Sumber gambar, ANTARA FOTO/Arnas Padda
Waktu membaca: 15 menit
Operasi pencarian dan evakuasi korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, resmi ditutup pada Jumat (23/01) malam, setelah tim SAR gabungan telah menemukan total 10 jenazah kru dan penumpang pesawat tersebut.
“Operasi pencarian dan evakuasi terhadap kecelakaan pesawat ATR 42-500, saya nyatakan selesai,” kata Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, dalam jumpa pers, Jumat (23/01) malam.
Syafii menjelaskan, dari hasil identifikasi Tim DVI Polri, ada 10 jenazah yang sudah ditemukan di lokasi jatuhnya pesawat.
Pada Sabtu (24/01), tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulsel menyatakan telah mengidentifikasi seluruh jenazah yang terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang.
Tim SAR gabungan telah menemukan total 10 jenazah korban jatuhnya pesawat ATR 42-500.
Semua jenazah ditemukan di sekitar jatuhnya pesawat tersebut di puncak Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Andi Sultan, mengatakan, upaya pencarian dilakukan lewat darat dan udara.
“Medan yang sangat terjal, jarak pandang terbatas, serta cuaca yang cepat berubah menjadi tantangan utama di lapangan,” tambahnya.
Sumber gambar, Basarnas
Pada Sabtu (24/01), tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulsel mengungkap hasil identifikasi jenazah korban jatuhnya pesawat ATR 42-500.
“Hasil identifikasi berdasarkan pemeriksaan yang dilaksanakan oleh tim DVI. 10 korban sudah bisa diidentifikasi berdasarkan jumlah yang terdapat di manifest,” kata Kapolda Sulsel, Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro, seperti yang dilaporkan wartawan Muh. Aidil di Makassar untuk BBC News Indonesia.
Pertama, Yoga Nauval Prakoso yang beralamat di Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur.
“Kantong jenazah dengan nomor PM.62.B.05 cocok dengan nomor AM 008, teridentifikasi sebagai Yoga Nauval Prakoso melalui sidik jari, properti, dan ciri media,” kata Haris.
Kedua, Hariadi yang beralamat di Jati Karanganyar, Jawa Tengah.
“Kantong jenazah dengan nomor PM62B.06 dan PM62B.03 bodypack cocok dengan nomor AM003 teridentifikasi sebagai Hariadi, melalui sidik jari, gigi, properti dan ciri medis.”
Ketiga, Muhammad Farhan Gunawan yang beralamat di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
“Kantong jenazah dengan nomor PM 62 B.07 cocok dengan nomor AM 001, teridentifikasi sebagai Muhammad Farhan Gunawan melalui sidik jari, gigi, properti dan ciri medis,”
Keempat, Ferry Irawan yang beralamat di Kecamatan Pondok Melati, Bekasi, Jawa Barat.
“Kantong jenazah dengan nomor PM 62B.08 cocok dengan AM 007, teridentifikasi sebagai Ferry Irawan melalui sidik jari, properti dan ciri medis.”
Kelima, Dwi Murdiono yang beralamat di Bogor, Jawa Barat.
“Kantong jenazah dengan nomor PM 62B.09 cocok dengan nomor AM 005, teridentifikasi sebagai Dwi Murdiono melalui sidik jari, gigi, properti dan ciri medis.”
Keenam, Restu Adi Pribadi, yang beralamat di Jakarta Timur.
“Kantong jenazah dengan nomor PM 62B.10A PM62B.10B bodypack dan PM 62B.05 properti cocok dengan nomor AM 009 teridentifikasi sebagai Restu Adi Pribadi melalui sidik jari, properti dan ciri medis,” jelas Haris.
Ketujuh, Andy Dahananto yang beralamat di Tangerang, Banten.
“Kantong jenazah dengan nomor PM 62B.11 cocok dengan nomor AM010 teridentifikasi sebagai Andy Dahananto melalui sidik jari, gigi, properti dan ciri medis.”
Sumber gambar, Basarnas
Pada Jumat (23/01), tim DVI Polda Sulsel telah mengidentifikasi jenazah Deden Maulana. Deden merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Dua jenazah lainnya diidentifikasi sebagai pramugari bernama Florencia Lolita Wibisono dan Esther Aprilita S.
Black box atau kotak hitam pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, telah ditemukan pada Rabu (21/01) pagi, kata seorang pejabat terkait.
Kotak hitam, yang berjumlah dua, adalah alat perekam data penerbangan (FDR) dan alat perekam percakapan pilot (CVR).
Kotak hitam itu ditemukan di lereng Gunung Bulusaraung sekitar pukul 11.00 Wita, Rabu (21/01).
“Ketemu di jam 11 kurang lebih dan baru sampai sekarang 17.30 Wita,” kata Pangdam XIV Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawoko di Posko Operasi SAR, dilansir detikSulsel, Rabu (21/1/2026), seperti dilaporkan Detik.com.
Selain menemukan kotak hitam, tim khusus juga menemukan sejumlah barang-barang pribadi diduga milik para korban.
Beberapa di antaranya adalah paspor, laptop, hingga buku rekening.
Sumber gambar, ANTARA FOTO/Arnas Padda
Bangun Nawoko mengatakan, black box akan diberikan kepada Kabasarnas dan KNKT.
“Sesuai dengan kesepakatan kita, kita hanya mencari dan menemukan, nanti kita berikan ke Kabasarnas selanjutnya diserahkan ke KNKT,” jelasnya.
Sebelumnya, informasi awal penemuan kotak hitam itu diungkapkan Asisten Operasi Kodam XIV Hasanuddin Kolonel Inf Dody Triyo Hadi, pada Rabu (21/01) siang.
Dody berkata, kotak hitam itu ditemukan pada pukul 11.00 Wita. Saat ini benda itu sudah dilepas dari ekor pesawat.
“Alhamdulillah bentuknya utuh. Ada di dalam potongan bagian ekor,” kata Dody di Maros, Rabu (21/01), seperti dilaporkan KompasTV.
Kotak hitam itu kini sedang dibawah menuju posko di Desa Tompobulu.
Dijelaskan, pihaknya sebelumnya sudah mengidentifikasi secara visual, tapi belum bisa menuju ke lokasi karena medan yang cukup berat.
Tim khusus kemudian menuju lokasi untuk memeriksa potongan ekor pesawat tersebut.
“Akhirnya bisa mengecek secara langsung potongan ekor tersebut, dan dalamnya (benda diduga black box) masih berada di posisinya, tidak terlepas, berada dalam posisi dalam ekor tersebut,” jelasnya.
Sumber gambar, ANTARA FOTO/Muchtamir
Dody mengatakan secara visual yang dikirimkan melalui video dari tim yang ada di lapangan, pihaknya menduga penemuan itu adalah black box.
“Tapi kita memang masih tetap bahasanya menduga, nanti akan kita serahkan ke kawan-kawan kita di KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) untuk memastikan itu,” ujarnya.
Sumber gambar, ANTARA FOTO/Arnas Padda
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport keluar jalur penerbangan sebelum jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Hal itu diungkap Soerjanto Tjahjono, kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (20/01).
Menurutnya, Pengatur Lalu Lintas Udara di Makassar mengarahkan pesawat untuk menuju jalur penerbangan tertentu sebagai persiapan guna mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Namun, pesawat tidak berada pada jalur yang seharusnya.
Pesawat terus keluar jalur penerbangan hingga jatuh.
Sumber gambar, Muchtamir Zaide / AFP via Getty Images
Pada Sabtu (17/01), pukul 12.23 Wita, Pengatur Lalu Lintas Udara (Air Traffic Control/ATC) Makassar Area Terminal Services Center (MATSC) mengarahkan pesawat untuk bersiap menempuh jalur penerbangan tertentu sebagai persiapan guna mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
Namun, ATC mengidentifikasi bahwa pesawat ternyata tidak berada pada jalur yang seharusnya.
Soerjanto Tjahjono, kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), mengungkap bahwa prosedur sebelum menempuh jalur penerbangan yang diminta ATC dimulai dari poin bernama Araja.
Sumber gambar, ANTARA FOTO
Dari Araja, pesawat harus terbang menuju ke poin Openg, kemudian Kabip. Namun, pesawat ATR 42-500 itu tidak terbang ke poin Araja.
Ketika diminta langsung memotong jalur ke poin Openg pun, pesawat tetap keluar jalur.
“Kami juga belum bisa menyampaikan kenapa alasannya,” tutur Soerjanto dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (20/01).
Karena poin Openg sudah terlewat, menurut Soerjanto, pesawat diminta untuk menuju ke poin Kabip supaya ATC bisa menyalakan Instrumen Sistem Pendaratan (Instrument Landing System/ILS) secara otomatis pada pesawat.
ILS berfungsi memandu pesawat untuk mendarat dengan aman dalam kondisi jarak pandang buruk, bahkan dalam kabut atau kegelapan.
Akan tetapi, pesawat terus terbang keluar jalur.
“Nah, terakhir komunikasinya bahwa ATC menanyakan apakah dia (pesawat) berbelok ke kanan dengan heading 245. Diharapkan dia heading 245 itu bisa memotong ILS itu sehingga alat pandu pendaratan otomatisnya bisa bekerja,” jelas Soerjanto.
“Nah, tapi di situ keburu pesawatnya sudah crash (jatuh),” imbuhnya.
Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafi’i, mengatakan “tidak ada korban selamat” dari pesawat ATR 42-500 tersebut.
“Tidak ada (korban yang selamat). Saya sampaikan kita masih tetap mengharapkan ada mukjizat, ada korban yang bisa kita selamatkan dalam kondisi hidup,” katanya, Selasa (20/01).
Dia mengaku lokasi kejadian tidak mudah ditembus dan cuaca sering ekstrem.
Namun menurutnya, pihaknya akan terus bekerja maksimal dalam upaya pencarian korban.
“Sambil kita mengumpulkan puing-puing untuk nanti diserahkan kepada KNKT,” tambahnya.
Sumber gambar, Muchtamir Zaide / AFP via Getty Images
Sebelumnya, tim SAR Gabungan masih berupaya mengevakuasi para korban pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Pada Selasa (20/01), Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, mengatakan bahwa fokus utama pencarian diarahkan pada penyisiran lanjutan lokasi temuan, baik barang-barang milik korban maupun bagian-bagian pesawat.
Ia menjelaskan bahwa tim SAR gabungan yang dibagi ke dalam sembilan Search and Rescue. Lokasi kejadian berada di kawasan tebing curam dengan perkiraan kedalaman 500 meter dari puncak.
Sumber gambar, BASARNAS
Sumber gambar, Abd Rachman Muchtar
Sejauh ini ada dua korban yang telah ditemukan dalam operasi pencarian.
Menurut Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) RI, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, lokasi korban kedua tidak jauh dari posisi korban pertama. Namun, medan tempat korban ditemukan jauh lebih ekstrem karena berada di jurang yang sangat dalam.
“Kedalaman korban diperkirakan ada di 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung,” katanya.
Terkait identitas korban, Basarnas menyebutkan informasi awal mengenai jenis kelamin korban masih simpang siur dan belum dapat dipastikan. Syafii menjelaskan bahwa proses identifikasi akan dilakukan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan.
Sumber gambar, Basarnas
Sumber gambar, BASARNAS
Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menyampaikan bahwa lokasi kejadian berada di medan yang sangat ekstrem, berupa tebing curam dengan perkiraan posisi korban berada di kedalaman sekitar 500 meter dari puncak sehingga menuntut kehati-hatian dan teknik evakuasi khusus.
“Tantangan terbesar yang dihadapi tim SAR gabungan saat ini adalah kondisi cuaca dan alam yang sangat ekstrem. Kabut tebal, medan terjal, serta perubahan cuaca yang cepat menjadi faktor penghambat utama dalam operasi,” jelasnya.
Basarnas sendiri memprioritaskan evakuasi melalui jalur udara. Namun, upaya tersebut belum dapat dilaksanakan karena jarak pandang yang sangat terbatas akibat kabut tebal di sekitar lokasi kejadian.
“Evakuasi melalui udara menjadi prioritas, tetapi hingga saat ini belum memungkinkan. Oleh karena itu, kami mengoptimalkan unsur darat yang secara bertahap melakukan pencarian dan upaya evakuasi,” ungkap Syafii.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan terus melakukan tahapan identifikasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport.
Hingga Senin (19/01), tercatat delapan keluarga korban telah menjalani pemeriksaan antemortem di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Makassar.
Kepala Bidang Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Didik Supranoto mengatakan pemeriksaan antemortem merupakan tahapan awal yang krusial dalam proses identifikasi korban kecelakaan transportasi.
“Sejauh ini sudah ada delapan keluarga korban yang menjalani pemeriksaan antemortem. Tim DVI Polda Sulsel dibantu DVI Mabes Polri dan Bareskrim Polri telah melakukan pengumpulan data awal,” kata Didik kepada media di RS Bhayangkara Makassar, Senin (19/01).
Sumber gambar, Rahman Muchtar
Data yang dikumpulkan meliputi sampel DNA serta data administrasi milik korban seperti rekam medis, ciri-ciri khusus, hingga dokumen pendukung lainnya yang dapat memperkuat proses identifikasi.
Didik menjelaskan dua keluarga korban lainnya dijadwalkan akan menyusul menjalani pemeriksaan serupa.
Berdasarkan data manifes dari perusahaan penerbangan serta keterangan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, terdapat total 10 orang di dalam pesawat dengan registrasi PK-THT tersebut.
“Di dalam pesawat terdapat tujuh kru dan tiga penumpang,” paparnya.
Setelah seluruh data antemortem terkumpul, tahapan selanjutnya adalah pemeriksaan postmortem.
Proses tersebut baru dapat dilakukan setelah tim DVI menerima penyerahan resmi dari tim SAR yang dipimpin Basarnas.
Salah satu pihak keluarga korban yang ditemui di lokasi pemeriksaan mengatakan dia bersama Harianti, ibu dari korban bernama Yoga telah tiba di Makassar pukul 06.00 wita pagi.
Dia diundang Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk menjalani pemeriksaan oleh tim DVI.
“Kita melakukan pemeriksaan dari DVI, hanya itu saja. Yang lain saya tidak bisa (komentar) Keponakan kami bernama Yoga,” kata dia yang tak ingin disebut namanya, Senin (19/1/2026), seperti dilaporkan wartawan Rahman Muchtar untuk BBC News Indonesia.
Dalam peristiwa kecelakaan pesawat ATR 42-500, yang sebelumnya dilaporkan hilang kontak sejak Sabtu (17/1) ini, polisi telah melakukan pemeriksaan untuk mengumpulkan data awal yang dalam hal ini ante mortem.
Sementara itu, Menteri Pehubungan, Dudy Purwagandi mengatakan pesawat ATR 42-500 itu dinyatakan laik terbang.
“Kamis udah memeriksa dokumen kelaikan terbang dari pesawat tersebur dan pesawat tersebut dinyatakan laik terbang,” jelas Dudy dalam konferensi pers di posko utama pencarian korban dan puing pesawat PK-THT, di Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Dalam keterangan tertulis, Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, merinci berdasarkan data pengawasan dan hasil inspeksi kelaikudaraan.
Pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT dinyatakan memenuhi persyaratan kelaikudaraan.
Hal itu didukung oleh pelaksanaan pemeriksaan dan inspeksi sebagai berikut:
Data tersebut menunjukkan bahwa pesawat telah menjalani pemeriksaan rutin serta pengawasan kelaikudaraan secara berkala dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Jumlah orang di dalam pesawat, tercatat sebanyak 10 orang, yang terdiri atas tujuh awak pesawat dan tiga penumpang, dari Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan rincian sebagai berikut:
SIC / FO M. Farhan Gunawan
Sementara menurut keterangan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP),
Penumpang yang merupakan pegawai KKP, terdiri dari:
Ketiganya sedang mekakukan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara di wilayah perikanan Indonesia.
Sumber gambar, BASARNAS
Berdasarkan data pemeriksaan medis terakhir, seluruh awak pesawat yang bertugas dinyatakan telah memenuhi standar kesehatan penerbangan sesuai dengan ketentuan Civil Aviation Safety Regulations (CASR) Part 67.
Seluruh sertifikat kesehatan awak pesawat tersebut masih berlaku pada saat kejadian.
Sehingga, tidak terdapat catatan medis yang menunjukkan awak pesawat tidak laik secara kesehatan pada saat bertugas.
Menurut keterangan tertulis itu berdasarkan informasi awal, kondisi cuaca pada saat kejadian menunjukkan jarak pandang sekitar 8 km dengan kondisi sedikit berawan.
Pada tahap ini, belum dapat ditarik kesimpulan mengenai faktor penyebab kejadian dan kondisi cuaca merupakan salah satu aspek yang akan dianalisis lebih lanjut dalam proses investigasi oleh KNKT.
Pada Sabtu (17/01) pukul 08.08 WIB, pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport terbang dari Yogyakarta menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, membawa total 10 penumpang terdiri dari tujuh kru serta tiga pekerja Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Menurut Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, pesawat itu disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk keperluan surveilans di wilayah perairan Indonesia.
Pada pukul 13.17 Wita, pesawat tersebut hilang kontak manakala melintas di perbatasan Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan.

Pada Minggu (18/01), operasi pencarian terpadu mulai dilakukan pada pukul 06.15 Wita.
Operasi dimulai dengan mengerahkan drone milik TNI AU di wilayah Gunung Bulusaraung, atau di perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep.
Sekitar pukul 07.17 Wita, kantor SAR Makassar mendeteksi keberadaan ATR 42-500 ketika pesawat patroli udara melihat serpihan berwarna putih di kawasan Bukit Bulusaraung.
Laporan ini kemudian dikonfirmasi kembali helikopter SAR.
Pada pukul 07.46 Wita, tim SAR gabungan mengidentifikasi secara visual serpihan pesawat berupa jendela sebagai penanda awal lokasi kecelakaan, menurut Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi.
Pada pukul 07.49 Wita, ditemukan serpihan besar yang diduga merupakan bagian badan pesawat beserta ekor ATR 42-500.
Pada pukul 08.02 Wita, tim darat memperoleh serpihan besar pesawat di sisi utara puncak bukit. Selang tujuh menit kemudian, badan pesawat berhasil ditemukan untuk selanjutnya diidentifikasi lebih lanjut.
Pada pukul 10.05 Wita, konferensi pers pesawat jatuh dilakukan di bawah koordinasi Basarnas, bersama TNI, Polri, KNKT, Kemenhub, dan Airnav.
Pada Minggu (18/01), pukul 14.20 Wita, tim gabungan melaporkan telah menemukan satu orang korban berjenis kelamin laki-laki. Korban dievakuasi melalui jalur pendakian untuk kemudian diidentifikasi lebih lanjut.
Tim turut menemukan sejumlah serpihan pesawat berupa bagian rangka dan kursi, serta mengidentifikasi lokasi mesin pesawat berdasarkan laporan visual dari lapangan.
Pada Senin (19/01) sekitar pukul 14.00 Wita, tim gabungan menemukan korban kedua dari jarak 100 meter puing kepala pesawat.
Penyebab jatuhnya ATR 42-500 masih diselidiki, menurut Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
“Kami, KNKT, sampai saat ini belum, masih jauh (menyimpulkan), penyebab kecelakaan itu apa,” tegas Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono, dalam konferensi pers di Bandara Sultan Hasanuddin, Sulawesi Selatan, Minggu (18/1).
Sebelumnya beredar kabar bahwa pemicu jatuhnya ATR 42-500 ialah kerusakan di emergency locator transmitter (ELT). Rusaknya ELT lantas memicu pesawat menabrak gunung.
Soerjanto menggaris bawahi bahwa ELT biasanya rusak sebab menghantam gunung. Alhasil, pesawat tidak mampu mengirimkan sinyal.
“Jadi, kami tidak ada mengatakan penyebab kecelakaan,” tandas Soerjanto.
KNKT masih mengumpulkan informasi untuk menelusuri jatuhnya ATR 42-500. Mereka, misalnya, meminta tim Basarnas di lapangan memotret bagian ekor pesawat.
“Karena black box itu ada di bagian ekor,” imbuhnya.
Sumber gambar, ANTARA FOTO/Arnas Padda
Dalam kesempatan terpisah, manajemen Bandara Adisutjipto memastikan keberangkatan ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport telah sesuai prosedur.
“Sudah kami lakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku di bandara. Kemudian di ruang tunggu, setelah itu boarding menuju ke Makassar,” sebut General Manager Bandara Adisutjipto, Wibowo Cahyono, Sabtu (17/1).
Wibowo menjelaskan seluruh tahapan keberangkatan, dari pemeriksaan keamanan di Security Check Point hingga boarding, sudah dijalankan merujuk ketentuan yang berlaku di bandara.
“Semua prosedur dari keberangkatan sampai pemeriksaan di X-ray, di Security Check Point-nya (SCP), sudah kami lakukan,” tandas Wibowo.
Lebih lanjut, menurut pakar penerbangan, Gerry Soejatman, dalam sebuah kecelakaan pesawat, biasanya melibatkan banyak faktor yang berperan.
“Itulah sebabnya, investigasi akan melihat penyebab yang paling mungkin dengan satu faktor utama dan beberapa faktor pendukung,” tambahnya.
Kecelakaan yang menimpa pesawat ATR tidak sekali terjadi.
Pada 2023, pesawat maskapai Trigana PK YSP ATR 42-500 tergelincir di Bandara Kamanap, Serui, Papua, saat hendak lepas landas.
Pesawat dikabarkan rusak berat. Manajemen Trigana Air menjelaskan pesawat dalam kondisi baik sebelum terbang.
Insiden ini tidak melahirkan korban jiwa. Tapi, sebanyak 23 penumpang, total 42, mesti dilarikan ke rumah sakit. Dari puluhan orang yang terluka, tiga di antaranya mengalami benturan yang cukup serius di bagian tulang belakang serta leher.
Meski demikian, menurut Gerry, faktor penyebab kecelakaan di Sulawesi Selatan, mungkin berbeda dengan kecelakaan di Papua. “Jadi, kita tidak bisa menganggapnya sama dengan cara yang sangat sederhana, kita harus melihat setiap faktor yang berperan karena tidak ada dua kecelakaan yang sama,” tutup Gerry.
Laporan ini akan diperbarui secara berkala.
No Comments