Sumber gambar, NurPhoto via Getty Images
Waktu membaca: 11 menit
Jumlah pemudik menjelang Lebaran 2026 disebut menurun, sebut hasil survei Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan. Faktor ekonomi diduga kuat masih menjadi alasan masyarakat menahan diri untuk tidak pulang kampung seperti biasa.
Penurunan jumlah pemudik ini sudah terasa sejak 2025. Saat itu, angka pemudik merosot hingga hampir 50 juta orang setelah sempat melonjak drastis pada 2024 dengan asumsi sekitar 193 juta pemudik.
Situasi tersebut kembali terulang, yaitu dari 146,4 juta orang pemudik tahun lalu menjadi 143,9 juta orang pemudik tahun ini.
Hal itu terjadi di tengah klaim pemerintah mengenai pertumbuhan ekonomi yang baik.
Pengamat ekonomi dan kebijakan publik dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai situasi seperti ini sebenarnya sudah terlihat pascapandemi.
Namun dari tahun ke tahun, tekanan ekonomi yang berdampak pada lesunya daya beli juga berpengaruh.
Di sisi lain, survei dari Bank Indonesia pada awal 2026 juga memperlihatkan adanya kenaikan proporsi penggunaan pendapatan untuk tabungan.
“Masyarakat itu sudah mengantisipasi kondisi ekonomi ke depan akan sulit dengan banyak menabung. Jadi, kalau misalnya spending lebaran ini berkurang, salah satu faktornya karena masyarakat mengantisipasi situasi sulit ke depan,” kata Wijayanto.
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, dalam sidang kabinet paripurna tetap optimistis jumlah pemudik akan melampaui hasil survei.
“Angka ini memang menurun 1,75% dibandingkan survei pada tahun 2025 sekitar 146 juta. Namun demikian pada realisasi tahun 2025 justru mencapai 154 juta. Artinya mobilitas masyarakat pada masa lebaran cenderung melampaui angka survei,” ucap Dudy dilansir dari situs Kementerian Sekretariat Negara.
Sumber gambar, NurPhoto via Getty Images
Okie dan Ratna merupakan dua ibu yang memilih tidak mudik pada tahun ini karena sejumlah pertimbangan ekonomi.
Keputusan Okie tetap di rumah saja ketika perayaan Lebaran dibuat untuk pertama kalinya tahun ini.
Pemicunya adalah pemutusan hubungan kerja yang dialami suaminya pada Agustus 2025. Hal itu kemudian mengubah perencanaan keuangan keluarga.
“Dulu, bisa rutin ada budget tiap tahun mudik. Sekarang, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” ucap Okie.
Ratna punya alasan berbeda. Semula, ia dan suami masih berencana untuk berkendara dari Bekasi menuju Pekanbaru untuk berkumpul bersama keluarga besar pada Idul Fitri ini.
Namun memasuki Februari 2026, ia berpikir ulang mengingat anak bungsunya masuk SD dan diikuti kabar serangan AS ke Iran yang dikhawatirkan berimbas pada kenaikan harga BBM.
“Sebenarnya kalau uang sekolah itu sudah ada hitung-hitungannya. Tapi kan kalau baca berita itu, ada kabar krisis. Eh kok ini Amerika (perang) sama Iran, terus berita (dampaknya ke) BBM. Jadi, mikirnya ya in this economy, lebih baik ongkos mudiknya buat ditabung dulu karena enggak tahu ke depannya gimana,” tutur Ratna.
Dibandingkan periode yang sama pada 2025, jumlah penumpang mudik dari berbagai moda transportasi berkurang dari enam juta pemudik menjadi 5,99 orang yang melaju pulang kampung.
Pada 2026, moda perkeretaapian yang pergerakan penumpangnya meningkat dibandingkan periode H-8 sampai H-3 pada 2025, yakni mencapai 1.199.150 orang dari 1.070.699 orang.
Untuk moda yang paling banyak diminati tetap angkutan yang melibatkan penyeberangan. Dari 2025 hingga saat ini, jumlahnya selalu unggul dibandingkan moda transportasi lain.
Adapun pada 2026, pergerakan penumpang melalui angkutan sungai, danau, dan penyeberangan (SDP) juga naik tercatat 1.721.150. Tahun lalu, pergerakan penumpang pada periode yang sama mencapai 1.701.766.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menyebut telah memprediksi adanya kenaikan penumpang pada musim Lebaran 2026 ini. Karena itu, sejumlah hal dilakukan untuk memberi kemudahan.
Salah satunya, program stimulus transportasi berupa diskon tarif hingga 30 persen untuk lebih dari 1,28 juta kursi ekonomi komersial pada periode 14–29 Maret 2026. Nilai stimulus pemerintah ini sebesar Rp116,15 miliar.
Selain itu, KAI juga memperkuat Rail Ticketing System yang dirancang untuk menangani lonjakan transaksi selama periode penjualan tiket Lebaran dengan kapasitas antrean hingga 25.000 transaksi per menit sehingga proses pembelian tiket dapat berlangsung lebih stabil.
Adapun tujuan favorit pengguna kereta api pada periode Lebaran 2026 adalah Bandung, Yogyakarta, Semarang, Purwokerto, Surabaya, Malang, dan Jember.
Okie, warga Depok, yang tiap tahun melakukan perjalanan darat ke tiga kota sekaligus tiap Lebaran, kini tidak bisa menjalankan kebiasaan tersebut.
“Kondisi suami kena imbas layoff sejak Agustus kemarin, sampai sekarang belum dapat kerjaan tetap lagi. Saat ini, suami jadi driver online dulu dan saya jualan makanan online. Penghasilannya untuk kebutuhan sehari-hari,” ucap Okie.
Sebelumnya ketika suami Okie masih bekerja di sebuah perusahaan tambang di Kalimantan Selatan, mereka memiliki tabungan khusus untuk mudik.
Kisarannya sekitar Rp10 juta lebih untuk perjalanan dan uang untuk orang tua dan sanak saudara di kampung. Ada juga buah tangan yang rutin dibawa kembali ke Depok.
Rute perjalanannya pun cukup panjang. Dari Depok, Okie akan berhenti dulu di Bandung untuk mengunjungi ibu mertua.
Perjalanan pun berlanjut ke Surabaya untuk menjenguk ibunya. Setelah tiba di Surabaya, mereka akan singgah juga di Madiun beberapa hari kemudian untuk berziarah.
“Sejak layoff, jangan kan tabungan untuk mudik, saving rutin saja tidak memungkinkan karena pendapatan tidak menentu. Kami juga masih kontrak rumah yang dibayar bulanan. Jadi, pendapatan sekarang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja,” tutur Okie.
Ia mengaku akan merindukan momen kumpul ketika Lebaran.
Meski sibuk menyiapkan buah tangan dan harus menyisihkan uang untuk dibagikan pada keponakan dan saudara yang sudah sepuh, Okie merasa semua itu terbayar dengan suasana ramai dan rukun yang dijumpainya saat mudik.
Ratna, warga Bekasi, justru sudah menyiapkan dana untuk keperluan mudik. Namun belakangan, rencana perjalanan darat hingga Pekanbaru dibatalkannya.
“Ada antrean BBM katanya, jadi takut juga kalau di perjalanan malah habis untuk antre BBM atau sampai di sana malah kena dampak panic buying. Katanya juga bakal ada krisis segala setelah Lebaran, mikirnya udah lah uangnya disimpan dulu. Tahun ini, silaturahmi video call,” ungkap Ratna.
Sebelumnya, ia sempat memikirkan opsi untuk naik transportasi umum berkaitan kelangkaan BBM. Akan tetapi, harga tiket yang dinilainya sudah melambung tidak masuk akal membuatnya mengurungkan diri.
Adiknya yang tinggal di Bogor, lanjut Ratna, juga memutuskan untuk tidak mudik karena situasi yang tidak pasti ini.
Sumber gambar, AFP via Getty Images
Selain itu, Ratna mengaku beberapa bulan lagi anak bungsunya masuk SD sehingga akan ada pengeluaran tambahan yang makin menguatkannya untuk tidak mudik dulu.
“Uang sekolahnya sih sudah. Tapi ada aja printilannya yang kadang enggak terduga kalau baru masuk sekolah. Walau sudah ada hitung-hitungannya, kita kan enggak tahu gimana nanti,” kata Ratna.
Keputusan menabung ini didukung juga oleh suami. Meski masih memiliki penghasilan tetap, langkah berhemat ini dirasa keduanya lebih bijak. Apalagi mengingat masih ada cicilan rumah dan kendaraan yang terus berjalan.
“Sempat diprotes juga sama orang tua kok enggak mudik. Setelah dijelasin, mereka paham walau sedih anak-anaknya enggak pulang Lebaran ini. Aku juga sedih biasanya kan ngumpul.”
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti menilai jumlah pemudik yang terus berkurang selama dua tahun berturut-turut ini jelas dipengaruhi faktor ekonomi.
Terlebih pada tahun ini, persoalan global turut berkontribusi pada keputusan personal yang diambil masyarakat terkait perekonomian.
“Saat ini, banyak yang memutuskan mending tidak mudik dan dia bisa saving money untuk bisa bertahan berapa bulan ke depan. Memang saat ini, pemerintah bilang tidak akan menaikkan harga BBM. Tapi potensi kenaikan itu ada dan masyarakat sudah antisipasi,” ujar Esther.
Meningkatnya harga minyak global, lanjut dia, diprediksi akan berpengaruh juga pada Indonesia. Ketika harga BBM melonjak, maka memicu kenaikan biaya transportasi hingga berbagai harga barang-barang, termasuk bahan pokok.
Apalagi ketika mudik, pengeluarannya bukan hanya sebatas tiket atau ongkos perjalanan.
“Mudik itu harus bawa oleh-oleh, bekal di jalan, uang yang harus dibagikan. Belum lagi penginapan, jika dibutuhkan. Perputaran uangnya memang tinggi, tapi bagi masyarakat di situasi seperti ini, saving menjadi hal yang paling bijak.”
Karena itu, insentif yang diberikan pemerintah seperti diskon harga tiket, diskon biaya tol, dan lain-lain, tetap tidak menarik minat masyarakat untuk meramaikan mudik yang biasanya menjadi tradisi.
“Kalau memang ingin memberi insentif itu ke hal-hal yang lebih generate income, lebih ke penciptaan lapangan pekerjaan yang lebih produktif sehingga ini jangka panjang. Bukan hanya insentif konsumtif saat masyarakat sulit untuk produktif karena keadaan,” tutur Esther.
Sumber gambar, NurPhoto via Getty Images
Menurut Esther, respons masyarakat saat ini menunjukkan pemerintah belum membangun kokoh fundamental ekonomi sehingga mudah goncang, terutama saat ada tekanan ekonomi global.
Fundamental kuat yang dimaksudnya adalah tidak selalu bergantung dari luar.
Misalnya saja, persoalan minyak di Indonesia sebenarnya punya potensi bertahan apabila memiliki perusahaan pengolahan yang mumpuni dan fokus pada pemenuhan dalam negeri sebelum menghabiskan untuk ekspor.
Meski pada beberapa komoditas, ekspor ini bisa membantu penguatan fundamental ekonomi ketimbang menghabiskan keuangan negara untuk impor.
Dengan demikian, Indonesia setidaknya bisa bertahan ketika ada tekanan ekonomi global, katanya.
Ia memberi contoh Malaysia dan Singapura yang mampu stabil karena mengurangi ketergantungan dari luar.
Persoalannya, fundamental ekonomi yang rapuh ini perlahan menggerogoti masyarakat sehingga diliputi kekhawatiran yang berpengaruh pada lesunya daya beli dan melambatnya roda perekonomian, papar Esther.
Sumber gambar, NurPhoto via Getty Images
Ia menggambarkan di sekitarnya banyak pedagang yang mengeluhkan omset penjualannya menurun drastis.
Ditambah lagi, maraknya pemutusan hubungan kerja dan sulitnya memperoleh kerja lagi yang berdampak pada pendapatan masyarakat ikut tergerus.
Dari daya beli yang turun dan berpengaruh pada turunnya jumlah pemudik ini pun menimbulkan imbas lanjutan pada aktivitas ekonomi daerah tujuan.
Jika biasanya, para pedagang oleh-oleh atau penjual musiman kebanjiran pembeli yang berasal dari pemudik, kini mereka akan sepi pemasukan, ujarnya.
Semuanya, sambung Esther, seperti lingkaran setan yang tidak putus saat fundamental ekonominya tidak ditangani dengan tepat.
Secara terpisah, pakar ekonomi dan kebijakan publik dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menambahkan, meningkatnya pengeluaran yang dipicu kenaikan harga tidak sebanding dengan pertambahan pendapatan masyarakat.
Menurutnya, inflasi yang terus merangkak juga berpengaruh sehingga daya beli masyarakat makin lemah.
“Orang-orang akhirnya memilih mengeluarkan uang pun untuk kebutuhan primer. Seperti yang paling terdekat, kebutuhan tahun ajaran baru sekolah anak. Gaji yang tidak naik, tapi pengeluaran terus melonjak kan membuat masyarakat makin menahan spending untuk antisipasi masa depan,” kata Wijayanto.
Langkah masyarakat ini disebutnya bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi ke depan.
Untuk kuartal I, Januari-April, proyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5% kemungkinan tercapai meski angka pemudik menurun.
“Ini karena ada dampak ikutan Natal dan Tahun Baru sehingga berkurangnya pemudik belum berpengaruh.”
Problemnya akan terasa saat masuk kuartal II, Mei-Agustus.
“Berat ini upayanya untuk kuartal II karena sudah tidak ada efek dari Nataru dan Ramadhan. Sedangkan, Lebaran prediksinya perputaran uang ikut berkurang karena warga memilih tidak mudik,” papar Wijayanto.
Insentif dari pemerintah pun rupanya tidak manjur.
Perputaran ekonomi yang berkurang ini, kata Wijayanto, bisa memperlambat aktivitas ekonomi.
Bahkan efeknya juga akan dirasakan ekonomi daerah mengingat perputaran uang di musim mudik ini menjadi momen distribusi uang dari kota ke desa. Kesenjangan ekonomi pun berpotensi terjadi.
Senada dengan Esther, Wijayanto pun menyarankan perbaikan iklim usaha agar tercipta lapangan kerja yang memadai. Selain itu, disiplin fiskal juga harus dijaga.
Perputaran uang pada periode mudik Lebaran 2026 ini diprediksi bisa mencapai Rp 148 triliun hingga Rp 160 triliun dari asumsi pemudik yang mencapai 143,9 juta orang. Asumsi ini meningkat dibanding 2025 yang perputaran uangnya sekitar Rp137,97 triliun hingga Rp145 triliun.
Perputaran uang tahun ini bisa lebih tinggi apabila konsumsi saat Ramadhan ikut diperhitungkan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto meyakini perputaran uang pada mudik Lebaran 2026 ini tetap stabil.
Pemerintah pun meluncurkan program “Belanja di Indonesia Aja” (BINA) periode Ramadhan-Idul Fitri 2026 untuk menjaga daya beli masyarakat dan memacu pertumbuhan ekonomi nasional. Program ini ditargetkan mencapai nilai transaksi hingga Rp53 triliun.
Program ini akan berlangsung selama 25 hari, yakni dari 6-30 Maret 2026 dengan melibatkan puluhan ribu gerai ritel di 414 pusat perbelanjaan di seluruh Indonesia.
“Kami berharap ini akan terus meningkatkan konsumsi dalam negeri,” ucap Airlangga.
Selain itu, Airlangga juga mengumumkan total anggaran untuk stimulus perekonomian periode Lebaran 2026 mencapai Rp 911 miliar. Dana tersebut meliputi diskon transportasi untuk tiket kereta api, kapal laut, dan pesawat.
Ada juga bantuan untuk sebanyak 35,04 juta keluarga penerima manfaat (KPM) selama Ramadhan dan Idul Fitri 2026. Program menggelontorkan Rp14,09 triliun untuk menjaga ketahanan pangan masyarakat selama Ramadhan.
No Comments