Sumber gambar, AFP
Waktu membaca: 9 menit
Kota Dubai dianggap sebagai tempat berlindung yang aman oleh para ekspatriat, turis, dan influencer—tetapi hal itu kini tengah diuji.
Stephanie Baker tengah merayakan ulang tahunnya bersama teman-teman di sebuah bar di Palm Jumeirah, Dubai—pulau buatan ikonik berbentuk pohon palem yang dipenuhi hotel mewah dan klub pantai.
Namun ketika rombongan itu melangkah ke luar untuk menuju lokasi lain di dekatnya, sesuatu yang tak biasa melintas di langit malam.
Beberapa saat kemudian, serpihan dari sebuah drone menghantam hotel bintang lima, Fairmont—tepat di seberang tempat Baker dan teman-temannya berdiri.
“Kami semua ketakutan,” ujarnya. “Melihat hal seperti itu sungguh di luar dugaan.”
Baker, konsultan properti asal Inggris yang pindah ke Dubai setahun silam, mengatakan dia selalu memandang kota itu sebagai salah satu tempat teraman di kawasan.
Tapi setelah dua pekan serangan rudal dan drone terkait dengan konflik Iran, dia mengaku tak punya rencana untuk meninggalkan Dubai.
“Justru cara situasi ini ditangani membuat saya merasa lebih aman,” kata Baker.
Sumber gambar, Stephanie Baker
Dubai menjadi rumah bagi jutaan ekspatriat seperti Baker yang datang dari berbagai negara, termasuk 240.000 warga UK.
Warga negara Emirat sendiri hanya mencakup sekitar 10% dari populasi.
Selama berdekade-dekade, kota ini membangun citra sebagai kawasan yang stabil dan aman di tengah wilayah yang bergejolak.
Deretan gedung kaca pencakar langit, gaji bebas pajak, serta reputasinya sebagai tempat yang sangat aman telah menjadikannya pusat bisnis dan pariwisata paling berkembang di Timur Tengah—tujuan bagi banyak orang dari seluruh dunia yang datang dengan harapan membangun kehidupan yang lebih baik.
Berbagai konflik telah mengubah banyak bagian di kawasan tersebut sekian tahun belakangan, tapi sebagian besar wilayah Dubai tetap tak tersentuh. Kini, citra tersebut mulai diuji.
Menurut otoritas Uni Emirat Arab (UEA), sejak serangan-serangan Iran mulai digelar, sistem pertahanan udara UEA telah menghadapi 285 rudal balistik, 15 rudal jelajah, dan 1.567 drone.
Para pejabat terkait menyatakan lebih dari 90% berhasil dicegat dan dihancurkan.
Namun beberapa serpihan tetap jatuh di beberapa wilayah Dubai, termasuk di kawasan permukiman berskala besar dan di dekat bandara kota tersebut.
Foto-foto atau video yang beredar luas di internet memperlihatkan serpihan-serpihan itu menghantam gedung hunian mewah bertingkat tinggi, sebuah hotel mewah, serta area bandara.
Hingga kini, enam orang dilaporkan tewas dan 141 lain terluka di seluruh UEA, menurut otoritas setempat.
Sumber gambar, Planet Labs PBC via REUTERS
BBC mewawancarai lebih dari 20 warga—sebagian telah tinggal di Dubai selama puluhan tahun, sebagian lainnya baru menetap belakangan.
Mayoritas mengaku terkejut dengan peristiwa beberapa hari terakhir. Namun hampir semuanya mengatakan mereka tidak berencana kabur dari kota itu.
“Ini pertama kalinya kami melihat hal seperti ini,” kata Eti Bhasin, ekspatriat asal India yang bekerja di bisnis keluarga—dan telah tinggal di Dubai sepanjang hidupnya.
“Dubai telah berkembang luar biasa menjadi kota besar. Tapi kami percaya pada otoritas setempat. Ini rumah saya. Kami akan tetap mendukungnya.”
Sumber gambar, Eti Bhasin
Bagi sebagian warga, dua pekan terakhir terasa mengkhawatirkan.
Adam Callow, istrinya, dan dua bocahnya, pindah ke Dubai dari UK pada 2024, sebagian dilatari lantaran reputasi kota itu sebagai tempat yang aman.
Dalam beberapa hari setelah perang meletus, keluarga tersebut tidur di satu kamar karena suara dentuman terdengar di berbagai penjuru kota—anak-anak terlalu takut tidur di dekat jendela.
“Otoritas Dubai sudah melakukan cukup banyak cara agar kami tetap tinggal dan merasa aman, tapi kami juga merasa tidak tenang,” kata Callow.
“Kekhawatiran kami adalah apakah ini akan menjadi hal yang normal ke depannya.”
Kebangkitan Dubai—tempat saya bekerja—dari pelabuhan dagang kecil di Teluk menjadi destinasi global dibangun atas konektivitas.
Bandara Internasional Dubai, bandara tersibuk di dunia bagi para penumpang internasional, menangani hampir 90 juta pelancong tahun lalu.

Ribuan penerbangan telah dibatalkan sejak konflik dimulai, membuat salah satu pusat perjalanan tersibuk di kawasan itu lumpuh.
Dalam beberapa hari terakhir, aktivitas bisnis kembali dijalankan, dan maskapai penerbangan komersial Emirates mengoperasikan jadwal penerbangan yang dipangkas seraya berupaya memulihkan layanan penuh.
Gangguan seperti ini terjadi pada periode sibuk kunjungan wisata, sebelum panas ekstrem musim panas tiba, dan kini dampaknya mulai terlihat jelas.
Negara itu sekarang menghadapi banyak pembatalan penerbangan dan hotel dari mereka yang memilih menjauh.
Kamar-kamar di sejumlah hotel mewah bahkan saat ini dijual jauh di bawah harga normal.
Sumber gambar, Getty Images
“Sayang sekali, kami menyaksikan banyak pembatalan hingga Mei,” ujar Dr. Naim Maadad, pendiri sekaligus CEO Gates Hospitality.
Dia adalah ekspatriat Australia yang tinggal di Dubai selama lebih dari dua dekade.
“Ketika kuartal pertama berjalan buruk, sisa tahun pun berubah menjadi upaya mengejar ketertinggalan.”
Banyak calon wisatawan tertarik pada citra Dubai sebagai kota dengan gaya hidup mewah: para influencer mengunggah video kolam renang atap gedung, deretan supercar yang terparkir di depan hotel bintang lima, serta turis yang berjemur di pantai-pantai privat.
Namun di balik citra itu, terdapat realitas yang berbeda.
Sumber gambar, Dr Naim Maadad
Peluang yang ditawarkan kota ini datang bersama kontras yang tajam.
Meski citra glamor Dubai memenuhi ruang daring, banyak pekerja migran yang menggerakkan roda ekonominya justru berpenghasilan rendah dan berdiam di tempat tinggal bersama di pinggiran kota.
Tenaga kerja UEA sebagian besar adalah warga asing—hanya pekerja asal Asia Selatan sudah mencakup lebih dari setengah populasi kota yang tumbuh pesat ini. Umumnya mereka bekerja di sektor konstruksi, logistik, dan layanan pengantaran.
Bagi banyak dari mereka, perang tidak banyak mengubah kehidupan sehari-hari.
Hamza, pengemudi pengantaran asal Pakistan, mengatakan pesanan justru meningkat pada beberapa hari pertama perang karena lebih banyak orang memilih tetap tinggal di rumah.
“Ada rasa takut ketika kami mendengar ledakan atau melihat serpihan jatuh,” katanya.
“Tapi saya tidak bisa berhenti bekerja.
“Keluarga saya di kampung bergantung pada saya. Saya tidak punya kemewahan untuk tinggal di rumah hanya karena takut.”
Kelompok-kelompok hak asasi manusia sudah lama menyuarakan keprihatinan perihal perlakuan dan kondisi hidup sebagian pekerja bergaji rendah di negara-negara Teluk, termasuk soal kondisi kerja dan aturan sponsor perusahaan.
Walaupun sebagian besar warga Dubai, termasuk Hamza, mengaku kepada saya bahwa mereka berencana tetap tinggal di kota itu, sebagian di antara mereka yang berhasil mendapatkan tiket penerbangan, memutuskan untuk hengkang.
Sumber gambar, AFP
Seorang pekerja maskapai penerbangan, yang meminta identitasnya tidak disebutkan, mengaku kepada saya bahwa dia terbang kembali ke Melbourne, Australia, awal pekan ini.
“Saya semakin cemas karena setiap hari terus-menerus mendengar ledakan,” katanya.
“Untuk saat ini terasa lebih aman pergi dan kembali lagi saat situasinya sudah stabil.”
Namun, dia menambahkan, dia tetap berencana untuk kembali.
Di saat banyak negara Barat memperketat kebijakan imigrasi dan memperdebatkan dampak perpindahan penduduk, Dubai menawarkan model yang berbeda.
Uni Emirat Arab (UAE) memosisikan diri sebagai magnet bagi talenta global dan kalangan berduit, dengan melihat lonjakan masuknya kaum kaya raya sejak pandemi.
Bagi para profesional ambisius dari negara berkembang—mulai dari insinyur India, dokter Mesir, hingga perawat Filipina—mendapatkan visa kerja sering kali jauh lebih mudah di Dubai dibandingkan di Eropa atau Amerika Utara, terkadang bahkan dengan tawaran gaji yang lebih tinggi.
Sumber gambar, Getty Images
Berbagai investigasi yang dilakukan media internasional dan lembaga penegak hukum sebelumnya menyoroti bagaimana sejumlah figur yang diduga terlibat kejahatan terorganisir bermarkas di Dubai, meskipun kerja sama ekstradisi antara UEA dan beberapa negara telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir
Dengan daya tarik luar biasa Dubai yang sejak lama bertumpu pada citranya sebagai oasis stabil di kawasan yang bergolak, apakah citra itu kini terancam selamanya?
Christopher Davidson, pakar ekonomi politik Timur Tengah yang banyak menulis tentang UEA, meyakini serangan-serangan ini mungkin akan mengurangi daya tarik Dubai dalam jangka pendek.
“Namun fondasinya—infrastruktur, regulasi, cuaca, dan geografi—tidak berubah,’ katanya.
“Dalam jangka panjang, daya tariknya akan tetap terjaga.”
Otoritas Dubai mendapat pujian dari warga dan pelaku usaha lantaran memberikan informasi harian terkini tentang serangan serta mengirimkan peringatan rutin melalui ponsel perihal kemungkinan adanya serangan.
Presiden Sheikh Mohamed bin Zayed telah meyakinkan warganya bahwa negara akan melindungi mereka, sambil menegaskan bahwa UEA “bukan mangsa yang mudah” bagi siapa pun yang mengancam keamanannya.
Sumber gambar, NurPhoto/Getty Images
Para pemimpin senior juga rajin tampil di ruang publik di Dubai, menunjukkan bahwa kehidupan berjalan seperti biasa.
Otoritas terkait telah memperingatkan bahwa menyebarkan rekaman video terkait perang yang belum terverifikasi di internet dapat berujung pada denda atau hukuman penjara.
Setelah beberapa hari ketika jalanan tampak jauh lebih sepi dari biasanya, lalu lintas dan keramaian kini kembali ke ritme normal.
Analysts say the long-term impact on Dubai and the UAE will depend on how the conflict unfolds. “A weakened Iran could enhance the UAE’s appeal even further,” says Davidson.
But if the regime survives, tensions with its Gulf neighbours may increase, an investment banker told me. “That’s a concern. If any of the banks or financial institutions get hit then that could impact the sentiment for businesses,” he says.
On Wednesday, the Iranian military threatened to target economic and banking interests linked to the US and Israel in the region, after an Iranian bank was attacked. Many financial firms in Dubai then asked staff to evacuate their offices.
For now, most residents in Dubai remain cautious but hopeful. They highlight that the city has weathered crises before – from the global financial crash of 2008 to the pandemic in 2020 – and emerged stronger.
“Dubai always bounces back quickly,” says Maadad. “Resilience is part of the UAE’s DNA.”
Para analis mengatakan dampak jangka panjang bagi Dubai dan UEA akan bergantung pada bagaimana konflik ini berkembang.
“Posisi Iran yang melemah bisa semakin meningkatkan daya tarik UEA,” kata Davidson.
Namun jika rezim di Iran itu tetap bertahan, ketegangan dengan negara‑negara Teluk bisa meningkat, ujar seorang bankir investasi kepada saya.
“Itu yang menjadi kekhawatiran. Jika salah satu bank atau institusi keuangan terkena serangan, maka sentimen dunia usaha bisa terdampak,” katanya.
Pada Rabu, militer Iran mengancam akan menargetkan kepentingan ekonomi dan perbankan yang terkait dengan AS dan Israel di kawasan, setelah sebuah bank Iran diserang.
Banyak perusahaan keuangan di Dubai kemudian meminta stafnya untuk mengevakuasi kantor.
Untuk saat ini, sebagian besar warga Dubai tetap waspada namun tetap menyimpan harapan.
Mereka menekankan bahwa kota ini telah melewati berbagai krisis sebelumnya— mulai dari krisis finansial global 2008 hingga pandemi pada 2020— dan muncul kembali dalam kondisi lebih kuat.
“Dubai selalu bangkit dengan cepat,” kata Maadad. “Ketangguhan adalah bagian dari DNA UEA.”
No Comments