Sumber gambar, AFP via Getty Images
Situasi ekonomi global, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar, dan ancaman kekeringan akibat El Nino berdampak besar pada petani dan produksi pertanian. Penumpukan masalah ini mengindikasikan “situasi sedang tidak baik-baik saja” sehingga “pemerintah harus waspada” dan “menyiapkan mitigasi tepat sasaran”, menurut para ahli.
Sebanyak tiga petani di Nusa Tenggara Timur dan Jawa Tengah mengaku mulai merasakan dampak penumpukan masalah ini. Mereka merasakan kenaikan biaya produksi akibat melambungnya harga-harga bahan bakar, bibit, sampai pestisida.
Padahal hasil panen yang diperoleh tetap sama dibandingkan dengan musim tanam pada periode yang sama sebelumnya.
Memasuki musim kemarau dan ancaman kekeringan akibat El Nino, situasinya membuat mereka makin terdesak.
“Biaya produksi tinggi dengan hasil panen sama saja sudah berkurang pendapatan. Kalau panas berkepanjangan, luas lahan yang ditanam lebih sedikit. Tidak bicara untung,” ucap Roni Nubatonis, petani dari Desa Bena, Amanuban Selatan, Timor Tengah Selatan, NTT.
Puncak musim kemarau berdasarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) diprediksi terjadi pada Agustus 2026 dengan 445 Zona Musim yang mengalami musim kemarau.
Namun pada Mei-Juni ini, sebagian besar wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua merasakan lebih dulu dampaknya.
Sumber gambar, NurPhoto via Getty Images
Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2026 yang diselenggarakan pada Senin (18/05) di Kementerian Dalam Negeri, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Muhammad Agung Sunusi, menyampaikan stok beras Bulog mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, yakni 5,3 juta ton.
Skema mitigasi bantuan pompa, irigasi, cadangan air darurat, konservasi benih, hingga pemanfaatan cetak sawah tengah disiapkan untuk mengatasi ancaman kekeringan.
Namun, Guru Besar IPB University, Dwi Andreas Santosa, menegaskan pemerintah harus memiliki langkah taktis menghadapi kondisi yang mengancam produksi pangan.
“Pemerintah enggak bisa hanya bilang stok kita cukup. Stok itu harus dilihat saksama, berapa persen yang rusak misalnya agar bisa diantisipasi. Jangan kemudian pemerintah merasa baik-baik saja. Karena tahun ini sampai 2027, kondisinya tidak baik-baik saja,” tutur Dwi.
“Karena kan dobel-dobel kondisinya. Selain perang di Hormuz, lalu rupiah yang melemah. Ini kondisinya tidak baik-baik saja. Pemerintah harus ekstra hati-hati.”
Di Desa Bena, Amanuban Selatan, Timor Tengah Selatan, NTT, Roni Nubatonis tengah menunggu panen padi pada Juni nanti. Meski penanaman berjalan, Roni mengaku biaya produksi meningkat akibat kenaikan sejumlah harga.
Bahan bakar disebutnya menjadi yang paling memberatkan biaya produksi.
Beberapa bulan lalu, Roni berkata stok solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum sempat kosong.
“Jadi, kami harus beli eceran itu. Harganya mahal sekali sampai bisa naik sampai sekitar 50 persen. Dampaknya sudah pasti ketika biaya produksi tinggi dengan hasil panen yang tetap sama itu mengurangi pendapatan dari petani. Tidak bicara untung,” ucap Roni.
Selain bahan bakar, Roni juga merasakan kenaikan biaya pestisida. Untuk pupuk, dia masih memperoleh subsidi pemerintah sehingga harganya lebih murah sekitar 20%. Untuk bibit, sebagian mendapat subsidi dan sisanya beli sendiri dengan harga yang masih wajar.
Di sisi lain, musim yang memasuki kemarau juga mulai membuatnya gundah.
Pada 2019 dan 2023, kekeringan sempat melanda. Akibatnya, ia dan para petani mengalami terlambat tanam, kesulitan air, hingga menurunnya hasil panen.
“Kami petani di Amanuban Selatan cuma mengandalkan air dari sungai. Kalau panas berkepanjangan, debit air di sungai menurun drastis. Otomatis bisa terancam gagal panen dan pasti luas lahan yang ditanam itu lebih sedikit ketimbang musim cuaca normal,” ungkap Ketua Kelompok Petani ini.
Berkaca dari kekeringan yang sempat terjadi, lahan yang terdampak sekitar 20% hingga 30% dari luasan lahan sebesar tiga hektare. Menurut Roni, rata-rata yang terkena dampak paling parah ini ada pada bagian yang jauh dari jaringan irigasi.
Saat itu, penurunan hasil panennya berkisar pada 10% hingga 20% karena kekeringan.
Tahun ini, tekanan ekonomi membuat Roni dan kelompok tani di desa tersebut khawatir penurunan akibat kekeringan ini bisa berdampak pada situasi perekonomian keluarga yang selama ini bergantung pada pengolahan lahan ini.
Sumber gambar, Eliazar Robert
Di Desa Oefafi, Kupang, NTT, Katarina Dima memilih pasrah dan tetap menanam meski biaya produksi meningkat.
Serupa dengan Roni, peningkatan biaya produksi dipengaruhi oleh kelangkaan bahan bakar yang mendongkrak harga di luar kewajaran.
“Kalau menjalankan ekonomi sekarang, biar ke mana pun tetap kita jalani. Karena kita hidup dari lahan olah lahan saja,” ujar Katarina yang juga mulai bersiasat dengan komoditas yang ditanamnya memasuki musim kemarau.
Bersiap pada musim kemarau, ia belajar dari peristiwa pada 2023. Ia memilih menanam sayur yang bertahan di lahan kering dan tidak butuh banyak pengairan, seperti terung dan kacang-kacangan. Bahkan, ia juga memilih yang masa tanamnya singkat.
“Kita waspada mengurangi tanam. Tanam sayur, potong. Satu atau dua petak, potong tanam dulu. Takutnya, air tidak mencukupi. Ini sudah agak terasa mulai kering,” kata Katarina.
Tanpa bersiasat, ia khawatir merugi dan berdampak pada ekonomi keluarga. Apalagi pada musim tanam lalu, Katarina merasakan penghasilannya merosot akibat perbandingan biaya produksi yang melonjak, tapi hasil panen sama.
Ia menambahkan sampai saat ini belum ada sosialisasi atau bantuan dari pemerintah terkait dengan antisipasi dan mitigasi kekeringan tersebut. Hanya subsidi pupuk dan bibit saja yang memang sudah berjalan sejak beberapa waktu.
Sumber gambar, Kamal
Beralih ke Desa Ngaringan, Grobogan, Jawa Tengah, Hardiono menyiapkan benih jagung jelang musim kemarau. Namun penanaman belum dimulai mengingat lahan-lahan sawah masih basah dan tergenang karena hujan masih mengguyur beberapa hari ini. Padahal semestinya masa tanam sudah dimulai.
Pola tanam di wilayah Grobogan Timur adalah padi, padi, palawija. Hardiono pun menjelaskan kawasan Ngaringan saat ini sedang memasuki musim panen kedua secara umum. Karena itu, penanaman selanjutnya pada musim ketiga berupa jagung.
“Hampir setiap hari di sini itu masih hujan, bahkan ini kondisinya mendung. Kemarin itu sempat banjir. Lokasi yang mau ditanami jagung masih ada airnya. Sebenarnya, benihnya sudah siap tapi kami akan siasati,” ujar Ketua KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan).
Berdasarkan hitungan kasar untuk hasil panen jagung pada lahan satu hektare, Hardiono bisa menghasilkan Rp33 juta dengan catatan kondisi air lancar dan tidak terjadi kekeringan.
Untuk padi, penghasilan satu musimnya mencapai Rp60 juta per hektare secara hitungan kasarnya. Ini juga dengan kondisi tidak terjadi banjir atau hama tikus.
Menurut dia, angka penghasilan dari panen padi yang terjadi pada musim sebelumnya sudah berkurang hampir 50%. Ini ditengarai peningkatan biaya produksi yang tak terbendung.
Bahkan untuk penanaman jagung yang akan ditanam ini, Hardiono menyebut ada kenaikan hingga Rp10.000 lebih per kilo.
“Rata-rata naiknya Rp10.000 lebih, seperti P27 Lumigen itu kan yang dulu Rp105.000 per kilogram. Sekarang menjadi Rp118.000 per kilogram. Sebelumnya, ada juga bibit saya beli per pack per kilo itu Rp140.000. Kami sangat terasa tapi namanya petani ya tetap menanam,” ungkapnya.
Diakuinya, kondisi ekonomi hari ini sangat mempengaruhinya sebagai petani. Terlebih, ia tidak hanya menanam padi dan jagung tapi juga buah-buahan, sehingga dampak kenaikan plastik turut dirasakannya.
Perihal pupuk karena sudah ada HET (Harga Eceran Tertinggi) maka harganya cukup stabil. Akan tetapi, pestisida sebagai benteng tanaman yang berfungsi mengusir setiap hama yang mendekat malah mengalami kenaikan.
“Ya apapun yang di lapangan dengan kenaikan harga, baik itu insektisida, benih, ya tetap dibeli karena petani butuh,” imbuhnya.
Sumber gambar, AFP via Getty Images
Kini, ancaman kekeringan mulai membayangi dan dikhawatirkan makin menggerus pendapatannya. Sebab, para petani harus mencari sumber air dan menggunakan sistem pompanisasi untuk kebutuhan tanaman tersebut.
Meski Hardiono sendiri masih bingung menyikapinya. Sebab, kondisi hari ini yang harusnya sudah masuk musim kemarau, hujan masih terus mengguyur.
“Bagi kami para petani ya harus siap dengan kondisi alam yang seperti apapun, kami tidak akan kapok. Kalau nanti benar memasuki musim kemarau ya kita bakal menanam tanaman yang pendek umurnya seperti jagung itu,” ujarnya.
Selama Hardiono menjadi petani sejak 1993, ia mengaku tidak pernah mengalami kekeringan ekstrem. Meskipun demikian, situasi kekeringan sedang pernah terjadi.
Hitungannya, setiap kemarau panjang itu harus mengambil air dari jarak sekitar satu hingga satu setengah kilometer. Dengan jarak tersebut, membutuhkan dua pompa untuk menyedot air hingga sampai lahannya.
Dia berkata pihaknya memang mendapatkan bantuan berupa pompa dari pemerintah. Walakin, tetap saja pengeluaran untuk bahan bakar dan lainnya tetap tinggi.
“Ketika musim kemarau panjang, sepanjang masih ada mata air, kita usahakan pompanisasi. Ya angkanya jadi berkurang (penghasilan) bisa sampai 25% karena costnya tinggi itu (untuk pompa).”
Kombinasi ancaman kekeringan dan biaya produksi yang meningkat ini semestinya bisa diantisipasi pemerintah.
“Lah ini semestinya pemerintah hadir bagaimana menekan itu jangan sampai terlalu tinggi kalau sebenarnya. Itu tugas pemerintah bukan kita,” tandasnya.
Karena harga sudah terlanjur melambung, ia mendesak pemerintah untuk bertanggung jawab supaya harga jual jagung yang hendak ditanamnya juga tetap tinggi, sehingga para petani tidak mengalami kerugian.
“Jangan sampai harganya rendah sarana produksinya tinggi ya. Kalau gitu otomatis gulung tikar nanti petani. Siapa yang mau nanam lagi, kalau seperti itu nanti terjadi,” ucap Hardiono.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, memprediksi peluang berkembangnya fenomena El Nino pada semester kedua tahun ini.
“Pada saat ini, prediksi BMKG untuk intensitas El Nino masih berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80% dan mencatat adanya kemungkinan fenomena ini berkembang menjadi kategori kuat,” ucapnya.
“Meskipun intensitas pastinya masih berkembang, musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya,” imbuhnya.
Adapun sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masuk musim kemarau pada periode April hingga Juni 2026. Ini diawali dari wilayah Nusa Tenggara kemudian secara bertahap ke wilayah Indonesia lainnya, seperti Bali, Jawa, dan Sumatera.
Sumber gambar, Anadolu via Getty Images
Secara terpisah, Lembaga Oseanografi dan Atmosfer di Amerika Serikat (NOAA) menyatakan bahwa El Nino akan dimulai pada bulan depan meski kenaikan suhu sudah terpantau saat ini. Laju pemanasan yang terlihat di Pasifik tropis dalam beberapa minggu terakhir berlangsung cepat.
Meteorolog NOAA, Nathanial Johnson, menggambarkannya sebagai “kejadian langka” jika terus berlanjut dengan kecepatan saat ini. Kecepatan yang dimaksud adalah peralihan dari La Nina yang terlihat pada musim dingin menjadi El Nino yang berpotensi kuat dalam kurun satu tahun.
El Nino kuat atau “super El Nino” terjadi ketika suhu permukaan laut melebihi 1,5°C. El Nino pada umumnya ditandai kenaikan suhu permukaan laut antara 0,2°C hingga 0,5°C.
Selain NOAA, lembaga ramalan cuaca di Eropa (ECMWF) dan badan meteorologi di Australia (BoM) menemukan hasil pemantauan serupa beberapa waktu ini.
Dalam prediksi terbaru ECMWF, lebih dari setengah model prakiraan mereka menunjukkan kenaikan suhu lebih dari 2,5°C pada musim gugur. “Apa pun yang melampaui angka ini akan menjadi peristiwa yang secara historis sangat kuat,” kata Johnson.
Prakiraan BoM juga menunjukkan kemungkinan El Niño yang sangat kuat akan berkembang pada akhir tahun ini. Beberapa data prakiraan bahkan menunjukkan kenaikan suhu dapat melampaui 3°C.
Artinya, melampaui catatan pada 1877 saat kenaikan suhunya mencapai 2,7°C. Pada masa itu, El Nino berlangsung sekitar 18 bulan dan memicu kekeringan ekstrem dan kelaparan luas di Asia, Brasil, dan Afrika yang menewaskan jutaan orang, sekaligus menghasilkan banjir parah di wilayah lain seperti Peru.
Sumber gambar, NurPhoto via Getty Images
El Nino “sangat kuat” terakhir terjadi pada 2015–2016. Sementara itu, El Nino pada 2023-2024 juga disebut sebagai tahun terpanas dalam catatan
Profesor risiko iklim dan ketahanan di University of Reading, Liz Stephens, berkata kepada BBC bahwa “kemungkinan besar kita akan melihat suhu global yang memecahkan rekor tahun depan, terutama jika ini merupakan peristiwa El Nino yang sangat kuat”.
Stephens pun memprediksi ada kemungkinan terjadinya kekeringan dan kebakaran hutan di beberapa bagian Australia, Indonesia, dan utara Amerika Selatan, yang menyebabkan penurunan produksi pertanian dan stok pangan global.
“Kita berpotensi menghadapi dampak kemanusiaan yang cukup besar tahun ini, terutama jika krisis di Timur Tengah terus berlanjut,” kata Stephens.
Dekan Fakultas Pertanian IPB, Suryo Wiyono, menyoroti strategi ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan membuka lahan baru. “Cetak sawah hari ini bukan berarti besok langsung produktif. Membentuk ekosistem sawah itu butuh waktu bertahun-tahun,” kata Suryo.
Selain itu, ia juga menyinggung kenaikan biaya produksi, terutama pada pengadaan pupuk. Sebagian petani, seperti Roni dan Katarina, masih menerima subsidi. Namun pertanyaannya, sampai kapan pemerintah bisa terus melakukan subsidi di tengah tekanan ekonomi ini.
“Indonesia masih sangat bergantung pada energi fosil dan impor bahan baku. Kalau harga LNG internasional naik, biaya pupuk pasti ikut terdampak. Saat ini, masih dianggap murah karena subsidi,” ucap Suryo.
Adapun harga pupuk subsidi sebagai berikut:
Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira menambahkan subsidi pupuk yang mencapai sekitar Rp 46 triliun per tahun belum cukup melindungi petani dari gejolak harga energi dunia.
“Kalau subsidi dilepas mendadak, petani akan kaget karena belum ada alternatif yang benar-benar dibangun,” ujar Bhima.
Ia juga menyoroti ketergantungan petani terhadap pupuk kimia dan pestisida. Di sejumlah daerah pertanian, penggunaan pestisida bahkan dilakukan hampir setiap pekan.
“Kita menghadapi perfect storm karena krisis energi bertemu dengan krisis pangan dan tekanan ekonomi sekaligus,” kata Bhima.
Sumber gambar, NurPhoto via Getty Images
Untuk itu, Guru Besar IPB University, Dwi Andreas Santosa berkata pemerintah perlu menyiapkan skenario terburuk dengan situasi belakangan. Apalagi terkait El Nino ini, sudah pasti Indonesia juga akan menghadapi.
Karena itu, musim kemarau pada tahun ini diperkirakan akan sangat terik dengan curah hujan sedikit sehingga bisa mengancam produksi pangan.
“Situasi sekarang lebih parah. Bisa dilihat juga dari impor beras yang terus meningkat sepanjang dua tahun dari 2023 dan 2024. Belum lagi pada tahun lalu. Apalagi tahun ini ketika kondisi iklim, ekonomi global, dan geopolitik. Semuanya menumpuk,” ujar Dwi.
Dia meminta pemerintah agar memeriksa detil stok Bulog yang disebut terbesar dalam sejarah sehingga bisa terpetakan jumlah yang layak dikonsumsi. Hal ini penting dilakukan untuk antisipasi ketika panen terganggu dan harga melonjak tinggi.
Dengan demikian, pemerintah bisa melakukan intervensi untuk menekan harga. “Kan itu yang paling penting. Jadi, perlu diaudit dulu berapa yang sekarang ini disimpan, berapa yang mengalami kerusakan, dan tidak layak dikonsumsi sehingga tahu persis kapasitas sesungguhnya dalam mengendalikan harga.”
Mitigasi lain yang bisa dilakukan, Ketua umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AP2TI) ini sepakat dengan pompanisasi tapi perlu merata.
Selanjutnya, perlu program padat karya di pedesaan sehingga petani mendapatkan pendapatan sampingan dari program padat karya tersebut. Ia pun menuturkan pendapatan dan bahkan produksi para petani sudah banyak yang menurun.
“Di pantai utara Jawa Barat itu drop produksinya. Di beberapa tempat, bahkan dropnya itu lebih dari 50% atau sekitar 50%. Itu kenapa sekarang harga gabah sangat tinggi. Di Indramayu itu, minggu lalu sudah Rp9.000 harga gabah kering panen,” jelas Dwi.
“Masalah yang terjadi ini, termasuk El Nino. Petani kecil yang paling terdampak, bukan pemerintah.”
Sumber gambar, NurPhoto via Getty Images
Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, Bayu Dwi Apri Nugroho berpendapat El Nino ini akan menambah beban petani yang sebelumnya sudah tertekan akibat kondisi ekonomi. Sebab, El Nino ini akan sangat berpengaruh terhadap komoditas-komoditas yang membutuhkan air yang yang besar, seperti padi.
Kendati demikian, ia menambahkan tidak hanya tanaman yang membutuhkan air yang banyak saja yang terdampak. Komoditas lain juga akan terpengaruh karena suhu panas akibat El Nino ini juga akan mengganggu proses metabolisme tumbuhan untuk berkembang secara optimal.
“Dampak yang terasa adalah karena tanaman tidak tumbuh dengan optimal, yang terjadi ada penurunan produksi panen, bahkan beberapa komoditas juga terjadi gagal tanam maupun gagal panen akibat El Nino ini,” ucap Bayu.
Dalam hal ini, pemerintah perlu memastikan stok pangan pasca El Nino –tidak hanya saat El Nino terjadi.
Mitigasi pertanian lain yang bisa dilakukan adalah komunikasi yang lebih intensif antara petani dan penyuluh. Sebab, kadang petani kurang mendapatkan informasi terkait dengan kondisi cuaca yang tidak menentu. Dengan pendampingan yang intensif dari penyuluh, ini akan memitigasi gagal tanam dan gagal panen petani.
“Petani dan penyuluh menjadi kunci sukses di level bawah dalam menghadapi El Nino atau kemarau panjang,” ujar Bayu.
Selain itu, pemanfaataan lahan-lahan kosong atau sempit untuk budidaya semua komoditas, terutama komoditas konsumsi yang mempunyai siklus tanam pendek, menjadi suatu keharusan. Misal, sayur-sayuran dan cabai yang bisa ditanam secara mandiri dan tidak membutuhkan lahan yang luas.
“Kita harus bisa menyediakan pangan minimal untuk memenuhi kebutuhan kita sehari hari adalah suatu keharusan dibawah ancaman kondisi dampak perubahan iklim dan kondisi ekonomi global.”
Sumber gambar, Getty Images
Peneliti kualitatif yang juga menggeluti studi agraria kritis, Ciptaningrat Larastiti menambahkan mengenai petani ladang tebas bakar yang jarang terjangkau. Menurut dia, kelompok petani ini menjadi paling rentan, terutama ketika kemarau panjang.
Bahkan tidak hanya kekeringan, potensi kebakaran lahan juga mengancam kelompok ini.
“Karena enggak ada support irigasi teknis. Apalagi wilayah-wilayah tebas bakar ini sebagian besar di antaranya adalah wilayah ekosistem gambut. Jadi bisa terbayang risiko mereka sangat tinggi terhadap perubahan iklim. Saat kemarau panjang, gambut kering dan tutupan lahan enggak ada,” ujar Ciptaningrat.
Pertanian jenis ini bukan monokultur sehingga yang pangan yang dihasilkan beragam, seperti tebu, pisang, bahkan sayuran seperti kucai.
Dari Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2026, Kementerian Pertanian melakukan antisipasi dengan memetakan wilayah kekeringan dan melakukan pemantauan rutin mengacu pada prediksi BMKG. Kemudian, pihaknya juga menyiapkan benih tahan kekeringan dan pemupukan berimbang.
“Kami juga lakukan rehabilitasi jaringan irigasi. Pembangunan embung, sumur bor, hingga pompanisasi. Untuk yang membutuhkan bantuan pompa ini, bisa melapor juga pada Dinas Pertanian setempat agar segera ditindaklanjuti nanti,” kata Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Muhammad Agung Sunusi.
Dari data Kementan, rencana distribusi terkait pompa ini mencapai 94.813 unit di seluruh Indonesia. Ini terdiri dari irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, bangunan konservasi, rehabilitasi jaringan irigasi tersier, dan pompa air.
Kementan bekerjasama dengan Badan Pangan Nasional juga berupaya agar harga gabah kering berada pada angka Rp6.500 per kilogram. Diakui Agung, pengendalian harga merupakan hal yang penting di tengah masa seperti ini.
Berdasarkan data yang dimiliki, Agung menuturkan luas panen padi pada Maret 2026 turun sebesar 3,16% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.
“Untuk April hingga Juni 2026, potensinya diperkirakan mencapai 3,16 juta hektar yang artinya turun sekitar 7,64% dibandingkan April hingga Juni 2025. Angka potensi ini dapat berubah sesuai kondisi lapangan,” kata Agung.
Situasi penurunan luas panen ini juga terjadi pada komoditas jagung dan bawang merah. Akibatnya, sebagian komoditas mengalami kenaikan harga jual. Salah satunya bawang merah dan cabai merah.
Untuk harga beras di pasaran masih cenderung stabil tapi jika diamati tiap bulan dari data milik Kementerian Perdagangan, maka harganya terus naik perlahan. Bulan ini, harga beras medium sebesar Rp13.756 per kilogram dan beras premiun seharga Rp15.400 per kilogram.
Laporan ini dikerjakan Eliazar Robert dari Kupang, NTT dan Kamal dari Semarang, Jawa Tengah
No Comments