Wednesday, 18 Mar 2026

Perang AS-Israel vs Iran: WNI gelisah dengan potensi kenaikan harga BBM

15 minutes reading
Wednesday, 18 Mar 2026 01:13 0 german11


Petugas mengisi BBM jenis Pertalite ke tangki sepeda motor konsumen di salah satu SPBU Pertamina di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (28/2/2026). PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi menambah pasokan BBM di wilayah Sulawesi Tengah sebesar 15 persen sesuai proyeksi kebutuhan dari rata-rata konsumsi harian sebanyak 1.900 kiloliter selama bulan Ramadhan 1447 H sebagai bentuk komitmen memenuhi kebutuhan energi masyarakat.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Basri Marzuki

Keterangan gambar, Petugas mengisi BBM jenis Pertalite ke tangki sepeda motor konsumen di salah satu SPBU Pertamina di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (28/02).

Puluhan negara dilaporkan telah menaikkan harga bahan bakar minyak imbas dari melambungnya harga minyak dunia akibat perang AS-Israel melawan Iran. Beberapa pengamat memandang “APBN akan jebol” jika pemerintah terus menahan harga BBM subsidi.

Pemerintah beralasan langkah itu diambil karena kapasitas APBN masih cukup kuat untuk menanggung beban kenaikan biaya energi global. Ditambah lagi, kenaikan harga BBM berisiko menekan daya beli masyarakat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Di tengah kondisi itu, sejumlah masyarakat mulai khawatir dampak buruk yang ditimbulkan jika harga BBM subsidi dinaikkan. Kerisauan itu diwujudkan dengan, antara lain, melakukan pembelian secara panik.

“Hidup akan semakin lebih berat. Kebutuhan pokok, listrik dan segala macam akan naik. Lebih cocok MBG yang dihapus daripada BBM dinaikkan,” kata Ari Kristanto, warga Solo, Senin (16/03).

Apa dampak yang akan dihadapi oleh warga jika harga BBM subsidi naik? Sebaliknya, apa konsekuensi yang akan dihadapi pemerintah jika tetap menahan harga BBM subsidi? Dan, apakah langkah-langkah yang diambil saat ini mampu mengatasi dilema itu?



Source link

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA