BBC, lokasi tersebut sebelumnya merupakan pangkalan brigade angkatan laut IRGC. Namun mereka meyakini penggunaan kawasan itu untuk aktivitas militer telah dihentikan beberapa tahun yang lalu.

Berbagai foto menunjukkan, di kompleks itu terdapat pula sebuah klinik dan tempat cuci mobil.

BBC menghubungi Departemen Pertahanan dan militer AS untuk meminta tanggapan. Para pejabat di institusi mengatakan penyelidikan masih berlangsung dan belum ada perkembangan lebih lanjut.

‘Korban dikenali dari kaus kakinya’

Tak jauh dari sekolah yang hancur itu terdapat pemakaman, tempat banyak murid dan guru yang tewas dikebumikan.

Setiap malam, keluarga para korban berkumpul di sekitar pemakaman. Para ibu membersihkan debu pada foto anak-anak mereka. Para orang tua duduk dan berdoa hingga larut malam.

Di sekeliling para orang tua itu terdapat pula saudara-saudara kandung korban yang bermain di antara nisan.

A photo of nine-year-old Setayesh displayed on her grave. She is wearing a white veil and looking at the camera. The image is surrounded by a white frame decorated with red flowers. In the background other graves and an Iranian flag can be seen.
Keterangan gambar, Setayesh, siswa berusia sembilan tahun yang menjadi korban serangan, pernah bercita-cita menjadi guru, kata ibunya.

Masoumeh Mehran Shekhabadi datang mengunjungi makam putrinya yang tewas pada usia sembilan tahun, Setayesh. Dia datang setiap hari dan sering kali berada di makam itu hingga larut malam.

Masoumeh adalah salah satu orang tua yang berlari ke sekolah setelah serangan terjadi.

“Tidak ada sekolah,” katanya, suaranya tercekat.

“Hanya ada asap, rambut anak-anak, sebuah tangan di satu sisi, sebuah kaki di sisi lain. Mereka telah tercabik-cabik,” ujarnya.

“Saya terus memanggil, tidak hanya kepada Setayesh, tapi kepada semua anak: ‘Anak-anak, di mana kalian?'”

Keluarga Setayesh baru menerima konfirmasi kematiannya satu hari setelah serangan terjadi. Masoumeh ingat, dia berulang kali ditanya warna kaus kaki yang dikenakan anaknya.

Jenazah Setayesh kemudian dikenali melalui kaus kaki tersebut.

Anak berusia sembilan tahun itu ingin menjadi guru, kata ibunya.

“Dia biasanya menyusun bonekanya di sofa dan berkata: ‘Aku guru kalian. Aku sekarang di sekolah dasar, jadi aku seorang guru.'”

Seperti halnya banyak orang tua para murid di sekolah ini, duka cita telah bercampur dengan kemarahan.

“Semoga Trump dihancurkan, agar darah anak-anak ini tidak sia-sia,” kata Masoumeh.

Masoumeh Mehran Shekhabadi pictured in a black chador with a sad expression. Behind her in soft focus are images of children on graves in the cemetery
Keterangan gambar, Masoumeh ingat, dia telah bergegas ke sekolah tapi tetap mendapati sekolah itu hancur dan anak-anak “terpotong-potong”.

‘Mereka pergi untuk belajar’

Pemerintah Iran telah berulang kali menyebut Minab dalam pidato, forum internasional, dan liputan media pemerintah—bahkan menamai pesawat yang mengangkut para negosiator “Minab-168”.

Angka 168 merujuk pada jumlah korban tewas yang sebelumnya diumumkan oleh para pejabat.

Serangan ke sekolah tersebut memberikan Republik Islam Iran narasi tandingan yang kuat terhadap deskripsi Washington mengenai kampanye militer mereka.

A woman and a girl in black veils crouch next to the graves of children killed in the MInab school strike. Images of the children's faces, mounted on red backgrounds, are displayed behind the graves.
Keterangan gambar, Setiap malam, keluarga mengunjungi makam orang-orang terkasih yang tewas dalam serangan ke sekolah dasar di Minab.

Perang ini telah memecah belah masyarakat Iran. Sebagian orang merayakannya saat serangan udara dimulai, marah atas sejarah pemerintah yang menahan para pembangkang dan menggunakan kekuatan mematikan selama gelombang protes yang berulang. Mereka berharap tekanan militer dari luar mungkin akhirnya melemahkan atau bahkan menggulingkan rezim tersebut.

Beberapa penentang pemerintah mengatakan kepada BBC bahwa mereka melihat serangan di Minab sebagai pukulan besar. Hal itu membuat gagasan tentang perang yang bersih dan presisi menjadi tidak mungkin dipertahankan, serta memungkinkan pihak berwenang menampilkan diri sebagai pembela rakyat Iran terhadap serangan asing.

Di Minab, Amaineh mengunjungi pemakaman, berjalan di antara makam-makam mantan muridnya.

Di dinding peringatan terdekat terpampang wajah-wajah anak-anak, staf, dan orang tua yang meninggalkan rumah pada Sabtu pagi itu dan tak pernah kembali.

Ibu Setayesh masih duduk di samping makam putri kecilnya.

“Apa kesalahan anak-anak ini? Apakah mereka membawa senjata? Pensil, buku, buku catatan, dan tas sekolah. Mereka tidak membawa senjata… Mereka pergi untuk belajar,” katanya.

Reportase tambahan oleh Jasmin Dyer

Nawal Al-Maghafi melakukan reportase dari Iran, dengan syarat bahwa tidak satu pun materi liputannya digunakan di BBC Persia. Pembatasan ini berlaku untuk semua organisasi media internasional yang beroperasi di Iran.



Source link

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA