Monday, 18 May 2026

Konflik agraria: Nasib masyarakat adat terjepit taman nasional

17 minutes reading
Monday, 18 May 2026 05:55 1 german11


Warga NTT memprotes status taman nasional Mutis.

Sumber gambar, Dokumentasi warga

Keterangan gambar, Masyarakat adat di Mutis, NTT, saling dorong dengan aparat keamanan. Mereka menolak status taman nasional.

Pemerintah punya misi melestarikan alam melalui kebijakan konservasi. Wajah konservasi, salah satunya, ialah taman nasional. Akan tetapi, penetapan taman nasional memantik penolakan masyarakat adat di sejumlah daerah.

Masyarakat adat memandang penetapan taman nasional sebagai ancaman terhadap ruang hidup, nilai sakral, dan hubungan turun-temurun dengan hutan.

Aleta Kornelia Baun, misalnya, cemas mengetahui kabar bahwa pemerintah akan menetapkan kawasan Mutis Timau menjadi taman nasional. Pasalnya, menurut perempuan adat kelahiran Mollo, Nusa Tenggara Timur (NTT), 60 tahun silam ini, area Mutis dikenal sebagai hutan adat, keramat, sekaligus tempat sakral.

Aleta menyampaikan penolakan tersebut secara lantang. Dia tak mau masyarakat adat di sekitar Mutis terdampak ketetapan pemerintah.

Begitu pemerintah membingkai kawasan Mutis sebagai taman nasional, maka sistem zonasi turut diterapkan di dalamnya, ujar Aleta. Salah satu yang berlaku di taman nasional ialah zona inti. Di zona inti, kegiatan manusia dikecualikan dan hanya difungsikan untuk perlindungan keanekaragaman hayati.



Source link

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA