Sumber gambar, Ikbal Asra
Waktu membaca: 16 menit
Sebagian pedagang kecil di Indonesia terpaksa memangkas keuntungan karena kenaikan harga plastik yang pasokan bahan bakunya terganggu konflik di Timur Tengah. Mereka mengaku harus “mengalah” agar tidak membebani pengeluaran masyarakat.
Harga bahan baku plastik, yaitu nafta—senyawa hidrokarbon hasil turunan minyak bumi—naik hampir 45% dalam satu bulan terakhir.
Di dunia industri, gabungan pengusaha makanan dan minuman melaporkan harga plastik kemasan sudah naik hingga 50%. Di sisi lain, perusahaan yang bergerak dalam rantai industri petrokimia dan plastik mengatakan sedang dalam “mode bertahan”.
Pemerintah sedang mengupayakan sumber pasokan bahan baku plastik di luar negara-negara Timur Tengah.
Selain plastik, sejumlah harga barang lain seperti suplemen, obat, dan kosmetik juga naik akibat perang di Timur Tengah.
Para ekonom memperingatkan Indonesia dapat diterjang badai PHK dan ancaman inflasi tinggi jika perang yang diawali serangan AS-Israel ke Iran ini berkepanjangan, tanpa diikuti kebijakan yang tepat.
Di sisi lain, pemerintah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk mengurangi dampak ekonomi dari perang Timur Tengah. Paket kebijakan ini diklaim bisa menghemat anggaran ratusan triliun rupiah, meskipun efektivitasnya dipertanyakan.
Sejumlah pedagang plastik di pasar tradisional di beberapa kota besar menyatakan tak bisa menahan harga lagi. Tapi mereka terpaksa mengambil keuntungan tipis demi menjaga pasar.
Ada pula sejumlah pedagang kecil yang rutin menggunakan plastik yang tetap mempertahankan harga, walau pembeli semakin sepi.
Sumber gambar, Halbert Caniago
Harga plastik dan beberapa produk turunannya, seperti gelas dan sedotan di Padang, Sumatra Barat, naik hingga 50%.
“Kenaikan harganya sejak lebaran lalu dan sampai saat ini harga barang-barang plastik ini harganya tidak turun lagi,” kata salah seorang pedagang minuman keliling di Kota Padang, Meliatrisinta, Kamis (02/04).
Perempuan 29 tahun ini menuturkan, gelas plastik ukuran 16 oz (473 mililiter) biasanya dijual Rp24.000 per 50 gelas. Sekarang harganya naik jadi Rp29.000.
Gelas plastik ukuran 400 mililiter juga naik dari Rp14.000 menjadi Rp21.000 ribu.
Sumber gambar, ANTARA FOTO/Putra M. Akbar
Bukan hanya gelas plastik, harga bahan baku dagangan Meliatrisinta, seperti gula dan susu kental manis, juga naik.
Melia hanya bisa menerima keadaan dan mengambil untung tipis.
“Kalau isinya dikurangi tentu nanti langganan komplain. Apalagi menaikkan harga, pembeli saya biasanya hanya para siswa Sekolah Dasar (SD) yang uang jajannya terbatas,” katanya.
Melia mempertahankan harga paling mahal Rp8.000 dan paling murah Rp5.000 per gelas.
Sumber gambar, ANTARA FOTO/Putra M. Akbar
Tafrizal, 58 tahun, pedagang minuman keliling lainnya merasakan hal yang sama. Selain harga bahan baku naik, ia berkata jumlah pembeli turun hingga 50%.
“Bahkan ada kemarin itu saya hanya membawa pulang uang Rp60.000. Itu saya sudah mulai berjualan dari pukul 06.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB,” katanya.
Selain bahan pokok dan plastik, harga obat-obatan yang dijual di apotek-apotek Kota Padang juga mengalami peningkatan sejak beberapa pekan terakhir.
Pengelola apotek di Kota Padang, Debi Septia Nanda mengaku harga beberapa jenis suplemen dan obat naik hingga 15% sejak tiga pekan terakhir.
Sumber gambar, Halbert Caniago
Meski tidak seluruh jenis obat-obatan mengalami peningkatan harga, tapi itu menjadi pertanyaan bagi para pelanggan.
“Biasanya mereka tanya kenapa harganya naik dan kami juga tidak bisa menjelaskan banyak, karena kenaikan harga itu memang sudah dari sananya,” kata perempuan 25 tahun ini.
Di kesempatan lain, beberapa toko kosmetik juga mengaku produk yang mereka jual mengalami kenaikan meskipun “tidak terlalu signifikan”.
“Kenaikan harganya itu hanya seperti Rp1.000 hingga Rp2.000 saja,” kata Reska Yuliana, seorang pedagang kosmetik berusia 29 tahun.
“Kosmetik sudah menjadi kebutuhan, terlebih untuk perempuan. Jadi kalaupun harganya naik, mereka akan tetap membeli,” ucapnya.
Sumber gambar, Halbert Caniago
Penjual seblak di Jakarta Timur, Sismiati, hanya bisa geleng kepala karena kenaikan harga plastik dan stirofoam.
Musababnya, untuk mengemas makanan dengan citra rasa pedas dan aroma kencur yang kuat ini, ia membutuhkan tiga lapisan pembungkus: dua plastik kresek dan satu stirofoam.
“Sebelum puasa itu harganya masih Rp20.000 (isi 100). Nah pas puasa kemarin naik jadi Rp25.000. Pas lebaran kemarin Rp35.000, kemarin naik lagi ada yang Rp40.000,” kata Sismiati.

Sismiati berkata, dia harus “mengalah” mengambil keuntungan yang semakin tipis dengan menahan harga dagangannya.
“Kasihan mereka nggak bisa beli. Jadi aku tetap enggak menaikkan (harga),” ujar perempuan yang menjual seblak tiga tahun terakhir.
“Pedagang harus mengalah, karena melihat masyarakat juga kebingungan. Mereka gaji enggak naik, (tapi) semua harga serba naik”.
Keluhan yang sama disampaikan pedagang di Makassar, Sulawesi Selatan.
Salah satunya adalah Hastina, seorang pedagang kebutuhan berbahan plastik seperti gelas kopi, wadah makanan, hingga kantong plastik di Pasar Pabaeng-Baeng.
Selama berjualan 10 tahun, baru kali ini Hastina mendapat kenaikan harga barang yang begitu mahal.
“Dulu naik cuma Rp1.000 sampai Rp2.000. Sekarang Rp 5.000 atau di atasnya lagi. Seumpama harganya (kantong plastik) Rp3.000, naik Rp 5000. Jadi Rp 8000,” katanya. Kenaikan harga plastik kresek ini tergantung ukurang.
Sementara barang-barang lain seperti gelas plastik juga mengalami kenaikan harga.
“Saya biasa jual Rp 10.000. Kan modal Rp 8000, jadi untung Rp 2000. Itu dulu. Kalau sekarang modalnya Rp12.500, jadi kita mau jual berapa coba? Rp13.500, untung Rp1.000,” ujar Hastina.
Sumber gambar, Muhammad Aidil
Mahalnya harga barang-barang tersebut juga berdampak pada pembeli di pasar, yang semakin berkurang. “Sebenarnya di pasar ini sudah lama berkurang pembeli. Sekarang tambah mahal apa-apa, lebih berkurang lagi,” kata Hastina.
Ronny yang berjualan bahan plastik di Pasar Panakkukang, menyiasati menaikkan harga barang secara perlahan dengan stok lama. “Saya sesuaikan dengan stok yang ada,” katanya.
Untuk menjaga pasar, penjual grosiran ini pun memilih untuk mengambil “untung tipis”.
“Sekarang paling kita cuma bisa untung 10 persen saja dari harga jual karena harga berubah-ubah,” katanya.
Sumber gambar, Muhammad Aidil
Pedagang kosmetik dan obat-obatan di Makassar, Irma, mengaku belum merasakan dampak kenaikan harga tapi beberapa obat sempat naik harganya.
“Sebelum lebaran ada kenaikan beberapa biji, tapi yang lain masih sama (harganya). Naik Rp3.000,” katanya.
Sumber gambar, Muhammad Aidil
Kenaikan harga sejumlah obat juga mulai terjadi di tingkat apotek di Jayapura, Papua, sejak awal 2026. Meski berlangsung bertahap dan belum signifikan, perubahan ini mulai memengaruhi pola konsumsi masyarakat.
Tenaga Apotek Furia Farma, Della Lestari, mengatakan tidak semua produk mengalami kenaikan. Namun, beberapa jenis obat terutama yang sering digunakan menunjukkan tren peningkatan harga dalam beberapa bulan terakhir.
Obat bebas seperti vitamin menjadi salah satu yang paling terasa kenaikannya. Selain itu, obat bermerek dan kombinasi seperti obat flu dan batuk juga mengalami peningkatan harga yang relatif lebih tinggi dibandingkan jenis lain.
Obat generik cenderung lebih stabil dan belum mengalami kenaikan mencolok.
“Tidak semuanya naik. Kenaikannya juga bertahap dan masih dalam batas wajar,” kata Della.
Di tengah kenaikan harga tersebut, penjualan obat di apotek mulai menunjukkan perlambatan. Della mencatat penurunan jumlah pembelian sejak pertengahan Januari, yang semakin terasa pada Februari hingga awal Maret.
“Konsumen sekarang lebih selektif, mereka membeli yang benar-benar dibutuhkan,” ujarnya. Obat generik menjadi pilihan utama dibandingkan obat bermerek atau paten.
Sumber gambar, Ikbal Asra
Seorang tenaga farmasi di Papua, Merry Cecillia, menyebut tren kenaikan ini terlihat pada sebagian obat-obatan, meski tidak merata.
“Memang ada kenaikan harga pada beberapa obat. Tidak semuanya naik drastis, tapi cukup terasa dibandingkan sebelumnya,” ujarnya.
Menurut Merry, kenaikan harga mulai terasa dalam beberapa bulan terakhir. Pergerakannya berlangsung perlahan, tanpa lonjakan yang mencolok, namun konsisten.
Meski harga meningkat, kebutuhan terhadap obat tidak banyak berubah. Permintaan tetap ada, terutama bagi pasien yang harus mengonsumsi obat secara rutin. “Walaupun harga naik, pasien tetap membeli karena kebutuhan,” kata Merry.
Sumber gambar, Muhammad Aidil
Begitupun dengan plastik.
Darwis, pedagang plastik di Pasar Fandoi, Biak, Papua mengaku baru satu pekan terakhir terjadi kenaikan harga produk yang ia jual.
Di warungnya, ia menjual berbagai jenis plastik, mulai dari kantong bungkus ikan hingga plastik es, yang menjadi kebutuhan utama pedagang lain di pasar.
Sebelumnya, harga satu bal plastik es berada di kisaran Rp610 ribu. Kini, harga tersebut naik menjadi sekitar Rp640 ribu. Sementara itu, jenis plastik lain dijual dengan harga bervariasi, antara Rp35 ribu hingga Rp60 ribu, tergantung ukuran dan jenisnya.
“Baru satu minggu ini naik,” katanya.
Kenaikan harga datang di saat yang tak tepat, karena pembeli berkurang. Sebelumnya pria asal Makassar ini bisa menjual hingga tiga ikat plastik ikan per hari, tapi “sekarang satu ikat saja susah habis”.
Setidaknya 70% nafta di seluruh dunia berasal dari Timur Tengah. Pasokannya terganggu sejak Iran diserang AS-Israel pada 28 Februari.
Harga bahan baku plastik ini naik hampir 45% dalam satu bulan terakhir.
Per 1 April 2026, harga nafta menyentuh 917 USD/ton dibandingkan Februari sekitar 630 USD/ton. Harga masih sangat dinamis dari hari ke hari.
Dalam industri petrokimia, nafta menjadi bahan baku berbagai macam bahan kimia, seperti butadiena (sarung tangan karet, dan ban).
Sumber gambar, NurPhoto via Getty Images
Produk turunan lainnya adalah etilena untuk menghasilkan polietilena (botol plastik, kontainer, dan produk rumah tangga lainnya). Dan, propilena (suku cadang otomotif, mainan, kemasan), dan lain-lain.
Meskipun harga BBM domestik masih ditahan pemerintah, biaya produksi sektor industri tetap naik karena bahan baku non-BBM ini tidak dilindungi kebijakan subsidi.
“Artinya itu kan enggak bisa disuplai, dan ketersediaannya enggak jelas kapan bisa di tangan kita,” kata Fajar Budiono, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, Plastik (Inaplas), Kamis (02/04).
Sumber gambar, NurPhoto via Getty Images
Asosiasi ini memayungi lebih dari 80 industri dan perusahaan yang bergerak pada rantai produksi petrokimia dan plastik. Perusahaan ini berhubungan dengan produk konsumsi rumah tangga seperti kemasan minuman/makanan, kosmetik, elektronik sampai prabotan.
“Kami memang dalam kondisi survival mode (mode bertahan). Artinya kami mempertahankan utilitas (proses produksi) di kondisi minimum untuk mencukupi kebutuhan lokal,” ujar Fajar.
Saat ini, para pengusaha berupaya mencari alternatif sumber nafta lain yaitu Afrika, Asia Tengah dan Amerika Serikat “yang sudah kelihatan akan masuk”.
Tapi sumber alternatif ini bukan tanpa konsekuensi. Pengiriman akan membutuhkan waktu dua kali lipat dari biasanya.
“Waktu pengiriman kalau dari Timur Tengah kan cukup sampai 15 hari. Kalau dari luar Timur Tengah paling cepat itu 50 hari,” kata Fajar.
Ia enggan merinci berapa kenaikan harga bahan baku plastik ini. “Yang penting sekarang ada barang,” katanya.
Siasat lain yang sedang dirancang adalah mencari alternatif selain nafta yaitu gas petroleum cair (LPG/propan) yang olahannya bisa menghasilkan resin plastik. Menurut Fajar, harga LPG akan lebih murah pada periode Juni-Agustus dibandingkan nafta.
“Tapi ada tantangan, LPG ini kan selama ini masih digunakan sebagai bahan bakar. Nah sekarang mau kita gunakan sebagai bahan baku,” katanya sambil mendorong pemerintah mengurangi bea masuk LPG yang saat ini masih berlaku.
Sumber gambar, ANTARAFOTO/Maulana Surya
Di sisi lain, perusahaan pengguna plastik perlu melakukan inovasi untuk mengendalikan pemakaiannya, kata Fajar yaitu:
Sumber gambar, ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo
Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) melaporkan harga kemasan plastik naik hingga 50%.
Ketua umumnya, Adhi S. Lukman, mengatakan produk di pasar modern atau pusat perbelanjaan sudah mulai menunjukkan tanda-tanda penyesuaian harga. Di beberapa gerai ritel, kenaikan sudah diterapkan pada system kasir meski harga di rak belum sempat diperbarui.
“Ketika ditanya, pihak ritel mengatakan sudah ada pemberitahuan dari produsen bahwa harga produk memang mengalami kenaikan,” katanya seperti dikutip Harian Kompas.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso mengklaim masih menjajaki pasokan bahan baku plastik dari negara lain, misalnya Afrika, India dan Amerika Serikat. Tapi ia mengakui proses peralihan pasokan ini butuh penyesuaian rantai distribusi.
“Memang ini butuh waktu, karena kan tiba-tiba dari Timur Tengah harus pindah ke negara lain,” katanya, Rabu (01/04).
Pangan, farmasi, perangkat elektronik, logam dan bahan kimia.
Dalam artikel yang dirilis BBC, ancaman kenaikan harga pangan disebabkan gangguan pasokan pupuk nitrogen yang bahan bakunya berasal dari gas alam.
Perang AS-Israel vs Iran mengancam tiga sektor penting ekonomi.
Negara negara Teluk—eksportir utama pupuk—terdampak penutupan Selat Hormuz, sementara China membatasi ekspor pupuknya. Akibatnya, harga pupuk melonjak tajam dan berpotensi menurunkan hasil panen, memicu kenaikan harga pangan dan risiko kelangkaan dalam satu hingga tiga bulan ke depan.
Sumber gambar, Majid Saeedi/Getty Images
Namun Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi, mengatakan pupuk urea di Indonesia tidak terdampak karena diproduksi dalam negeri. Jumlahnya mencapai 8,8 juta ton.
“Insya Allah untuk Indonesia aman, karena ureanya diproduksi dalam negeri,” katanya dalam RDP dengan Komisi XI DPR RI, seperti dikutip Detik.com, Kamis (02/04).
Kata Rahmad, setelah konflik Timur Tengah, harga global urea mencapai US$ 800 per ton atau naik dua kali lipat dari sebelumnya US$ 400 per ton.
Tapi untuk jenis pupuk seperti fosfat dan potas, kata dia, harganya terdampak karena kenaikan biaya logistik, bukan gangguan produksi global.
Sumber gambar, AFP via Getty Images
Perang merusak infrastruktur logistik di Dubai, pusat distribusi obat obatan global. Gangguan di bandara dan Pelabuhan Jebel Ali menghambat pengiriman obat dan vaksin, terutama dari India sebagai pemasok utama obat generik dunia.
Kondisi ini meningkatkan biaya distribusi dan berisiko menaikkan harga serta mengurangi ketersediaan obat.
Di lapangan, sejumlah harga obat mengalami kenaikan, khususnya suplemen. Meskipun Indonesia masih banyak impor obat, tapi Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, mengklaim ketersediaannya masih aman.
“Kita beruntung, karena beberapa tahun lalu, kita sudah menyiapkan. Jadi, sampai sekarang menurut hitungan-hitungan kita yang tersedia, dari perusahaan-perusahaan besar farmasi kita masih punya kecukupan, jadi InsyaAllah kita tidak akan mengalami kelangkaan obat, termasuk makanan,” kata Taruna.
Sumber gambar, AFP via Getty Images
Pasokan sulfur—bahan penting untuk pupuk, pemrosesan nikel, tembaga, dan semikonduktor—terganggu karena banyak negara Teluk adalah eksportir utama.
Dampaknya sudah terasa di Indonesia, di mana produsen nikel mengurangi produksi akibat kekurangan sulfur, berpotensi mengganggu rantai pasok logam dan perangkat elektronik global.
Sepanjang Maret 2025 hingga Maret 2026, inflasi (YoY) menunjukkan tren meningkat dengan lonjakan tajam pada awal 2026. Meski inflasi Maret 2026 kembali turun (3,48%), levelnya tetap berada di dekat batas atas target Bank Indonesia (BI) yaitu 3,5%.
Ekonom Anthony Budiawan melihat inflasi Indonesia berisiko memasuki fase berkepanjangan. Jika biasanya inflasi mereda setelah Lebaran, kali ini tekanan harga justru berlanjut.
Managing Director dari Political Economy and Policies Studies (PEPS) memperkirakan inflasi berpotensi menembus 6–7% apabila konflik berlangsung lama. Hal ini mencerminkan pergeseran dari inflasi musiman menuju inflasi struktural yang dipicu faktor eksternal.
“Kemungkinan 7% saja bisa tuh kalau seandainya konflik ini berlangsung cukup lama, katanya.
Ia memperkirakan Indonesia masih mampu menahan dampak konflik jika berlangsung hingga tiga bulan, meski dengan konsekuensi kenaikan beban fiskal dan pemangkasan belanja negara.
Namun jika konflik berlanjut lebih dari tiga hingga enam bulan, risiko terhadap ekonomi akan meningkat tajam, termasuk kemungkinan kontraksi, berhentinya produksi industri, serta gelombang PHK, terutama di sektor manufaktur padat karya.
“Kalau industri ini sampai tertekan, ini bisa saja terjadi PHK sementara, yang kemudian dianggap sebagai ya akanlah ini terus-menerus baku akan menjadi PHK sungguhan,” ujar Anthony.
Sumber gambar, ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto
Anthony berkata, dampak ekonomi tidak otomatis berhenti meskipun perang berakhir. Kerusakan fasilitas produksi energi dan petrokimia di Timur Tengah membuat pemulihan pasokan bisa memakan waktu berbulan-bulan, sehingga kelangkaan bahan baku berpotensi berlanjut.
Menurut analis Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia, inflasi awal 2026 juga dipengaruhi diskon tarif listrik pada 2025.
“Pengaruh terbesar inflasi tahunan pada Februari 2026 masih berasal dari komponen harga yang diatur pemerintah, terutama karena hilangnya efek penurunan tarif listrik yang pada Februari 2025 menekan kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga secara signifikan,” tulis LPEM UI.
Sumber gambar, LPEM FEB UI
Sumber gambar, LPEM FEB UI
Dalam simulasinya, LPEM UI mengestimasi setiap kenaikan harga komoditas 10% berpotensi meningkatkan inflasi energi sebesar 0,34-0,61% dan inflasi keseluruhan 0,03-0,06%.
“Dari tabel terlihat bahwa 10% peningkatan harga energi akan berdampak kenaikan biaya industri, yang terbesar adalah industri mineral non-logam (bahan galian industri, bahan keramik, bahan bangunan, batu mulia),” kata peneliti LPEM UI, Mohamad Dian Revindo, Kamis (02/04).
LPEM UI juga memperingatkan APBN akan tekor lebih dari 3% apabila konflik Timur Tengah terus berkepanjangan.
“Terlihat bahwa fiskal Indonesia masih mampu bertahan (defisit di bawah 3%) jika kondisinya belum mencapai skenario krisis moderat,” kata Revindo sambil menunjukkan tabel simulasi.
Akhir Maret lalu, pemerintah mengeluarkan apa yang disebut “Delapan Butir Kebijakan Transformasi Budaya Kerja Nasional dan Kebijakan Energi Pemerintah”.
Kebijakan efisiensi ini diambil sebagai langkah mitigasi dampak ketegangan geopolitik Timur Tengah.
Kebijakan ini diumumkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan difokuskan pada penghematan energi serta penurunan konsumsi BBM, yaitu:
Menurut hitungan pemerintah, kebijakan ini bisa menghemat anggaran negara hingga Rp200 triliun.
Mohamad Dian Revindo dari LPEM UI menilai “delapan langkah tersebut adalah suatu sinyal dan gimmick yang bagus”.
“Tapi pada tataran dampak ekonomi, perlu dilihat seberapa signifikan dampak tersebut. Misalnya, kita belum tahu pasti apakah WFH justru mendorong aktivitas mobilitas luar kantor yang juga butuh banyak energi,” katanya.
Sumber gambar, ANTARA FOTO/Fauzan
Ekonom Anthony Budiawan mengatakan delapan kebijakan pemerintah merupakan “yang terbaik yang bisa dilakukan”.
Namun, sejauh ini ia melihat belum ada daya paksa dari kebijakan tersebut, termasuk rincian transparansi hasil dari kebijakan-kebijakan ini untuk mengukur efektivitasnya.
Selain itu, apapun langkah mitigasi yang dilakukan akan sulit untuk menghadang dampak “faktor geopolitik”.
“Yang bisa dilakukan ya mau tidak mau seperti yang sekarang, pengiritan dan penghematan… Jadi yang dikhawatirkan adalah bukan harga menurut saya, tapi kelangkaan produk,” kata Anthony.
Jurnalis Halbert Caniago, Ikbal Asra dan Muhammad Aidil berkontribusi dalam artikel ini.
No Comments