Sumber gambar, ANTARA FOTO/Abdan Syakura
Waktu membaca: 11 menit
Jutaan warga Indonesia mudik ke kampung halaman mereka pada Lebaran 2026, seperti yang telah berlangsung dari masa ke masa. Nyaris 8 juta orang mudik menumpang angkutan umum, terhitung sejak 8 hari jelang lebaran, sementara 100 juta warga lainnya diyakini akan menggunakan kendaraan pribadi—hampir 75% di antaranya mengendarai mobil—agar bisa tiba dan merayakan idul fitri di “tempat asal” mereka.
Para akademisi sejak lama telah mendedah makna di balik mudik di Indonesia, terutama menjelang perayaan lebaran. Salah satunya akademisi Vissia Ita Yulianto, yang dalam studi doktoralnya di University of Freiburg menilai bahwa mudik lekat dengan aktivitas merantau.
Orang-orang yang melakukan perjalanan mudik jelang lebaran, menurut Vissia, adalah para perantau. Namun para perantau ini diseburnya bukan cuma mereka yang menuju perkotaan dengan bekal keterampilan dan pendidikan, karena kebanyakan justru berasal dari kelompok ekonomi menengah ke bawah.
Orang-orang ini, dalam kajian Vissa, meninggalkan tempat asal bukan untuk merantau, melainkan untuk mengadu nasib.
Menurut Vissa, mudik merupakan jembatan bagi orang yang memiliki identitas urban dan pedesaan.
Dengan melakukan perjalanan mudik, dia menyebut seseorang dapat mempertahankan identitas mereka, yang bukan cuma berkaitan dengan kampung halaman, tapi juga masa lalu—dengan anggapan mereka telah meninggalkan cara hidup lama di desa dan beralih ke modernitas di perkotaan.
Sumber gambar, ANTARA FOTO/Putra M. Akbar
Dalam kajian lainnya, antropolog Noel Salazar dari Katholieke Universiteit Leuven di Belgia menyebut mudik lebaran tidak hanya memiliki nilai spiritual atau religius, tapi juga mempunyai arti secara kultural dan ekonomi.
Mudik merupakan bagian penting bagi orang yang merantau, menurut Noel. Alasannya, secara kultural di berbagai kelompok adat di Indonesia, proses pergi dan kembali ke kampung halaman memiliki nilai yang sama-sama penting.
Noel berkata, nilai kultural antara merantau dan mudik tetap setara walau kini mobilitas orang dari pedesaan ke perkotaan tidak lagi bersifat sementara—karena perantau kini tinggal dan menetap di wilayah urban.
Jelang mudik lebaran 2026, BBC News Indonesia mengumpulkan kisah orang-orang yang kembali ke kampung halaman mereka.
Kami menjumpai mereka yang menyeberang dari Jawa ke Sumatra di atas sepeda motor, yang menumpang bus dari Kalimantan menuju Madura, dan yang melintasi lautan di wilayah timur Indonesia. Inilah cerita mereka.
Ribuan pemudik dari kawasan timur Indonesia memadati kapal laut, satu pekan menjelang idul fitri. Sebagian dari mereka terpaksa tidur di lorong dan dek terbuka kapal karena tidak mendapatkan tempat tidur.
Sebagian dari mereka bilang mau tidak mau harus melalui kondisi kapal seperti itu karena ongkos mahal alternatif transportasi lain pesawat.
BBC News Indonesia mengikuti Kapal Motor Sinabung yang dioperasikan PT Pelayaran Nasional Indonesia, pada akhir pekan kedua Maret lalu. Kapal ini melayani rute dari Jayapura, Biak, Manokwari, Sorong, Bacan, Ternate Bitung, Banggai, Bau-bau, Makassar, Balikpapan sebelum melaju ke pemberhentian terakhir di Surabaya.
Sumber gambar, Ikbal Asra
Imam Alfian dan Rina Marzuki adalah dua di antara ratusan penumpang Kapal Motor Sinabung yang beristirahat di anjungan kapal dan lorong dek. Penyebabnya, kapal padat pemudik.
Rina adalah perantau dari Kota Jayapura. Dia terkejut saat pertama kali melihat kondisi kapal yang dipenuhi penumpang.
“Untuk sebagian orang yang tidak suka dengan keramaian, situasi ini akan sedikit mengganggu. Tapi saya masih bisa menoleransi karena ini periode mudik, jadi kapal pasti akan ramai,” katanya.
Namun Rina mengeluhkan fasilitas bagi penumpang yang tak dia dapatkan. Dia tidak bisa beristirahat di atas kasur.
“Tiket saya yang tidak dapat kasur, dapat yang tanpa tempat istirahat. Memang tidurnya harus di tempat yang seadanya, di koridor misalnya,” ujar Rina.
Sumber gambar, Ikbal Asra
Selama pelayaran, Rina telah berulang kali berpindah untuk mendapatkan tempat istirahat.
“Awal perjalanan saya sempat di dek 5, tapi karena banyak penumpang yang turun di Bau-Bau jadi petugas suruh kami turun ke dek 4,” katanya.
Walau sadar akan menghadapi kondisi seperti itu, Rina sejak awal memang berkeras untuk pulang ke kampung halaman.
“Niatnya memang mau mudik lebaran dan bertemu keluarga. Ini pengalaman mudik pertama saya jadi saya memang mau menikmati saja,” ucapnya.
“Sebenarnya sudah mempertimbangkan moda transportasi lain, tapi karena barang yang saya bawa cukup banyak, jadi mungkin naik kapal lebih efisien dan hemat
“Kalau menggunakan pesawat jelas biayanya lebih mahal,” kata Rina.
Sumber gambar, Ikbal Asra
Sepanjang pelayaran, Rina menyebut kru kapal telah memberikan sejumlah imbauan. Penumpang, kata dia, diingatkan untuk tidak duduk di pinggir anjungan.
Ada pula petugas yang mengingatkan penumpang untuk tidak merokok di dalam ruangan.
Namun Rina menilai kapasitas penumpang dan kebersihan fasilitas semestinya harus dibenahi oleh PT Pelayaran Indonesia.
“Kuota penumpang perlu dibatasi supaya kapal tidak terlalu padat dan penumpang bisa mendapatkan haknya—jangan sampai banyak penumpang yang ternyata tidak dapat tempat tidur,” kata Rina.
“Selain itu kamar mandi terbilang sangat kotor dan di kapal ini juga banyak kecoa,” tuturnya.
BBC News Indonesia mengamati para penumpang memenuhi hampir seluruh sudut kapal, mulai dari lorong dek, sekoci hingga anjungan terbuka. Sebagian dari mereka menggelar tikar sebagai tempat beristirahat.
Sumber gambar, ANTARA FOTO/Andri Saputra
Berbeda dengan Rina, Imam Alfian, penumpang dari Bitung yang hendak menuju Surabaya, telah terbiasa dengan kondisi kapal yang padat.
Walau begitu, laki-laki asal Pemalang, Jawa Tengah, itu menyebut kepadatan itu tetap menimbulkan ketidaknyamanan, terutama soal keterbatasan tempat.
“Mau bagaimana lagi, tidak ada tempat jadi harus tidur di luar ruangan. Begitu juga
Toilet umum dan kamar mandinya. Salurannya mampet. Fasilitas kapal memang harus diperbaiki,” katanya.
Sumber gambar, AFP via Getty Images
Bagaimanapun, keinginan untuk merayakan lebaran di kampung halaman mengalahkan ketidaknyamanan yang Imam rasakan.
“Harus lebaran di kampung dan bertemu keluarga. Saya kan kerja di laut sebagai nelayan, cukup lama tidak pulang. Mau tidak mau, walaupun kapal padat, saya harus pulang,” ujarnya.
“Sebetulnya kalau naik pesawat lebih enak, lebih cepat, tapi harga tiket melambung tinggi. Jadi saya memilih harga yang terjangkau. Saya pilih jalur laut ini,” katanya.
Bagi Yanti, mudik lebaran tahun 2026 adalah momen besar. Ibu dengan dua anak ini untuk pertama kali akan kembali ke kampung halaman.
Yanti dan dua anaknya mengarungi darat dan lautan, dari Kota Palopo di Sulawesi Selatan menuju Bau-Bau di Sulawesi. Suami Yanti tak ikut perjalanan ini karena berlebaran kampung orang tuanya.
Untuk sampai ke kampung halamannya di Bau-bau, Yanti dan dua anaknya harus terlebih dulu menempuh perjalanan darat sekitar 9 jam dari Palopo ke Makassar.
Sumber gambar, Nur Photo via Getty Images
Menumpang bus umum, mereka tiba di Makassar, Kamis (19/03). Tak lama kemudian, mereka beranjak ke pelabuhan. Kapal yang akan mereka tumpangi baru melepas jangkar di Pelabuhan Anging Mammiri, Makassar, pukul 21.00 WITA.
“Tidak masalah menunggu di pelabuhan. Bagi saya kan ini momen yang besar, bisa berkumpul lagi bersama keluarga besar di kampung,” kata Yanti.
Selama menunggu kapal, Yanti dan anak-anaknya duduk di lantai beralaskan karung bekas. Para pemudik lainnya juga menunggu dengan cara yang sama.
Sumber gambar, Darul Amri
Menurut Yanti, situasi itu bukan kendala karena dia tahu tempat duduk di area tunggu penumpang terbatas.
“Tidak apa-apa melantai, kan tidak bermalam disini. Asalkan bisa mudik dengan anak-anak. Apalagi nanti lebaran ini jadi harus kumpul keluarga,” kata Yanti.
Yanti akan berlayar dengan Kapal Motor Tilongkabila ke kota Bau-bau, dengan waktu tempuh sekitar 12 jam.
Sumber gambar, Darul Amri
Pemudik lain, Sunarti, mudik bersama dua putrinya dari Makassar ke Bau-bau. Mudik, bagi perempuan yang merantau ke Makassar sejak 1995 ini, memiliki makna yang mendalam.
“Kami sekeluarga memang sudah punya komitmen untuk selalu mudik dan kumpul keluarga di Bau-Bau,” tuturnya.
“Tahun lalu bapak masih ada. Tahun ini kami berusaha untuk lebih menghidupkan lagi suasana kumpul-kumpul keluarga di rumah,” kata Sunarti.
Sunarti adalah pekerja kantoran perusahan swasta. Dia sempat bergelut untuk mendapatkan tiket kapal yang disebutnya habis begitu cepat.
“Mudik ini bagi saya semacam sebuah ritual, untuk kembali dan tetap berkumpul dengan keluarga,” ujarnya.
“Jadi kemarin itu saya cari tiket kapal yang tanggal 16 tapi kehabisan jadi dapatnya yang tiket hari ini. Kakakku itu sudah pesan setelah bapak meninggal tahun lalu itu agar kami tetap kumpul,” kata Sunarti.
Sumber gambar, AFP via Getty Images
Selama arus mudik lebaran 2026, PT Pelindo Regional 4 memperkirakan jumlah pemudik, baik yang berangkat atau transit, di Pelabuhan Anging Mammiri capai 132.306 orang.
Arus mudik Lebaran tak hanya soal kepadatan lalu lintas atau panjangnya antrean di pelabuhan. Di sejumlah titik perlintasan seperti kawasan Tugu Siger— gerbang Lampung Selatan dan Bandarlampung — cerita para pemudik menghadirkan potret lain: tentang tradisi, strategi berhemat, hingga humor khas perjalanan panjang.
Di Tugu Siber, para pemudik kerap berhenti sejenak, beristirahat, berfoto, atau sekadar mengatur napas setelah perjalanan berjam-jam dari Pulau Jawa menuju Sumatra.
Sumber gambar, Nur Photo via Getty Images
Suryadi, pemudik asal Cikarang, Jawa Barat, adalah salah satu dari ribuan orang yang menempuh perjalanan darat menuju Sumatra menggunakan sepeda motor. Laki-laki berumur 43 tahun itu mudik bersama istri dan tiga anaknya menuju Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran.
Namun, perjalanan itu tidak dilakukan sendiri. “Satu keluarga, dua motor,” ujarnya saat ditemui di Tugu Siger, Kamis (19/03).
Suryadi berangkat sekitar pukul 22.00 WIB dan tiba di Pelabuhan Ciwandan menjelang pagi. Meski perjalanan darat relatif lancar, tantangan utama yang dia hadapi justru terjadi saat proses penyeberangan.
Akibat antrean panjang, kata Suryadi, dia baru bisa tiba di kampung halamannya pada siang hari.
“Sempet ada antrean saat kapal bersandar. Normalnya kan 2-2,5 jam, tapi tadi sampai 5 jam,” ujarnya.
Meski begitu, Suryadi mengaku perjalanan panjang bukan halangan. Baginya, mudik adalah tradisi yang “harus dijalani”.
“Mudik, meskipun perjuangannya agak berat, tapi sudah tradisi. Bagi saya yang penting bisa pulang kampung, bisa ketemu keluarga di kampung,” kata Suryadi.
“Kalau enggak mudik, ada yang kurang,” tuturnya.
Sumber gambar, Robertus Bejo
Cerita serupa dikatakan Dedik Triawan, pekerja pabrik di Bekasi, Jawa Barat, yang mudik ke kampung halamannya di Ulu Belu, Kabupaten Tanggamus.
Dedik berangkat pukul 01.00 dini hari dan tiba di Pelabuhan Ciwandan sekitar pukul 05.00 WIB.
Meski perjalanan mudiknya panjang, Dedik menyempatkan diri untuk berhenti di Tugu Siger. Baginya, lokasi itu bukan sekadar titik perlintasan.
“Saya singgah di sini karena ikon Lampung adalah tugu ini. Jadi selama mudik selama mudik pasti selalu foto,” kata dia.
Bagi Dedik, mudik bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga pengalaman emosional.
“Sejauh-jauhnya merantau, saya harus ingat kampung halaman. Jadi mudik itu harus setahun sekali, bahkan kumpul keluarga harus. Ya itu harus ramai,” tuturnya.
Sumber gambar, LightRocket via Getty Images
Di antara barang bawaan Dedik, terdapat sebuah kardus yang diikat di belakang motornya. Tertera tulisan berbahasa Jawa pada kardus itu.
Tulisan itu merujuk pada sosok yang paling dia ingin temui selama masa mudik lebaran ini, yaitu ibunya.
Dan oleh karena itu, dia juga tidak pernah melupakan pesan ibunya: jangan ngebut, yang penting sampai rumah.
“Ora banter, ora nyalipan. Jare ibu penteng tekan,” begitu tulisan di kardus yang dibawa Dedik.
“Ibu bilang, tidak kencang, tidak menyalip, yang penting sampai rumah,” ujarnya.
Khairul Umam, Kamis (19/03), baru saja tiba dari Batu Licin, Kabupaten Tanah Bumbu. Laki-laki berumur 30 tahun itu menumpang Kapal Motor Egon selama nyaris 24 jam untuk mudik ke kampung halamannya di Pamekasan, Jawa Timur.
Turun di Pelabuhan Tanjung Perak, Khairul lalu harus melanjutkan perjalanan dengan transportasi darat sebelum tiba di tempat kelahirannya.
Khairul sudah 10 tahun merantau ke Batu Licin, tapi baru satu kali dia absen pulang saat lebaran, yakni ketika pandemi Covid-19 melanda.
“Setiap lebaran, pokoknya setahun dua kali (termasuk saat Idul Adha), saya mudik. Alasannya ya untuk bertemu orang tua,” kata Khairul.
“Saya pulang untuk mengenang kampung halaman, masa-masa tinggal bersama orang tua,” ujar laki-laki yang berbisnis jual-beli kendaraan di Kalimantan Selatan ini.
Sumber gambar, Ahmad Mustopa
Sekar Tiara adalah warga Madura lainnya yang mudik ke Pamekasan. Dia menumpang kereta dari perantauannya di Yogyakarta, turun di Surabaya, lalu melanjutkan perjalanan menuju Madura.
“Setiap tahun mudik. Karena saya anak rantau jadi ingin pulang untuk merasakan kehangatan lebaran,” ujarnya.
Momen mudik saat lebaran ini bagi Sekar juga krusial. Alasannya, hanya pada periode idul fitri inilah dia mendapatkan jatah libur dari perusahaannya.
“Karena jauh dari rumah, akan sangat terasa sendiri kalau tidak pulang. Kalau pulang bisa bertemu semua anggota keluarga—ada kehangatan,” tuturnya.
Sumber gambar, Ahmad Mustopa
Tiga tahun penantian berlalu. Setelah dua kali lebaran hanya dia rayakan lewat panggilan video dari kamar kontrakannya di Semarang, Ihsanul Fikri akhirnya menyeberangi Selat Sunda untuk kembali pulang ke kampung halamannya di Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.
Bagi Ihsanul, mudik tahun ini bukan sekadar pulang ke kampung halaman, tapi juga penebusan rindu pada orang tua.
Rasa rindu pada rumah yang lama dia tinggalkan dan nuansa lebaran yang dua tahun ini hanya bisa ia bayangkan dari kejauhan akhirnya dia tebus pada lebaran kali ini.
“Saya mudik dengan bus dari Krapyak Semarang menuju ke kampung,” Kata Ihsanul, Kamis (19/03).
“Seperti biasa, naik bus jalur darat dari Semarang menuju ke Pelabuhan Merak, melewati selat itu, turun ke Bakauheni lanjut perjalan darat,” tuturnya.
Sumber gambar, ANTARA FOTO/Aji Styawan
Strategi melakukan perjalanan mudik lebih awal ternyata membuahkan hasil. Pada 16 Maret lalu dia sampai di Tanah Datar.
“Saya sampai tanggal 16 itu dengan kondisi jalan masih lancar, setelah itu kabarnya jalur Palembang-Padang macet,” ujarnya. “Untung saya mudik lebih awal jadi aman,” ucapnya.
Ihsanul memilih perjalanan darat ini karena ongkos yang relatif murah dibandingkan dengan membeli tiket pesawat.
“Kalau naik pesawat itu mahal Rp 2 juta hingga Rp 4 juta sekali perjalanan, belum lagi biaya lainnya, sehingga saya jarang pulang,” ucap Ihsanul.
“Kemarin saya dapat tiket dengan harga yang sudah naik, mungkin karena lebaran. Naik sekitar Rp100 ribu,” ucapnya.
Sesampainya di kampung halaman, Ihsanul langsung melepas rindunya hingga sungkem kepada orang tua.
“Bagi saya lebaran itu momen yang penting, karena mau bagaimanapun itu waktu untuk bertemu dengan keluarga,” tuturnya.
“Dua tahun lalu waktu saya direnggut oleh pekerjaan. Ini pembalasan saya untuk melampiaskan kerinduan,” ujarnya.
Sumber gambar, ANTARA FOTO/Fitra Yogi
Di Kota Padang, perempuan bernama Sari telah tiba di rumahnya, tengah pekan lalu. Dia telah merantau selama dua tahun ke Jakarta. Pulang ke Padang saat lebaran merupakan waktu untuk merefleksikan pengalaman dan peristiwa yang dialaminya di tanah rantau.
“Karena sudah cukup stres dengan pekerjaan,” ujarnya.
Bukan cuma untuk diri sendiri, Sari menyebut mudik dia lakukan untuk orang tua.
Pada masa lebaran kali ini Sari mengikuti program mudik gratis. Dia menumpang bus yang melalui rute Jakarta-Jambi-Palembang-Padang.
“Sudah saatnya menjenguk orang tua. Kalau tidak mudik rasanya sedih,” ujarnya.
Liputan ini disusun oleh wartawan BBC News Indonesia, Abraham Utama, bersama para kontributor, yaitu Darul Amri di Makassar, Ikbal Asra di Jayapura, Robertus Bejo di Lampung, Kamal di Semarang, Halbert Chaniago di Padang, dan Ahmad Mustopa di Pamekasan
No Comments