Sumber gambar, Dokumen Nanda Yuliana Putri
Waktu membaca: 9 menit
Rina Rakhman sempat berada di dalam jurang depresi selama empat tahun. Dalam kurun waktu itu, setiap hari dia terpaksa menelan tujuh butir pil yang diresepkan oleh psikiater guna membantu dirinya menjadi lebih tenang. Namun, semua berubah saat dia memutuskan memelihara anjing.
Selain berhenti mengonsumsi obat penenang, perempuan berusia 43 tahun itu mengklaim hidupnya kini lebih bermakna.
“Anjing-anjing ini mengisi sesuatu yang saya enggak pernah tahu saya butuh. Ternyata saat menghadapi konflik, saya menyadari bahwa saya sangat kesepian. Mereka (anjing-anjing) inilah yang mengisi dan menyembuhkan,” kata Rina.
Rina hijrah dari Bandung ke Bali bersama suami dan dua anak-anaknya. Di sana dia memutuskan memelihara anjing. Awalnya, ia memelihara anjing lokal Kintamani tak bertuan. Kemudian, ia memutuskan mengadopsi anjing berikutnya. Hingga saat ini anjing peliharaannya berjumlah enam ekor, dari Golden Retriever hingga Rottweiler.
“Yang pasti, saya juga menjadi lebih bertanggung jawab. Dulu, ketika ada konflik, saya kabur. Sejak punya anjing, saya harus menahan diri demi merawat dan menjaga mereka,” ungkapnya kepada wartawan Christine Nababan yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.
Lingkungan tempat ia tinggal pun tidak keberatan dengan keberadaan anjing-anjingnya.
“Jadi, semenyenangkan itu memelihara anjing. Sama tetangga pun aman dan sebagainya,” jelasnya.
Sumber gambar, Dokumen Rina Rakhman
Memelihara anjing hingga enam ekor jelas perlu biaya.
Rina rela merogoh kocek sedikitnya Rp15 juta setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan anjing-anjingnya, mulai dari makanan, obat kutu, obat cacing, hingga vitamin.
Belum lagi, biaya tidak rutin lainnya seperti memanggil pelatih anjing, pengasuh yang menjaga anjing saat ia dan keluarganya keluar rumah, biaya memandikan anjing-anjingnya, hingga rekreasi ke taman bermain anjing.
Sumber gambar, Dokumen Nanda Yuliana Putri
Kecintaan terhadap anjing juga dirasakan Nanda Yuliana Putri.
Warga Bali ini memelihara anjing pertama kali pada Juni 2020 lalu. Tak disangka-sangka, hubungan emosional dengan anjing pertamanya menguat.
Nanda bahkan tak keberatan menyisihkan Rp10 juta-Rp15 juta per bulan untuk menghidupi anjingnya. Padahal, penghasilannya tak lebih dari Rp20 juta per bulan.
“Enggak ada yang mencintai dan membutuhkan aku seperti Yuppi, anjingku. Makanya, kalau aku makan enak, tapi anjing aku enggak makan layak, aku merasa bersalah. Jadi, kebutuhan Yuppi prioritasku,” tuturnya.
Sumber gambar, Robertus Pudyanto/Getty Images
Rina dan Nanda adalah potret warga Bali yang rela merogoh kocek dalam-dalam untuk anjing peliharaan mereka.
Pawrent (istilah untuk pemilik anjing) seperti Rina dan Nanda juga yang membuat bisnis toko kebutuhan hewan peliharaan alias pet shop dan klinik dokter hewan tumbuh subur di Bali.
Saat ini, belum ada data resmi jumlah pet shop di Bali. Namun berdasarkan pengamatan, pet shop di area Badung dan Denpasar dapat ditemui setiap dua kilometer.
BorknChew, toko yang fokus menjajakan camilan bernutrisi untuk anjing, sedang mencicipi peruntungan dari ramainya bisnis pet shop di Bali.
“Komunitas pemilik anjing sangat suportif dan sadar kesehatan hewan peliharaan mereka. Mereka tidak mencari yang termurah, tetapi juga membaca label kemasan dan bertanya soal bahan yang digunakan,” terang Tasha, pendiri BorknChew.
Ini menjadi potensi besar bagi brand kami yang lahir dari konsep ‘affordable premium‘ untuk menjembatani kesenjangan antara kualitas nutrisi hewan dan harga yang masuk akal,” tambahnya.
Potensi itu rupanya terbukti. Setahun setelah berjualan secara daring pada pertengahan 2024 lalu, Tasha membuka gerai toko fisik pertamanya di area Badung, Bali.
“Sejak berdiri hingga November 2025 atau 16 bulan beroperasi, BorknChew membukukan pertumbuhan penjualan hingga 250%. Pertumbuhan ini sangat signifikan. Bagi kami, ini adalah validasi bahwa pasar memang sudah menunggu-nunggu solusi yang kami tawarkan,” ungkap Tasha.
Bisnis keperluan anjing tak semata-mata soal makanan.
Bernadeta Mela bisa membaca peluang itu.
Dia dan temannya mendirikan usaha taman bermain anjing yang juga menyediakan layanan salon anjing, pelatihan anjing, penginapan anjing, kolam renang untuk anjing, hingga antar jemput anjing dan hewan kesayangan lainnya.
Taman bermain seluas 1.800 meter persegi ini terletak di Kota Denpasar dan dinamai Paw Space.
Mela meyakini anjing yang sehat dan bahagia adalah anjing yang tidak hanya mendapatkan asupan bernutrisi, tetapi juga punya aktivitas, bermain, dan bersosialisasi.
Selama dua tahun membuka usaha taman bermain anjing ini, menurutnya, makin banyak pemilik anjing yang peduli terhadap kebugaran dan kesehatan mental hewan-hewan peliharaan mereka.
Sehingga, kata Mela, mereka mulai rutin menjadwalkan membawa anjing-anjing mereka bermain di taman bermain miliknya.
“Di Kota Denpasar, meskipun Paw Space menjadi kebutuhan tersier bagi hewan peliharaan, namun potensi pasarnya luar biasa. Mereka (pemilik anjing) sadar dengan kesejahteraan anjing-anjing mereka. Mereka mau anjing mereka bisa bermain, berenang, berlarian, bersosialisasi, dan lain sebagainya,” paparnya.
Mela mengklaim sedikitnya ada 20-30 ekor anjing yang datang berkunjung ke Paw Space pada hari biasa dan bisa mencapai 100 ekor pada akhir pekan.
Biaya yang dihabiskan pemilik anjing untuk menikmati seluruh fasilitas di Paw Space pun beragam, mulai dari Rp200.000 sampai Rp900.000 per kunjungan.
Sumber gambar, Christine Nababan
Georgia Kauten, pemilik taman bermain anjing Dogville di Kabupaten Badung, juga mengawali usahanya dari kecintaannya terhadap hewan.
Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya sejak usia 10 tahun dengan melatih kuda dan anjing.
“Ketika saya pindah ke Bali, saya sempat bekerja di salah satu taman bermain anjing. Tapi saya menyadari saya ingin konsep yang berbeda, di situlah Dogville berdiri,” ungkapnya.
Di Dogville, bukan hanya anjing-anjing yang bisa bermain atau bersosialisasi tanpa tali kekang. Pemilik anjing yang datang juga bisa menikmati waktu bersantai di area kafe atau bekerja secara daring.
Pada waktu-waktu tertentu, Dogville juga menggelar event untuk para pemilik anjing sehingga bisa bersosialisasi bersama anjing peliharaan mereka.
“Kami ingin Dogville bisa melahirkan komunitas yang sehat dari pertemuan anjing dan para pemilik anjing,” jelas Georgia.
Sumber gambar, Christine Nababan
Bisnis keperluan anjing peliharaan tidak melulu dilakukan mereka yang memiliki modal uang.
Wahyu Isa, salah satunya. Pemandu wisata gunung ini menawarkan jasa pengasuh anjing dan membawa anjing berjalan-jalan.
Bisnis kecil-kecilan yang dipromosikan lewat mulut ke mulut ini terbukti membantu ekonominya hidup di perantauan.
Isa mematok tarif Rp100.000 – Rp150.000 untuk layanan membawa anjing berjalan-jalan selama satu jam ke pantai atau mengitari sawah dan perumahan.
Adapun untuk layanan menjaga anjing di rumah yang sedang ditinggalkan pemilik, ia memberi tarif Rp150.000 – Rp 200.000.
“Kalau lagi enggak bawa tamu ke gunung, waktu saya luang. Mending saya jogging sama anjing atau jaga mereka di rumahnya. Dari sana saya dapat bayaran,” katanya.
Ketika anjing-anjing peliharaan bisa hidup sejahtera, tidak begitu ceritanya dengan anjing-anjing liar di Bali.
Hewan-hewan itu hidup berkeliaran di jalan, mencari makan dari belas kasih orang yang lalu lalang, menderita sakit penyakit, terancam diracun, hingga terancam tertular dan menularkan rabies.
Data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali menyebutkan, ada 12 kematian manusia akibat rabies hingga Oktober 2025.
Angka ini meningkat dari tujuh kematian pada 2024 dan sembilan kematian pada 2023.
Sumber gambar, Anadolu via Getty Images
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Nurul Hadiristiyantri, mengatakan populasi anjing di Bali mencapai 565.737 ekor, yang merupakan tertinggi se-Indonesia.
Populasi besar ini pula yang menjadi penyebab kasus rabies di Bali masih terjadi sejak 2008 hingga saat ini.
“Rabies masih ada di Bali dengan sumber utamanya dari anjing, karena setiap rumah tangga di Bali tidak pernah terlepas dari anjing. Yang disayangkannya, tidak dipelihara dengan baik,” imbuh dia.
Sumber gambar, ANTARA FOTO
Menurut Nurul, sebagian besar warga Bali memelihara anjing mereka dengan cara dilepasliarkan dan kemungkinan tidak divaksinasi.
Akibatnya, anjing-anjing tersebut berpotensi terjangkit penyakit, terutama rabies.
Berdasarkan catatannya saja, total kasus anjing positif rabies mencapai 375 ekor per 20 Oktober 2025.
Sebagai penanganan awal, pihaknya telah melakukan vaksinasi darurat untuk mencegah penyebaran rabies lebih luas.
Selanjutnya, anjing-anjing positif rabies yang sudah bergejala dan menggigit akan dieliminasi.
“Kriteria eliminasi terhadap anjing itu selektif dan tertarget. Pertama, anjing yang sudah menunjukkan gejala rabies. Kedua, anjing yang kontak erat dengan anjing rabies (suspect). Ketiga, anjing-anjing liar yang diminta dieliminasi oleh pihak desa, yang bisa jadi karena agresif atau menggigit,” terang Nurul.
Sebagian anjing-anjing liar ini diselamatkan para penyayang hewan.
Salah satunya Yayasan BAWA, organisasi kesejehateraan hewan di Bali yang fokus pada penyelamatan, perlindungan, dan peningkatan kualitas hidup anjing-anjing terlantar, khususnya anjing-anjing asli Bali seperti anjing Kintamani dan anjing kacang.
Cynthia, Event Fund Raising Communication Coordinator Yayasan BAWA, menegaskan rumah aman yang disediakan oleh organisasinya bukan tempat penampungan.
Menurut dia, shelter adalah tempat penampungan bagi hewan-hewan yang sudah tidak diinginkan lagi.
“Tetapi di sini, kami menyebutnya rumah aman, pusat rehabilitasi dan adopsi,” jelasnya.
Sumber gambar, Anadolu via Getty Images
Di rumah aman, lanjut dia, timnya menyelamatkan hewan yang mengalami penyiksaan dan penganiayaan. Anjing-anjing ini kemudian dirawat hingga sembuh dan dibantu pemulihan mentalnya hingga siap untuk diadopsi.
“Jadi, kalau sudah sehat fisik, masih kami rawat di rumah aman untuk dapat mempercayai manusia lagi,” imbuhnya.
Kemudian, anjing-anjing tersebut akan divaksinasi dan disteril, sebelum mendapatkan rumah baru atau keluarga baru yang akan mengadopsi dan menyayangi mereka.
Hal ini sesuai dengan program utama Yayasan BAWA, yakni penyelamatan, rehabilitasi, dan penempatan kembali hewan, di samping program lainnya yang berkelanjutan, seperti edukasi, vaksinasi dan sterilisasi massal.
Menurut Cynthia, program-program Yayasan BAWA dapat mendukung upaya kolektif pemerintah dan masyarakat untuk menyebarluaskan kesadaran pentingnya kesejahteraan anjing.
“Yayasan BAWA ingin mengadvokasi hak semua hewan di Bali untuk diperlakukan dengan baik, diberikan kasih sayang, dan dihargai,” tandasnya.
Kesejahteraan anjing—terlepas anjing peliharaan atau anjing liar—sudah tentu bersinggungan dengan bidang kesehatan hewan.
Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Bali, Dewa Made Anom, menyadari perhatian penduduk lokal dan pendatang di Bali terhadap anjing membawa berkah tersendiri bagi profesi dokter hewan.
Dia teringat saat mengambil jurusan kedokteran hewan pada 1990 lalu, jurusan itu masih sepi peminat. Bahkan, mahasiswa/mahasiswi pada saat itu tidak lebih dari 100 orang.
“Cukup membanggakan sebagai seorang dokter hewan. Saat ini di Universitas Udayana, orang yang mau ambil jurusan kedokteran hewan itu membludak dan persaingannya cukup ketat. Itu menandakan minat semakin tinggi, karena kebutuhan masyarakat terhadap dokter hewan juga semakin meningkat,” jelasnya.
Kesadaran pemilik terhadap kesehatan hewan ini pula yang membuat mata investor melirik bisnis layanan kesehatan hewan.
Jumlah klinik dan praktik rumahan dokter hewan pun menjamur, terutama di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung.
Berdasarkan data PDHI Bali, jumlah dokter hewan yang terdaftar mencapai lebih dari 1.500 orang. Jumlah ini tertinggi kedua di Indonesia setelah Jakarta. Namun, PDHI tak memiliki angka jumlah klinik kesehatan hewan yang berdiri saat ini.
Menyadari tingginya penawaran dan permintaan tersebut, Anom mengatakan PDHI Bali membantu pemerintah setempat menata klinik dan praktik dokter hewan dalam satu dekade terakhir.
Tujuannya mengurangi pelayanan kesehatan tidak maksimal terhadap hewan, menghindari terjadinya malpraktik, termasuk menghindari praktik usaha persaingan tidak sehat.
“Karena harganya murah, otomatis kualitas yang diberikan turun. Itu yang kami tidak mau. Karenanya kami mulai menata anggota dan perizinan, tempat praktik. Meski perizinan bukan kami yang keluarkan, tetapi kami diberikan kewenangan untuk membantu menyaring dan memberikan rekomendasi,” jelas Anom.
Regulasi dan pengawasan ini penting bagi para pemelihara anjing yang amat memperhatikan kesehatan hewan peliharaan. Sebab bagi mereka, anjing adalah teman terbaik dalam hidup.
“Memelihara anjing adalah keputusan yang tidak akan pernah aku sesali seumur hidupku. Aku bahagia sekali,” ujar Nanda Yuliana Putri, warga Bali pemelihara anjing.
Wartawan Christine Nababan di Bali berkontribusi untuk artikel ini.
No Comments