Sumber gambar, Getty Images
Waktu membaca: 12 menit
“Setiap kali saya masuk ke sini, saya selalu teringat bagaimana dulu dia bergerak dan mengontrol bola. Itu benar-benar luar biasa.”
Salah satu pelatih pertama Mohamed Salah membuka gerbang berwarna hijau tua di pusat pelatihan pemain muda di Nagrig, sebuah desa sekitar tiga jam di utara Kairo.
Di sinilah, perjalanan karier pemain—yang membawa Liverpool meraih gelar juara Liga Primer Inggris pada musim 2024-2025 lalu—dimulai.
Sejak bergabung dari AS Roma pada 2017, pemain sayap tersebut telah mencetak 255 gol dari 435 penampilan bersama Liverpool.
Mega bintang sepak bola dari Mesir itu turut membantu Liverpool memenangkan gelar juara Liga Champions, dua gelar juara Liga Primer, Piala FA, Piala Liga Inggris (EFL), Piala Super UEFA, dan Piala Dunia Antarklub FIFA.
Namun, masa Mo Salah di Liverpool segera berakhir.
Mo Salah mengumumkan bahwa ia akan meninggalkan The Reds—julukan Liverpool—pada akhir musim 2025-2026, Mei mendatang,
“Sayangnya hari itu telah tiba. Ini adalah bagian pertama dari perpisahan saya,” kata Salah.
“Saya akan meninggalkan Liverpool pada akhir musim.”
BBC Sport mengunjungi Mesir untuk mengetahui apa arti Salah bagi negara berpenduduk 115 juta jiwa itu.
Serta, bagaimana seorang anak kecil dari keluarga sederhana bisa menjadi ikon nasional.
Sumber gambar, BBC Sport
Di jalanan Nagrig, saat berusia tujuh tahun, Salah kecil bermain sepak bola bersama teman-temannya, sambil berpura-pura menjadi penyerang Brasil, Ronaldo; playmaker legendaris Prancis, Zinedine Zidane; atau maestro Italia, Francesco Totti.
“Tubuh Salah kecil dibandingkan dengan teman-teman setimnya, tetapi dia melakukan hal-hal yang bahkan anak-anak lebih tua pun tidak bisa lakukan,” ujar Ghamry Abd El-Hamid El-Saadany sambil menunjuk ke lapangan di Nagrig yang sekarang dinamai Mohamed Salah sebagai bentuk penghormatan.
“Tendangannya sangat kuat, dan jelas terlihat bahwa dia memiliki tekad dan semangat yang tinggi.”
Di Dentists Café di sebelah timur Kairo, BBC Sport menjumpai Lamisse El-Sadek.
“Saya masih merasakan kegembiraan ayah saya ketika menonton Salah,” ungkapnya.
“Setelah Salah bergabung dengan Liverpool, kami biasa menonton setiap pertandingan di televisi bersama-sama.”
Kafe itu dinamai berdasarkan profesi si pemilik sebelumnya dan sekarang menjadi tempat berkumpul para penggemar Liverpool menonton pertandingan di layar lebar.
Lamisse sedang mengenakan kaus Liverpool dengan nama sang ayah di bagian belakang.
“Sayangnya, beliau meninggal dua tahun lalu,” imbuhnya.
“Setiap pertandingan Liverpool adalah momen paling membahagiakan di rumah kami, Meskipun saya harus melewatkan sebagian pertandingan karena berangkat sekolah atau bekerja, ayah saya biasa mengirimkan pesan singkat berisi jalannya pertandingan menit demi menit.”
“Salah tidak berasal dari keluarga berada. Ia benar-benar bekerja keras dan banyak berkorban untuk mencapai posisinya sekarang. Banyak dari kami merasa bisa melihat diri kami dalam dirinya.”
Desa Nagrig di Delta Sungai Nil, Mesir, dikelilingi hamparan ladang hijau yang ditanami melati dan semangka. Kerbau, sapi, dan keledai berbagi jalan tanah dengan mobil, sepeda motor, dan kereta yang ditarik kuda.
Di sinilah salah satu penyerang terbaik dan paling produktif di dunia, yang dikenal dengan julukan ‘Raja Mesir’, menghabiskan masa kecilnya.
“Keluarga Salah adalah fondasi dan rahasia di balik kesuksesannya,” sebut El-Saadany.
Dia menyebut dirinya sebagai pelatih pertama Salah, yang membimbingnya ketika pemain itu masih berusia delapan tahun.
“Keluarga Salah masih tinggal di sini dengan sederhana, menjunjung nilai-nilai dan rasa hormat. Itulah salah satu alasan mengapa orang-orang sangat menyukai mereka,” imbuhnya.
Pusat pelatihan pemain muda di Nagrig baru-baru ini mendapatkan peningkatan yang sangat bagus sebagai bentuk penghormatan kepada putra desa yang paling terkenal. Lapangan hijau di sana bahkan terlihat seperti lapangan latihan profesional.
“Mereka (keluarga Salah) telah banyak berkorban ketika dia masih muda,” ujar El-Saadany, yang berdiri di samping foto besar Mo Salah yang tergantung di belakang salah satu gawang.
“Mereka sangat mendukungnya sejak awal, terutama ayahnya dan pamannya, yang sebenarnya adalah ketua pusat pelatihan ini.”
Sumber gambar, BBC Sport
Jejak Salah ada di mana-mana, anak-anak nampak berlarian mengenakan kaus Liverpool dan Mesir dengan nama dan nomor punggung sang pemain.
Bahkan ada mural Salah di luar sekolah lamanya. Sebuah kendaraan, yang melaju kencang sambil membunyikan klakson, menampilkan stiker besar bergambar wajah Salah yang sedang tersenyum.
Di jantung Kota Nagrig terdapat toko pangkas rambut, tempat Salah remaja biasa memotong rambutnya setelah latihan.
“Saya yang memberinya gaya rambut keriting dan janggut itu,” ucap Ahmed El Masri.
“Teman-temannya menyuruhnya untuk tidak memotong rambutnya di sini karena kami berasal dari desa, bukan kota, tapi dia selalu datang kepada saya. Keesokan harinya teman-temannya akan terkejut (melihat berapa keren penampilannya) dan bertanya ‘siapa tukang pangkas rambutmu?’.”
Tukang cukur itu mengenang bagaimana ia melihat kemampuan Salah saat bermain di pusat pelatihan pemuda dan di jalanan desa.
“Hal yang paling saya ingat adalah ketika kami semua bermain PlayStation, Salah selalu memilih Liverpool,” tambahnya. “Anak-anak lain akan memilih Manchester United atau Barcelona, tapi dia selalu Liverpool.”
“Semua anak muda yang sekarang tinggal di desa ingin seperti dia.”
Salah ditempa selama enam tahun di klub yang berbasis di Kairo, Arab Contractors, yang juga dikenal sebagai Al Mokawloon. Dia bergabung di klub itu pada usia 14 tahun.
Kisah Salah yang diizinkan meninggalkan sekolah lebih awal demi perjalanan pulang-pergi selama berjam-jam untuk berlatih dan bermain dengan Arab Contractors telah menjadi legenda di Mesir.
Beberapa penumpang di dalam mobil van Suzuki kecil berkapasitas tujuh orang di pinggiran Nagrig mulai merasa gelisah. Mobil itu tak kunjung berangkat.
“Apakah mereka jadi ikut atau tidak?”
Transportasi itu bukanlah layanan angkutan yang beroperasi sesuai jadwal. Sopir hanya berangkat ketika mobil sudah penuh.
Ketika berusia remaja, halte bus inilah yang menjadi tempat Salah memulai perjalanan panjangnya menuju tempat pelatihan di Arab Contractors.
“Perjalanannya berat dan juga sangat mahal,” ujar El-Saadany.
“Dia mengandalkan dirinya sendiri dan sering kali pergi sendirian. Bayangkan seorang anak berangkat pukul 10 pagi dan baru pulang tengah malam. Perjalanan seperti itu membutuhkan seseorang yang kuat; hanya seseorang dengan tujuan yang jelas yang bisa menanggung beban seperti itu.”
Sumber gambar, BBC Sport
Ketika kami naik angkutan tersebut, kami duduk berdesak-desakan dengan seorang ibu dan kedua putranya di kursi belakang. Kami menuju ke arah Basyoun, pemberhentian pertama dalam perjalanan rutin Salah ke Kairo.
Salah remaja kemudian akan naik bus lain ke Tanta, kemudian berganti kendaraan lagi menuju terminal bus Ramses di Kairo. Di situ, dia bakal berganti bus lagi untuk mencapai tujuan.
Setelah sesi latihan sore hari, tibalah waktunya untuk perjalanan pulang ke Nagrig. Salah remaja akan kembali berganti-ganti angkutan.
Mikrolet berwarna putih yang melaju di jalanan sepanjang waktu adalah salah satu hal pertama yang menarik perhatian begitu tiba di Kairo. Angkutan tersebut penuh sesak oleh para pelancong yang naik dan turun.
“Kendaraan-kendaraan ini melayani sekitar 80% penumpang di kota yang dihuni lebih dari 10 juta orang,” kata jurnalis Mesir, Wael El-Sayed.
“Ada ribuan mobil van yang beroperasi 24 jam setiap hari.”
Sumber gambar, BBC Sport
Perjalanan singkat ke Basyoun saja sudah berat dalam kondisi panas dan tidak nyaman di kuris belakang, jadi Anda bisa membayangkan betapa menantangnya perjalanan tersebut. Hal ini mesti dilakoni Salah remaja beberapa kali dalam seminggu.
Pelatih yang memberi Salah kesempatan pertama bermain di tim nasional percaya bahwa pengalaman itu telah membantu membentuk mentalitas sang pemain untuk mencapai kesuksesan di level tertinggi.
“Memulai karier sebagai pemain sepak bola di Mesir sangat sulit,” ujar Hany Ramzy.
Hany Ramzy adalah bagian dari tim sepak bola Mesir yang menghadapi Inggris di Piala Dunia 1990 dan menghabiskan 11 tahun bermain di Bundesliga. Ia memberi Salah kesempatan untuk debut di tim nasional senior Mesir pada Oktober 2011 ketika dia menjadi manajer tim nasional.
Ia juga menangani tim Mesir U-23 yang diperkuat Salah pada Olimpiade London 2012.
“Saya juga harus naik bus dan berjalan kaki lima atau enam kilometer untuk sampai ke klub pertama saya, Al Ahly. Ayah saya tidak mampu membelikan sepatu sepak bola untuk saya,” sambung Ramzy.
“Kemampuan Salah untuk bermain di level tertinggi dan bertahan selama bertahun-tahun dibentuk oleh hal ini, karena kehidupan seperti ini membentuk pemain yang kuat.”
Saat memasuki Kairo melalui salah satu jembatan tersibuknya, sebuah papan reklame elektronik besar berganti dari iklan es krim menjadi gambar Salah. Sebuah kata muncul dalam bahasa Arab: “shukran“, yang berarti “terima kasih”.
Di sebuah kantor di dekat sana, Diaa El-Sayed sedang menunggu. Dia merupakan sosok yang paling berpengaruh dalam awal karier Salah.
Pria tersebut adalah pelatih ketika Salah pertama kali menorehkan prestasi di panggung dunia, di Piala Dunia U-20 di Kolombia.
“Saat itu Kolombia sedang tidak stabil, terjadi revolusi, jadi persiapan untuk turnamen sulit bagi kami,” ujar pria yang kerap dipanggil ‘Kapten Diaa’.
“Salah datang bersama kami dan hal pertama yang menonjol adalah kecepatannya dan dia selalu penuh konsentrasi. Dia telah mencapai kesuksesan karena dia selalu mendengarkan, tidak pernah berdebat dengan siapa pun. Mendengarkan dan bekerja. Dia pantas mendapatkan apa yang telah diraihnya.”
Sumber gambar, Getty Images
‘Kapten Diaa’ mengenang saat ia menyuruh Salah muda menjauh dari area penaltinya sendiri dan hanya fokus menyerang.
“Lalu saat melawan Argentina, dia ke belakang untuk bertahan di kotak penalti dan malah membuat pelanggaran yang berujung penalti,” katanya sambil tertawa.
“Saya bilang kepadanya, ‘jangan bertahan, kenapa kamu ada di kotak penalti kita? Kamu tidak bisa bertahan!”
“Setelah Liverpool memenangkan gelar Liga Primer Inggris musim lalu, saya dengar dia bilang Arne Slot menyuruhnya tidak perlu bertahan. Tapi saya adalah pelatih pertama yang mengatakan kepadanya untuk tidak bertahan.”
Salah telah bermain untuk tim nasional Mesir selama 14 tahun dan perannya sangat penting bagi Mesir.
“Saya bahkan menerima telepon dari Menteri Kesehatan Mesir,” kenang Dr. Mohamed Aboud, dokter tim nasional, ketika Salah mengalami cedera bahu serius dalam kekalahan Liverpool dari Real Madrid di final Liga Champions 2018.
Kondisi itu menimbulkan spekulasi bahwa Salah mungkin absen di Piala Dunia Rusia.
“Saya katakan kepadanya untuk tidak panik, semuanya berjalan baik-baik saja.”
Sumber gambar, BBC Sport
Berbincang di klinik medisnya di daerah Maadi, ibu kota Mesir, Dr. Aboud berkata: “Saya masih muda dan tekanan dari dalam negeri sangat kuat.”
“Saya menerima telepon dari begitu banyak orang yang mencoba membantu. Salah satu anggota dewan kami mengatakan bahwa saya sekarang adalah salah satu orang terpenting di seluruh dunia.”
“Situasi ini mengubah saya secara pribadi.”
Sebagai catatan, Salah memang pulih dan bermain di dua dari tiga pertandingan grup negaranya, tetapi dia tidak mampu mencegah Mesir tersingkir setelah kalah dari Uruguay, Rusia, dan Arab Saudi.
“Saya perlu memberitahu Anda bahwa Salah terlibat dalam setiap gol yang kami cetak selama kampanye kualifikasi Piala Dunia 2018,” kata mantan asisten pelatih Mesir, Mahmoud Fayez, di rumahnya di pinggiran Kairo.
Salah mencetak gol penalti dramatis pada menit ke-95 melawan Kongo di Alexandria, yang memastikan kemenangan 2-1 dan membawa Mesir lolos ke Piala Dunia dengan satu pertandingan kualifikasi tersisa—untuk pertama kalinya dalam 28 tahun.
Dalam pertandingan yang menegangkan, Salah membawa Mesir unggul sebelum Kongo menyamakan kedudukan tiga menit sebelum pertandingan berakhir.
“Tahukah Anda kapan Anda bisa mendengarkan keheningan? Saya mendengarkan keheningan ketika Kongo mencetak gol. Ada 75.000 penonton dan keheningan di mana-mana,” sambung Fayez.
Kemudian penalti itu datang yang mengubah Salah menjadi pahlawan nasional.
“Bayangkan, sebuah negara dengan hampir 120 juta penduduk menunggu momen ini untuk lolos kualifikasi,” cetus Fayez.
“Dia menghadapi momen tersulit dan paling berat bagi seorang pemain, penalti di menit ke-95 yang harus dieksekusi Salah.”
“Dia berhasil mencetak gol dan membuat kita semua bangga.”
“Di ruang ganti setelah pertandingan, dia menari, memeluk semua orang, dan berteriak ‘kita berhasil, kita berhasil, setelah 28 tahun kita berhasil’.”
Di Kairo ada akademi sepak bola bernama ‘The Maker’, yang didirikan dan dijalankan oleh mantan penyerang Tottenham dan Mesir, Mido. Ia berharap bisa menghasilkan pemain yang akan mengikuti jejak Salah.
“Saya bermain untuk tim nasional di depan 110.000 orang ketika saya berusia 17 tahun, pemain termuda yang mewakili Mesir,” tutur Mido.
“Saya senang merasakan orang-orang bergantung pada saya dan Salah pun demikian.”
Saat kami berkunjung, sedang berlangsung pelajaran di kelas untuk para pemain muda tentang pola pikir yang dibutuhkan untuk menjadi pemain profesional top.
Di bawah nama Salah yang tertulis di papan tulis, salah satu pelatih menuliskan “disiplin, dedikasi, dan motivasi”.
“Alasan Salah bisa sampai di posisinya sekarang adalah karena dia melatih kekuatan mentalnya setiap hari,” tambah Mido.
“Dia adalah duta besar terbaik bagi Mesir dan juga pemain Afrika. Dia membuat klub-klub Eropa menghormati pemain Arab, itulah yang sudah dilakukan Salah.”
“Saya pikir sekarang banyak klub Eropa, ketika melihat pemain muda dari Mesir, mereka langsung teringat Salah. Dia membuat para pemain muda kita berani bermimpi.”
Kembali ke Nagrig dan kami bertemu Rashida, seorang perempuan berusia 70 tahun yang menjual sayuran di kios kecil. Ia bercerita tentang bagaimana Salah telah mengubah hidupnya dan kehidupan ratusan orang di desa tempat dia dilahirkan dan dibesarkan.
“Salah adalah pria yang baik. Dia sopan dan ramah, dia seperti saudara bagi kami,” ucap Rashida.
Rashida adalah salah satu dari banyak orang di desa yang telah merasakan manfaat dari kegiatan amal Salah, yang memberikan banyak hal ke tempat perjalanan karier sepak bolanya dimulai.
“Tujuannya adalah membantu anak yatim piatu, perempuan yang bercerai dan janda, orang miskin, orang sakit,” kata Hassan Bakr dari Yayasan Amal Mohamed Salah.
“Yayasan ini memberikan bantuan bulanan, makanan, dan kotak makanan pada hari libur dan acara khusus. Misalnya (untuk Rashida) ada tambahan bantuan pensiun yang diterima seorang janda.”
Sumber gambar, Getty Images
“Ketika Salah ada di sini, dia tetap rendah hati, berjalan-jalan dengan pakaian biasa, tidak pernah pamer. Orang-orang menyukainya karena kesederhanaan dan kebaikannya.”
Selain menyumbang untuk membantu orang-orang seperti Rashida, Salah juga mendanai kantor pos baru untuk melayani masyarakat setempat, mendanai pengadaan mobil ambulans, lembaga keuangan, hingga menyumbangkan tanah untuk pembangunan saluran pembuangan limbah.
Ketika Liverpool memenangkan gelar Liga Primer Inggris yang ke-20 kalinya musim lalu, para penggemar datang ke sebuah kafe lokal di Nagrig untuk menonton dan merayakan putra desa yang terkenal itu.
“Salah telah mengukir warisannya. Dia adalah pemain sepak bola Mesir terhebat dalam sejarah kami,” kata Mido.
“Dia tidak perlu membuktikan apapun kepada siapapun, dia adalah legenda bagi Liverpool dan legenda bagi Mesir.”
No Comments